Kamis, 05/02/2026 18:59 WIB

Alih Guna Lahan Hutan Tingkatkan Ancaman Penyakit Menular Baru





Kegiatan alih guna lahan hutan menjadi perkebunan meninggalkan risiko yang serius. Seiring dengan tipisnya batas dan jarak antara manusia dan satwa

Ilustrasi alih guna lahan hutan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kegiatan alih guna lahan hutan menjadi perkebunan meninggalkan risiko yang serius. Seiring dengan tipisnya batas dan jarak antara manusia dan satwa, meningkatkan ancaman penyakit menular.

Banyak penyakit yang kini menyerang manusia sejatinya tidak berasal dari manusia. Penyakit-penyakit itu pertama kali muncul pada hewan, lalu menemukan celah ketika batas-batas alami menyusut akibat perubahan lingkungan.

Penelitian University of Stirling menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan memiliki hubungan erat dengan meningkatnya risiko penyakit menular dari hewan ke manusia.

Menariknya, bahkan upaya memulihkan ekosistem yang rusak pun terkadang bisa memunculkan risiko baru yang tidak terduga, terutama pada tahap awal pemulihan, sebagaimana dikutip dari Earth pada Kamis (5/2).

Seiring investasi global dalam proyek restorasi alam terus meningkat, para ilmuwan menilai penting untuk memahami kapan alam benar-benar melindungi manusia, dan kapan justru untuk sementara waktu dapat menciptakan kondisi yang meningkatkan ancaman penyakit.

Dalam studi ini, perubahan tata guna lahan dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit zoonosis, termasuk Covid-19 dan malaria. Perhatian khusus diberikan pada penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, tikus pengerat, serta kelelawar, yang sering menjadi perantara utama dalam penyebaran patogen.

Penelitian tersebut menyoroti sejumlah perubahan umum yang memperbesar peluang kemunculan penyakit, seperti deforestasi, perluasan pertanian, pertumbuhan kota yang cepat, serta habitat yang terpecah menjadi fragmen-fragmen kecil.

"Ketika manusia semakin banyak mengubah lanskap alami, manusia dan satwa liar pun semakin sering berinteraksi dalam jarak dekat. Hal ini dapat mempermudah munculnya penyakit baru atau menyebarnya penyakit yang sudah ada," kata Dr. Adam Fell, dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam University of Stirling.

"Pada saat yang sama, terdapat investasi global yang terus meningkat untuk memulihkan lingkungan yang rusak guna membantu mengatasi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati," dia menambahkan.

Para ilmuwan mengakui bahwa pengetahuan dunia masih sangat terbatas tentang apakah restorasi ekosistem benar-benar menurunkan risiko penyakit, atau justru dalam beberapa kasus bisa meningkatkan risiko secara sementara.

Studi ini menekankan bahwa keputusan tentang peruntukan lahan dan dipulihkan dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia.

Sementara itu, restorasi merupakan istilah luas yang mencakup berbagai tindakan. Dalam beberapa kasus, restorasi berarti membiarkan alam pulih dengan campur tangan minimal.

Dalam situasi lain, restorasi melibatkan penanaman pohon, pembangunan kembali lahan basah, menghubungkan koridor habitat, atau mengubah cara pengelolaan wilayah.

Peneliti menemukan bahwa beberapa upaya penghijauan dan reforestasi dapat meningkatkan risiko penyakit pada tahap awal pemulihan, terutama penyakit yang ditularkan oleh nyamuk atau kutu.

Pertumbuhan vegetasi baru dapat mengubah pola bayangan, aliran air, dan pergerakan satwa sehingga membuat beberapa pembawa penyakit berkembang lebih baik untuk sementara waktu.

Hal ini bukan berarti penanaman pohon merupakan langkah yang buruk, melainkan menunjukkan bahwa desain dan waktu pelaksanaan restorasi sangat menentukan.

Area yang baru pulih bisa menciptakan tempat berkembang biak baru bagi nyamuk jika air menggenang di lokasi tertentu, atau mengubah aktivitas satwa sehingga kutu menemukan lebih banyak inang.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability.

KEYWORD :

alih guna lahan hutan risiko penyakit zoonosis restorasi ekosistem sehat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :