Jum'at, 06/02/2026 22:18 WIB

Seks di Luar Angkasa Dikaji, Drakor "When the Stars Gossip" Jadi Kenyataan?





Masih ingat dengan drama korea `When the Stars Gossip` yang dibintangi Lee Min-ho dan Gong Hyo-jin?

Potret bumi dari luar angkasa (Foto: Pexels.Pixabay)

Jakarta, Jurnas.om - Masih ingat dengan drama korea `When the Stars Gossip` yang dibintangi Lee Min-ho dan Gong Hyo-jin? Drakor tersebut mengisahkan dua astronot yang secara dramatis melakukan hubungan seks di stasiun luar angkasa dan berujung kehamilan.

Cerita fiktif ini berpeluang terwujud di dunia nyata. Pasalnya, ilmuwan baru-baru ini sedang mengkaji kemungkinan melakukan hubungan seks di luar angkasa, seiring dengan meningkatnya industri antariksa swasta.

Dikutip dari Earth pada Jumat (6/2), pakar embrio Giles Palmer dalam laporannya mengatakan bahwa 50 tahun terakhir menjadi pembuktian bahwa terobosan ilmiah sukses menembus batas biologis dan fisik. Pertama, pendaratan di Bulan. Kedua, pembuktian fertilisasi manusia secara in vitro.

"Kini, lebih dari setengah abad kemudian, kami berargumen bahwa dua revolusi itu sedang bertabrakan dalam realitas yang praktis namun masih kurang dieksplorasi," kata Palmer.

"Luar angkasa menjadi tempat kerja dan destinasi, sementara teknologi reproduksi berbantu telah berkembang pesat, semakin otomatis, dan semakin mudah diakses," dia menambahkan.

Hingga kini belum ada standar luas yang diterima industri terkait risiko kesehatan reproduksi di luar angkasa. Ini mencakup persoalan seperti kehamilan dini yang tidak disengaja selama perjalanan, dampak radiasi dan gravitasi mikro terhadap kesuburan, hingga batas etika yang seharusnya diterapkan.

Luar angkasa digambarkan sebagai lingkungan yang keras dan tidak bersahabat bagi tubuh manusia. Tantangannya termasuk gravitasi yang berubah, radiasi kosmik, dan gangguan ritme sirkadian semuanya dikenal sebagai faktor yang dapat mengganggu sistem biologis.

Studi pada hewan menunjukkan paparan radiasi jangka pendek dapat mengacaukan siklus menstruasi dan meningkatkan risiko kanker. Namun, data jangka panjang pada manusia masih minim, terutama terkait kesuburan pria.

Laporan Palmer juga menyoroti kemajuan teknologi reproduksi berbantu atau ART (assisted reproductive technologies), yang kini semakin ringkas, otomatis, dan mudah dipindahkan.

Ini membuka kemungkinan bahwa teknologi tersebut suatu hari bisa digunakan untuk riset reproduksi atau perawatan medis terkait kesuburan di luar angkasa.

Meski gagasan reproduksi manusia di luar angkasa masih terasa jauh, laporan ini menambahkan bahwa perencanaan etis tidak bisa menunggu. Mesti ada prosedur dan pakem apabila, misalnya, terjadi kehamilan dalam misi panjang.

"Teknologi IVF di luar angkasa tidak lagi murni spekulatif. Ini adalah perpanjangan yang dapat diperkirakan dari teknologi yang sudah ada," ujar Palmer.

Sementara itu, ilmuwan NASA, Dr. Fathi Karouia menekankan bahwa kesehatan reproduksi tidak boleh lagi menjadi titik buta kebijakan.

"Kolaborasi internasional sangat mendesak untuk menutup kesenjangan pengetahuan dan membangun pedoman etis yang melindungi astronot profesional maupun swasta, dan pada akhirnya menjaga masa depan manusia saat bergerak menuju keberadaan jangka panjang di luar Bumi," kata dia.

KEYWORD :

seks di luar angkasa kesehatan astronot manusia drakor when the stars gossip




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :