Penelitian menemukan buaya air asin pernah memiliki wilayah jelajah yang jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Buaya air asin ternyata pernah memiliki wilayah jelajah yang jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Penelitian DNA terbaru menunjukkan bahwa buaya yang dahulu hidup di Seychelles merupakan populasi paling barat dari buaya air asin yang berhasil menyeberangi Samudra Hindia sebelum akhirnya punah.
Populasi buaya yang kini telah punah di kepulauan Seychelles, Samudra Hindia bagian barat, sebelumnya kerap disangka sebagai buaya Nil atau bahkan spesies tersendiri. Namun, studi genetik mengonfirmasi bahwa mereka kemungkinan besar merupakan Crocodylus porosus, buaya air asin yang kini hidup di India, Asia Tenggara, Australia, dan kawasan Pasifik barat.
Hasil penelitian yang dipublikasikan pada 28 Januari di jurnal Royal Society Open Science menunjukkan bahwa buaya-buaya tersebut adalah populasi paling barat dari spesies buaya air asin. Untuk mencapai Seychelles, nenek moyang mereka diperkirakan berenang atau terbawa arus sejauh setidaknya 3.000 kilometer melintasi Samudra Hindia.
“Pendiri populasi Seychelles kemungkinan hanyut sejauh 3.000 kilometer untuk mencapai kepulauan terpencil tersebut, bahkan mungkin lebih jauh,” ujar Frank Glaw, salah satu penulis studi. Temuan ini menegaskan kemampuan jelajah ekstrem buaya air asin.
Analisis penanda genetik menunjukkan kecocokan kuat antara buaya Seychelles dan buaya air asin modern. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah sebaran buaya air asin dahulu membentang hingga 12.000 kilometer dari timur ke barat sebelum populasi Seychelles dimusnahkan.
Pola genetik tersebut juga menunjukkan bahwa populasi buaya air asin tetap saling terhubung selama periode panjang meski terpisah jarak yang sangat jauh. Menurut para peneliti, hal ini mencerminkan mobilitas tinggi spesies tersebut.
Untuk dapat menyebar sejauh itu, buaya air asin harus menyeberangi ribuan kilometer lautan terbuka. Kemampuan tersebut dimungkinkan oleh adaptasi khusus, termasuk kelenjar garam di lidah yang membantu mereka bertahan hidup di lingkungan laut.
BPBD Sukabumi Himbau Warga Tenang dan Waspada
Adaptasi ini diduga memungkinkan buaya air asin menyebar luas di kawasan Indo-Pasifik dan membatasi terbentuknya spesies baru. Meski demikian, para peneliti menilai perbedaan regional antarpopulasi masih mungkin ada.
Studi lanjutan dengan menganalisis DNA inti sel buaya, bukan hanya DNA mitokondria yang diwariskan dari induk betina, diperlukan untuk mengungkap variasi genetik yang lebih halus. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang sejarah evolusi buaya air asin. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Buaya Air Asin Samudera Hindia kepulauan Seychelles Crocodylus porosus

















