Kangguru raksasa prasejarah di Australia (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Australia pada masa lampau pernah dihuni kanguru raksasa yang ukurannya jauh melampaui spesies modern. Fosil menunjukkan beberapa di antaranya memiliki bobot lebih dari 200 kilogram, bahkan ada yang mendekati 250 kilogram.
Ukuran sebesar itu memunculkan pertanyaan besar, `apakah hewan seberat itu masih bisa bergerak dengan cara melompat, atau justru harus memakai pola gerak lain?`
Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan meyakini bahwa melompat memiliki batas berat tertentu, sebagaimana dikutip dari Earth pada Kamis (5/2).
Logikanya sederhana, semakin besar tubuh hewan, semakin besar pula tekanan yang diterima tulang, otot, dan tendon saat mendarat maupun lepas landas. Pada mamalia besar, cara umum untuk mengurangi tekanan adalah dengan berdiri lebih tegak, sehingga gaya yang bekerja pada sendi menjadi lebih pendek.
Namun, strategi itu tidak sepenuhnya berlaku bagi hewan berkaki dua yang melompat seperti kanguru. Melompat justru membutuhkan posisi kaki yang tetap menekuk.
Kanguru modern saat ini adalah pelompat terbesar yang masih hidup, dengan kanguru merah bisa mencapai hampir 90 kilogram. Sementara itu, kanguru raksasa Zaman Es memiliki massa lebih dari dua kali lipatnya.
Penelitian sebelumnya sempat memperkirakan bahwa melompat akan gagal jika berat tubuh melewati sekitar 140 hingga 160 kilogram. Namun, perkiraan tersebut sebagian besar hanya berdasarkan asumsi memperbesar skala tubuh kanguru modern tanpa benar-benar memeriksa struktur tulang fosil.
Fosil terbaru justru memperlihatkan bahwa kanguru raksasa tidak sekadar kanguru modern versi jumbo. Struktur tubuh mereka ternyata berbeda dan memiliki adaptasi khusus untuk menanggung beban besar.
"Perkiraan sebelumnya didasarkan pada sekadar memperbesar skala tubuh kanguru modern, yang berarti kita bisa saja melewatkan perbedaan anatomi yang sangat penting," kata Megan Jones, peneliti pascasarjana di University of Manchester.
"Temuan kami menunjukkan bahwa hewan-hewan ini bukan hanya versi lebih besar dari kanguru masa kini, mereka memiliki struktur tubuh yang berbeda, dengan cara yang membantu mereka mengatasi ukuran tubuh yang sangat besar," dia menambahkan
Dalam studi ini, para peneliti menguji dua batas utama yang selama ini dianggap menentukan kemampuan melompat. Yang pertama adalah kekuatan tulang kaki bagian depan, khususnya tulang metatarsal keempat yang memegang peran penting saat pendaratan.
Biasanya, tulang lebih mudah patah karena tekanan lentur dibanding tekanan lurus. Pengukuran fosil menunjukkan kanguru raksasa memiliki metatarsal yang lebih pendek dan lebih tebal. Tulang yang lebih pendek akan lebih sulit melengkung, sehingga lebih tahan terhadap risiko retak.
Perhitungan biomekanik memperlihatkan tingkat keamanan tulang mereka tetap berada di atas batas patah, bahkan ketika menahan beban lompatan.
Batas kedua yang diuji adalah kekuatan tendon pergelangan kaki, terutama tendon gastrocnemius yang memberi dorongan kuat saat lepas landas. Tendon harus mampu menahan gaya otot yang besar tanpa robek.
Fosil tulang tumit menunjukkan area perlekatan tendon yang lebar, yang berarti tendon mereka bisa lebih tebal dan lebih kuat. Perhitungan gaya otot juga menunjukkan bahwa ruang anatomis yang tersedia cukup untuk menopang tendon yang dibutuhkan agar lompatan tetap mungkin dilakukan.
Meski begitu, kemampuan melompat kanguru raksasa kemungkinan tidak seefisien kanguru modern. Kanguru masa kini terkenal hemat energi karena mampu menyimpan energi elastis dalam tendon untuk perjalanan jauh. Tendon yang lebih tebal memang lebih aman, tetapi menyimpan energi elastis lebih sedikit.
"Melompat tidak harus sangat hemat energi untuk tetap berguna. Hewan-hewan ini kemungkinan menggunakan kemampuan melompat mereka untuk melintasi medan kasar dengan cepat atau untuk melarikan diri dari bahaya," ujar Dr. Jones.
Keanekaragaman cara bergerak ini juga sejalan dengan peran ekologis yang lebih luas dibanding kanguru modern. Fosil gigi dan tengkorak memperlihatkan bahwa beberapa spesies besar adalah perumput seperti kanguru sekarang, tetapi ada juga yang memakan semak dan daun, peran yang tidak ditemukan pada kanguru besar modern.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kangguru raksasa zaman prasejarah hewan endemik Australia



























