Kamis, 26/03/2026 17:59 WIB

Badan Geologi Sebut Sinkhole Situjuah Unik, Terdapat Sungai Bawah Tanah





Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik

Gambar tanah amblas atau sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Foto: Geologi ESDM)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan sejumlah keunikan terkait fenomena sinkhole atau tanah amblas yang membentuk lubang di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, mengatakan bahwa fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua merupakan pseudokarst atau kars semu.

Dalam kaji cepat yang dilakukan pada 9 hingga 11 Januari 2026, lanjutnya, Badan Geologi juga menemukan keunikan lainnya yaitu sinkhole terjadi di material vulkanik (endapan gunung api) dan bukan di batu gamping (kars).

"Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik," kata Taufiq dalam keterangan dikutip Antara Minggu (8/2).

"Biasanya sinkhole ini terjadi di batu gamping, tapi sinkhole Situjuah terjadi di batuan kapur," ujar Taufik lagi.

Terdapat sungai bawah tanah yang membentuk rongga di material vulkanik (tuflapili), mekanisme utamanya karena erosi buluh yaitu erosi internal yang mengikis partikel tanah dan membentuk saluran-saluran atau "pipa" alami.

Selanjutnya, peneliti juga menemukan lubang sinkhole terisi air dan terlihat kesan berwarna biru pada air. Fenomena ini pada bentang alam kars disebut dengan cenote. Temuan terakhir ialah derajat keasaman air (pH) termasuk kategori agak asam hingga netral.

"Karena keunikan ini Badan Geologi menamainya dengan Sinkhole Situjuah," kata Taufiq.

Secara umum, terdapat dua faktor yang menyebabkan munculnya fenomena sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota yakni faktor air dan stabilitas tanah. Untuk faktor air dipengaruhi oleh suplai air yang melimpah (hujan dan air tanah) yang terus-menerus menggali, serta kekuatan air tanah yang mengikis tanah dari dalam secara perlahan.

Sementara, untuk faktor stabilitas tanah berkaitan dengan jenis tanah di daerah tersebut (tuf/abu vulkanik) yang mudah terkikis oleh air. Kemudian adanya jalur retakan-retakan di dalam tanah yang mempermudah proses erosi buluh, serta perubahan tekanan rongga di bawah ambang batas toleransi sehingga tidak kuat menahan beban di atasnya.

Sementara itu, Taufik memaparkan dua opsi terkait solusi penanganan fenomena sinkhole Situjuah. "Pertama, biarkan terbuka atau melebar alami, dan yang kedua melakukan pencegahan agar tidak melebar," kata dia dikutip Antara Minggu (8/2).

Taufik menjelaskan untuk opsi pertama terdapat beberapa langkah yang mesti dilakukan yaitu tidak menutup sinkhole, menghitung kestabilan lubang dan tentukan radius aman secara detail dan terukur.

Kemudian membiarkan air mengalir keluar melalui saluran drainase, tidak membiarkan air meresap kembali ke tanah sekitar sinkhole serta mengalirkan air ke bagian stabil seperti sungai di hilir, atau memanfaatkannya untuk kebutuhan air baku warga dengan terlebih dahulu mengkaji kelayakannya.

Sementara, untuk opsi kedua atau mencegah sinkhole agar tidak melebar membutuhkan dukungan dari ahli teknik sipil untuk memperkuat tebing dengan rekayasa teknis.

Terakhir, perlu memperhitungkan dan merencanakan jumlah air yang boleh lewat sungai bawah tanah agar tidak mengganggu kestabilan di hulu dan hilir sinkhole, ujar Taufiq.

Dalam laporan kajian cepat yang disampaikan Badan Geologi terdapat beberapa poin upaya pengurangan risiko sinkhole. Pertama, mengenali gejala-gejala awal sinkhole. Kedua, mengurangi air yang meresap ke tanah secara berlebihan terutama di area yang dicurigai adanya sungai bawah tanah.

Badan Geologi juga menyampaikan agar memilih dan menanam tanaman yang tepat di area yang berisiko terutama tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, serta memperhatikan saluran air rumah dan memastikan air buangan tidak merembes ke tanah yang berisiko sinkhole.

Taufiq juga mengimbau masyarakat agar tidak mempercayai isu air sinkhole berkhasiat. Sebab, berdasarkan uji laboratorium, air ini sama dengan air pada umumnya. Kemudian, terkait air yang berwarna biru terjadi karena partikel-partikel kecil, atau zat terlarut di dalam air menghamburkan panjang gelombang warna biru yang ditangkap mata manusia.

"Air berwarna biru adalah fenomena alam dan bukan hal mistis," kata dia menegaskan.(Ant)

KEYWORD :

Badan Geologi Sinkhole Situjuah Fenomena Sinkhole Lubang Misterius Sumatera Barat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :