Ilustrasi tumor kanker (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Sekelompok ilmuwan berhasil mengembangkan terapi yang disuntikkan langsung ke dalam tumor, dan berhasil mengubah sel-sel imun yang sudah berada di sana menjadi pasukan aktif pemburu kanker di dalam tubuh.
Di dalam tumor padat, sel imun yang menetap ternyata mampu menyerap muatan terapi dan mulai memproduksi protein khusus yang membuat mereka bisa mengenali serta menyerang sel kanker.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) menunjukkan proses konversi ini dapat terjadi langsung di area tumor.
Profesor Ji-Ho Park dan rekan-rekannya mendokumentasikan kerja sel imun yang sebelumnya tertekan dan pasif di bawah tekanan kanker, berubah menjadi pembunuh aktif.
Efeknya berkembang di dalam tumor itu sendiri, yakni sel imun yang biasanya terhenti karena mekanisme penekanan kanker justru mampu mempertahankan serangan terarah dalam jangka waktu tertentu.
Karena transformasi ini terjadi secara lokal, pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan batasan jelas tentang di mana terapi semacam ini dapat bekerja, serta tantangan pengiriman obat yang harus diatasi ke depan.
Dikutip dari Earth pada Kamis (5/2), tumor padat seperti di paru-paru, hati, atau lambung sering kali menjadi penghalang besar bagi terapi imun. Sel imun kerap terperangkap di bagian tepi tumor sementara kanker tetap tumbuh di pusatnya.
Jaringan yang padat, tekanan tinggi, dan serat pendukung yang kusut membatasi pergerakan sel, sehingga bahkan obat imun yang kuat pun sulit menyebar secara efektif.
Sebuah tinjauan ilmiah bahkan melaporkan bahwa hanya sekitar 1–2 persen sel CAR-T atau sel T yang direkayasa untuk menargetkan kanker, mampu mencapai inti tumor. Hambatan fisik dan kimia ini menjelaskan mengapa banyak terapi imun berhasil pada kanker darah, tetapi kurang efektif pada tumor padat.
Di sisi lain, banyak tumor justru dipenuhi oleh makrofag, sel imun pengembara yang berfungsi menelan debris dan memanggil bala bantuan. Dalam beberapa kasus, makrofag bisa mencapai hampir setengah dari massa tumor.
Namun, kanker sering kali memaksa sel-sel ini untuk menenangkan peradangan sehingga respons penghancuran kanker menjadi tumpul.
Ketika makrofag berhenti menyerang, walhasil dapat membantu tumor tumbuh dengan mendukung suplai darah dan menekan sel imun lain. Karena itu, memprogram ulang tenaga kerja imun lokal ini menjadi penting, karena kelemahan tumor padat dapat berubah menjadi keuntungan terapeutik.
Terapi baru ini memberikan cara bagi sel imun di tumor untuk membedakan sel kanker dari jaringan sehat. Setelah menyerap obat yang disuntikkan, makrofag mulai memproduksi protein permukaan baru yang menandai sel kanker untuk dihancurkan.
Instruksi tersebut berasal dari pesan genetik sementara yang dibawa obat, sehingga sel-sel ini dipandu tanpa perubahan permanen pada DNA mereka. Karena makrofag memang sudah mampu bergerak bebas di dalam tumor padat, pendekatan ini menghindari masalah akses yang selama ini membatasi banyak terapi imun.
Agar pesan genetik tersebut sampai ke sel yang tepat, para peneliti menggunakan nanopartikel lipid, kapsul berbasis lemak berukuran sangat kecil yang melindungi muatan mRNA yang rapuh. Lapisan ini membantu sel menyerap paket tersebut, lalu melepaskan mRNA sehingga mesin sel dapat membacanya dan membangun protein yang dibutuhkan.
Selain mengubah makrofag, terapi ini juga membawa sinyal bawaan yang memberi tahu sistem imun bahwa ada ancaman serius. Setelah sinyal ini aktif, makrofag melepaskan zat kimia yang menarik sel imun lain dan menjaga fokus mereka tetap pada tumor.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ACS Nano.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
terapi imun kanker makrofag lawan tumor mRNA nanopartikel lipid



























