Kamis, 05/02/2026 18:37 WIB

Hati-hati, 10 Makanan dan Minuman Sehari-hari Ini Picu Peradangan





Peradangan kronis justru dapat merusak jaringan tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung

Makanan manis memicu inflamasi (Foto: Health)

Jakarta, Jurnas.com - Peradangan atau inflamasi merupakan mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi, cedera, atau iritasi. Dalam jangka pendek, inflamasi membantu proses penyembuhan.

Tapi, jika berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, peradangan kronis justru dapat merusak jaringan tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, diabetes, hingga beberapa jenis kanker.

Pola makan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memperburuk atau justru menekan inflamasi. Ada makanan yang bersifat antiinflamasi, tetapi ada pula yang tanpa disadari sering dikonsumsi sehari-hari dan justru memicu peradangan dalam tubuh.

Berikut ini 10 jenis makanan dan minuman yang berpotensi meningkatkan inflamasi jika dikonsumsi berlebihan, sebagaimana dikutip dari Health:

1. Makanan dan minuman manis

Soda, permen, kue, es krim, atau minuman berpemanis, termasuk pemicu inflamasi yang paling umum. Asupan gula tambahan yang tinggi dapat mengganggu kesehatan usus dan meningkatkan penanda inflamasi.

Konsumsi gula berlebih juga dikaitkan dengan obesitas, penyakit jantung, hingga perlemakan hati. Salah satu dampaknya adalah memicu ketidakseimbangan bakteri usus (gut dysbiosis) yang erat kaitannya dengan peradangan.

2. Makanan cepat saji

Daging olahan, tepung refined, gula tambahan, dan garam patut diwaspadai. Pola makan tinggi fast food dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan memperburuk kesehatan secara keseluruhan.

Kandungan garam yang tinggi dapat meningkatkan protein inflamasi seperti TNF-α dan IL-6, serta dikaitkan dengan kondisi inflamasi seperti rheumatoid arthritis. Garam berlebih juga dapat memicu aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

3. Daging merah

Daging merah dan daging olahan, seperti steak panggang, bacon, dan hot dog, juga sering dikaitkan dengan peningkatan inflamasi. Daging olahan berhubungan dengan penanda inflamasi seperti C-reactive protein (CRP).

Selain itu, pola makan tinggi daging merah dapat meningkatkan kadar TMAO, senyawa hasil metabolisme usus yang dikaitkan dengan inflamasi dan penyakit jantung.

4. Gorengan

Makanan yang digoreng, misalnya kentang goreng, ayam goreng, atau bacon, mengandung senyawa inflamasi berbahaya bernama advanced glycation end products (AGEs). Senyawa ini dapat memicu stres oksidatif, kerusakan sel, dan inflamasi.

Diet tinggi gorengan juga dikaitkan dengan penuaan lebih cepat serta meningkatnya risiko diabetes, Alzheimer, multiple sclerosis, penyakit jantung, dan beberapa kanker.

5. Makanan kemasan

Makanan kemasan dan ultra-proses, seperti keripik, biskuit, makanan beku siap saji, serta kue manis dalam kemasan, biasanya tinggi gula tambahan, natrium, dan karbohidrat olahan.

Kandungan tersebut berhubungan dengan meningkatnya inflamasi dalam tubuh. Beberapa studi juga mengaitkan konsumsi makanan ultra-proses dengan risiko lebih tinggi terhadap rheumatoid arthritis dan Crohn’s disease.

6. Minyak Omega-6

Minyak yang kaya omega-6, seperti minyak kedelai, minyak jagung, dan minyak kanola, juga kerap dibahas dalam konteks inflamasi. Lemak omega-6 cenderung bersifat pro-inflamasi, berbeda dengan omega-3 yang lebih antiinflamasi dan banyak ditemukan pada ikan berlemak.

Meski demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa linoleic acid, salah satu jenis omega-6, dapat membantu menurunkan kolesterol LDL dan memperbaiki kesehatan metabolik. Karena itu, keseimbangan omega-3 dan omega-6 menjadi kunci, bukan sekadar menghindari total.

7. Makanan asin

Fast food, camilan asin, pretzel, atau saus-saus gurih, dapat meningkatkan produksi protein pro-inflamasi dalam tubuh. Garam berlebih juga dapat memperburuk penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) dan merusak bakteri baik di saluran pencernaan.

8. Karbohidrat olahan

Karbohidrat olahan atau refined grains, seperti roti putih, nasi putih, dan pastry, juga berpotensi meningkatkan inflamasi. Produk ini kehilangan banyak serat yang penting bagi kesehatan usus. Kurangnya serat dapat memicu kenaikan berat badan dan memperburuk peradangan dalam tubuh dibandingkan konsumsi biji-bijian utuh.

9. Pemanis buatan

Aspartame dan sucralose dapat menciptakan lingkungan pro-inflamasi di saluran cerna. Beberapa penelitian menunjukkan pemanis non-nutritif dapat mengganggu mikrobiota usus, menyebabkan ketidakseimbangan bakteri, dan meningkatkan inflamasi.

10. Alkohol

Ini termasuk salah satu pemicu inflamasi yang jelas jika dikonsumsi berlebihan. Alkohol dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas, yang memicu stres oksidatif dan inflamasi. Selain itu, alkohol meningkatkan produksi protein inflamasi seperti TNF-α dan dapat menyebabkan penyakit hati akibat alkohol (alcoholic liver disease).

KEYWORD :

makanan pemicu inflamasi peradangan kronis tubuh diet anti inflamasi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :