Ilustrasi proses penambalan gigi (Foto: The Straits Times)
Singapura, Jurnas.com - Dokter gigi di Singapura akan secara bertahap mengurangi penggunaan merkuri dalam tambalan gigi, tetapi tidak akan menghentikannya sepenuhnya.
Meski bahan sewarna gigi seperti resin komposit, porselen (keramik), dan glass ionomer kini menjadi pilihan utama dalam banyak kasus, sejumlah dokter gigi mengatakan tambalan amalgam berbasis merkuri masih ideal untuk lubang gigi yang dalam, terutama ketika sulit menjaga area gigi tetap kering.
Tambalan amalgam ini mengandung sekitar 50 persen merkuri dan dinilai lebih tahan terhadap kelembapan saat proses pemasangan.
Pada November lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan penghentian bertahap penggunaan amalgam gigi berbasis merkuri pada tambalan gigi paling lambat 2034, sebuah langkah yang akan mengubah praktik kedokteran gigi secara global.
WHO memasukkan merkuri sebagai salah satu dari 10 bahan kimia paling berbahaya bagi kesehatan masyarakat, dan menyebutnya beracun bagi kesehatan manusia. Pengurangan penggunaan amalgam juga dipandang sebagai upaya melindungi lingkungan dari emisi merkuri.
Dikutip dari Straits Times pada Sabtu (7/2), Singapore Dental Association (SDA) menyatakan bahwa komunitas dokter gigi di Singapura sejalan dengan arah kebijakan global, namun tetap mengurangi amalgam sambil memastikan pasien tetap menerima perawatan yang aman, efektif, dan sesuai kebutuhan.
Amalgam masih digunakan saat ini, tetapi hanya dalam sejumlah kecil kasus yang memang membutuhkan pertimbangan klinis khusus.
Dr Alethea Foong, konsultan prostodonsia di Departemen Restorative Dentistry National Dental Centre Singapore, menjelaskan pemilihan bahan tambalan biasanya bergantung pada kondisi klinis seperti lokasi gigi, ukuran lubang, risiko karies, serta kebutuhan pasien.
Dia mengatakan amalgam biasanya dipakai untuk memperbaiki gigi geraham belakang yang menahan beban kunyah besar, ketika ketahanan dan umur pakai lebih penting dibanding estetika.
Bahan ini juga lebih dipilih saat kontrol kelembapan sulit, pada pasien dengan risiko karies tinggi atau kebersihan mulut buruk, serta ketika biaya dan waktu perawatan menjadi pertimbangan.
Sebagai alternatif, resin komposit kini menjadi bahan paling luas digunakan, terutama untuk gigi belakang, karena tampilannya lebih alami dan kekuatannya cukup baik.
Namun, Dr Foong menekankan komposit memiliki risiko kegagalan tambalan dan karies sekunder lebih tinggi dibanding amalgam. Selain itu, pemasangannya memerlukan kondisi gigi yang benar-benar kering dan teknik yang lebih sensitif.
Pilihan antara amalgam merkuri dan bahan lain pada akhirnya bergantung pada evaluasi dokter gigi terhadap kondisi mulut pasien dan kecocokan bahan untuk kasus tertentu.
Sebagai contoh, pada pasien dengan tekanan gigitan kuat, bahan yang lebih kokoh seperti amalgam bisa memberi manfaat tambahan. Namun keputusan tersebut juga mempertimbangkan pasien memiliki alergi terhadap bahan lain atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Sementara itu, tambalan amalgam yang sudah terpasang pada masyarakat, termasuk pasien lansia, dianggap stabil dan tahan lama jika dirawat dengan baik. Meski begitu, tidak ada data lokal tentang jumlah warga Singapura yang masih memiliki tambalan amalgam, kata juru bicara Fakultas Kedokteran Gigi National University of Singapore (NUS).
Dia menjelaskan amalgam melepaskan sejumlah kecil merkuri dalam bentuk uap, tetapi jumlahnya kecil dan kecil kemungkinannya menimbulkan masalah kesehatan serius.
Uap dan ion merkuri dilepaskan terutama melalui penguapan terus-menerus dari permukaan tambalan, serta akibat korosi dan keausan mekanis dari aktivitas mengunyah, menyikat gigi, dan konsumsi makanan atau minuman panas.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
tambalan gigi merkuri amalgam gigi Singapura WHO hapus amalgam

























