Ilustrasi suplemen omega-3 (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Penelitian baru menemukan bahwa suplemen omega-3 yang dikonsumsi setiap hari dapat memperlambat ukuran penuaan biologis pada orang lanjut usia, setidaknya berdasarkan penanda molekuler tertentu di dalam darah.
Bukti ini berasal dari pengamatan terhadap penanda penuaan berbasis darah yang dilacak selama beberapa tahun pada kelompok lansia sehat di berbagai negara Eropa.
Perubahan tersebut didokumentasikan oleh Dr. Heike A. Bischoff-Ferrari melalui program DO-HEALTH, yang menunjukkan adanya perlambatan konsisten pada beberapa `jam` penuaan berbasis DNA, sebagaimana dikutip dari Earth pada Kamis (5/2).
Efeknya memang tergolong kecil, hanya setara beberapa bulan penuaan biologis selama periode tiga tahun, dan tidak muncul pada semua ukuran penuaan yang diuji.
Pola yang tidak merata ini menjadi batas penting, sekaligus menegaskan bahwa penemuan tersebut tidak bisa diartikan sebagai anti-aging secara mutlak.
Untuk memahami konteksnya, para ilmuwan menjelaskan bahwa darah membawa jejak kimia tentang tubuh bekerja dari waktu ke waktu, termasuk jejak yang dapat mencerminkan penuaan biologis.
Salah satu jejak tersebut adalah DNA methylation, yaitu penempelan label kimia kecil pada DNA yang berperan mengatur aktivitas gen.
Sejak 2013, penelitian menunjukkan bahwa pola metilasi dapat dikombinasikan untuk memperkirakan usia biologis seseorang. Dari sini berkembang konsep epigenetic clocks, yaitu sistem penilaian yang menggunakan pola DNA untuk mengukur seberapa cepat proses penuaan berlangsung.
Beberapa jam penuaan bahkan dirancang untuk mengukur laju penuaan, bukan sekadar menyesuaikan usia kalender. Salah satunya adalah DunedinPACE, yang menilai seberapa cepat perubahan terkait usia menumpuk dari waktu ke waktu.
Dalam analisis DO-HEALTH, tim peneliti membandingkan sinyal penuaan dalam darah sejak awal studi hingga tiga tahun kemudian. Hasilnya, 777 peserta menunjukkan perlambatan pada tiga dari empat ukuran penuaan biologis ketika mereka mengonsumsi suplemen omega-3.
“Spesifisitas ini menggembirakan dan mendukung gagasan bahwa strategi nutrisi yang terarah dapat memiliki efek penuaan epigenetik yang berbeda,” tulis Bischoff-Ferrari.
Namun, dia juga menekankan bahwa temuan ini masih terbatas karena yang diukur adalah pembacaan jam biologis, bukan hasil klinis jangka panjang seperti penurunan fungsi tubuh, kecacatan, atau angka harapan hidup.
Salah satu temuan paling jelas muncul ketika peserta mengombinasikan omega-3 dengan vitamin D dan latihan fisik, bukan hanya satu intervensi saja. Dalam kombinasi ini, peserta mengonsumsi 2.000 IU vitamin D dan 1 gram omega-3 per hari, serta menjalani latihan kekuatan 30 menit sebanyak tiga kali seminggu.
Kombinasi tersebut tampak paling kuat pada satu ukuran penuaan tertentu, yang menunjukkan bahwa jam penuaan berbeda mungkin bereaksi pada jalur biologis yang berbeda pula. Menariknya, vitamin D saja dan olahraga saja tidak banyak mengubah pembacaan jam, sehingga omega-3 diduga menjadi faktor utama.
Secara biologis, omega-3 diketahui masuk ke membran sel dan dapat mengubah cara sel mengirim serta menerima sinyal kimia. Jika sinyal inflamasi mereda, sel dapat menyesuaikan tanda metilasi DNA, yang pada akhirnya memengaruhi skor penuaan yang terukur.
Suplemen omega-3 umumnya mengandung dua jenis lemak utama, yaitu EPA dan DHA. Meski mekanismenya masuk akal, penanda darah mencerminkan banyak organ sekaligus, sehingga bagian tubuh mana yang paling berperan dalam perubahan ini masih belum jelas.
Efek omega-3 terlihat lebih kuat pada mereka yang sejak awal memiliki kadar omega-3 darah lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa status nutrisi awal dapat memengaruhi hasil, sehingga temuan ini belum tentu berlaku sama pada orang muda atau populasi dengan pola makan berbeda.
Para peneliti juga menyebut bahwa hasil ini tidak berarti semua orang harus langsung mengonsumsi suplemen. Omega-3 dapat memengaruhi pembekuan darah, sementara vitamin D dosis tinggi dapat meningkatkan kadar kalsium yang berisiko membebani ginjal dan jantung.
Orang yang menggunakan pengencer darah, memiliki penyakit ginjal, atau mengonsumsi banyak suplemen sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menambah asupan baru.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Aging.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
suplemen omega-3 menunda penuaan jam biologis
























