Jum'at, 06/02/2026 19:07 WIB

Ilmuwan Identifikasi Kodok Mini di Guyana Spesies Baru





Peneliti memastikan bahwa seekor kodok kecil yang hidup di dataran tinggi Guyana ternyata bukan bagian dari spesies lain, melainkan benar-benar spesies baru

Kodok Wokomung di Guyana (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Para peneliti akhirnya memastikan bahwa seekor kodok kecil yang hidup di dataran tinggi Guyana ternyata bukan bagian dari spesies lain, melainkan benar-benar spesies baru.

Dikutip dari Earth pada Jumat (6/2), kodok ini kini resmi diberi nama Adhaerobufo wokomungensis, setelah bertahun-tahun sempat disangka sama dengan kerabatnya yang mirip secara fisik.

Penemuan ini berawal dari pemeriksaan ulang koleksi kodok di museum. Spesimen dari wilayah Wokomung dibandingkan dengan catatan lapangan dan label lama, hingga akhirnya terlihat bahwa populasi ini punya ciri khas tersendiri.

Proses pengecekan tersebut dilakukan di University of Lodz oleh ahli amfibi Dr. Philippe J. R. Kok, yang selama ini banyak meneliti kodok dan katak di wilayah Amerika Selatan.

Perbedaan utama mulai terlihat dari detail kecil pada tubuh kodok, terutama di sekitar mulut dan tangan. Kodok Wokomung dewasa tidak memiliki garis putih terang di bibir bawah seperti kerabatnya.

Selain itu, kodok jantan memiliki benjolan kasar di antara tiga jari pertamanya, ciri yang mudah terlewat jika hanya dilihat sekilas di alam.

Kodok ini memiliki struktur kecil bernama prepollex, semacam tonjolan mirip ibu jari yang membantu pegangan saat kawin. Karakter-karakter seperti ini sering tersembunyi dalam survei cepat, sehingga kesalahan identifikasi bisa bertahan lama sampai penelitian mendalam dilakukan.

Bukti genetik kemudian memperkuat kesimpulan tersebut. Analisis DNA menunjukkan jarak genetik sekitar lima persen dibandingkan spesies yang mirip, angka yang sejalan dengan konsep bahwa spesies bisa dianggap berbeda ketika populasi sudah lama berevolusi terpisah tanpa lagi bercampur secara genetik.

Namun, DNA saja belum cukup untuk memetakan sebaran kodok ini secara pasti. Para ilmuwan menekankan bahwa survei lanjutan masih dibutuhkan karena bisa saja spesies ini hidup juga di wilayah lain yang belum pernah diteliti.

Petunjuk lain datang dari cairan yang dikeluarkan kodok saat stres. Spesies Wokomung menghasilkan cairan putih dari kelenjar racun di belakang mata, yang disebut kelenjar parotoid.

Ini berbeda dari banyak kerabatnya dalam genus lain yang biasanya mengeluarkan cairan kuning. Jika pola ini konsisten, warna racun bisa menjadi cara cepat mengenali spesies di lapangan tanpa tes genetik.

Yang menarik, kodok ini juga punya perilaku yang tidak biasa. Hewan ini tidak hidup seperti kodok pada umumnya yang sering terdengar bersuara keras di dekat kolam.

"Spesies ini aktif di siang hari dan hidup di serasah daun di hutan pegunungan dengan kanopi sedang-tinggi," tulis Dr. Kok.

Pada malam hari, peneliti bahkan menemukan Wokomung dewasa menempel pada vegetasi hidup sekitar 0,4 meter di atas tanah. Sampai sekarang, belum ada suara panggilan yang pernah direkam dari spesies ini, sehingga cara komunikasinya masih menjadi misteri.

Habitat kodok ini berada di kawasan Pantepui, wilayah pegunungan terpencil di Guiana Shield. Tebing curam dan hutan rendah yang luas membuat populasi di tiap puncak terisolasi, sehingga evolusi berlangsung terpisah dan menghasilkan banyak spesies endemik yang hanya ada di satu lokasi kecil.

Saat ini, Adhaerobufo wokomungensis baru diketahui dari tiga individu yang dikoleksi pada Juni 2012 di ketinggian sekitar 1.570 meter.

KEYWORD :

spesies kodok baru Guyana dataran tinggi Adhaerobufo wokomungensis kodok wokomung




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :