Ilustrasi - Mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadan (Foto: Pexels/PNW Production)
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Agama memastikan akan menggelar sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa, 17 Februari 2026. Menjelang kepastian awal puasa Ramadan, umat Islam mulai mempersiapkan diri menyambut bulan suci dari berbagai sisi.
Selain kesiapan fisik, persiapan batin juga menjadi perhatian penting. Salah satu yang kerap dianjurkan adalah saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.
Memaafkan sering terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan. Setiap orang mungkin pernah berada pada posisi terluka, kecewa, atau merasa diperlakukan tidak adil.
Meski demikian, memaafkan kerap dipilih sebagai langkah untuk menenangkan diri. Dengan melepaskan emosi negatif, hati menjadi lebih lapang dalam menghadapi bulan suci Ramadan.
Dalam ajaran Islam, sikap pemaaf memiliki pijakan yang jelas. Al-Qur’an mendorong umat untuk mengambil jalan maaf, berbuat kebaikan, dan tidak larut dalam konflik yang berkepanjangan.
Anjuran terebut di antaranya termaktub dalam Al-Qur`an Surah Al-A`raf ayat 199.
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ
Puasa Ramadan 2026 Berapa Hari Lagi?
Syekh Nawawi al-Bantani, dalam Marah Labid, menjelaskan bahwa makna pemaaf mencakup kesediaan menyambung hubungan yang terputus dan tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan. Penjelasan ini menempatkan memaafkan sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni sosial.
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, pandangan tersebut menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Sebaliknya, memaafkan dipahami sebagai sikap berpaling dari beban emosi yang dapat mengganggu ketenangan batin.
Lebih jauh, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa menyambung kembali hubungan dengan orang yang memutuskannya merupakan wujud sikap pemaaf. Memberi kepada orang yang tidak memberi adalah bentuk nyata dari perbuatan baik. Sementara itu, memaafkan orang yang telah menzalimi berarti memilih untuk berpaling dari sikap dan perilaku orang-orang yang bodoh.
Teladan ini juga tercermin dalam sikap Nabi Muhammad SAW yang dikenal memilih memaafkan, bahkan dalam kondisi sulit. Sikap tersebut dipandang sebagai bentuk kekuatan dalam mengendalikan diri.
Dalam sebuah hadis, HR Musli, disebutkan bahwa sikap pemaaf justru mendatangkan kemuliaan. Pandangan ini memperkuat anggapan bahwa memaafkan memiliki nilai yang tinggi, baik secara spiritual maupun sosial.
Karena itu, menjelang Ramadan, anjuran saling memaafkan kerap dimaknai sebagai langkah awal menata hati. Dengan hati yang lebih bersih, ibadah di bulan suci diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang dan khusyuk. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Jelang Ramadan Saling Memafkan Ramadan 2026 Persiapan Menyambut Ramadan





















