Ilustrasi berolahraga (Foto: Doknet)
Jakarta, Jurnas.com - Aktivitas berolahraga tidak hanya menyehatkan bagi tubuh. Banyak orang merasa dorongan suasana hati yang lebih baik setelah berolahraga, entah itu setelah sesi gym, mengikuti kelas kebugaran, atau sekadar berjalan santai di sekitar lingkungan rumah.
Perasaan lebih ringan dan segar ini ternyata bukan sekadar sugesti, karena semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas fisik memang dapat membantu meredakan gejala depresi.
Depresi masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia. Lebih dari 280 juta orang secara global hidup dengan kondisi ini, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga produktivitas.
Selama ini, pengobatan antidepresan dan terapi psikologis menjadi pilihan utama dalam penanganan depresi, sebagaimana dikutip dari Psychology Today pada Kamis (5/2).
Namun, obat antidepresan sering kali menguras kantong dan menimbulkan efek samping tertentu. Sementara itu, terapi atau konseling tidak selalu mudah diakses oleh semua orang, baik karena keterbatasan biaya, tenaga profesional, maupun faktor geografis.
Dalam konteks inilah, tinjauan sistematis terbaru yang diterbitkan Cochrane Database of Systematic Reviews menyimpulkan bahwa olahraga memiliki efektivitas yang setara dengan obat maupun terapi bicara dalam mengurangi gejala depresi.
Tinjauan ini dipimpin oleh para peneliti dari University of Lancashire dan didukung oleh National Institute for Health and Care Research di Inggris.
Mereka menganalisis data dari 73 uji klinis terkontrol secara acak yang melibatkan hampir 5.000 orang dewasa dengan depresi, sehingga memberikan dasar bukti yang cukup kuat.
Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga memberikan efek moderat dalam menurunkan gejala depresi dibandingkan dengan tidak ada perawatan sama sekali. Menariknya, ketika dibandingkan langsung dengan terapi bicara atau penggunaan antidepresan, olahraga menunjukkan dampak yang serupa.
Secara biologis, olahraga memang diketahui memengaruhi sistem kimia di otak. Aktivitas fisik dapat meningkatkan fungsi neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, dua zat yang berperan besar dalam mengatur suasana hati. Mekanisme ini mirip dengan cara kerja banyak obat antidepresan.
Selain itu, olahraga juga memicu pelepasan faktor pertumbuhan otak, yang membantu otak beradaptasi dan berubah. Proses ini penting dalam pemulihan kesehatan mental karena mendukung fleksibilitas otak dalam menghadapi stres dan emosi negatif.
Tinjauan terbaru ini juga memberikan petunjuk praktis mengenai intensitas olahraga yang paling bermanfaat. Peneliti menemukan bahwa olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang justru lebih efektif dibandingkan latihan yang terlalu berat atau sangat intens.
Dalam analisis tersebut, melakukan sekitar 13 hingga 36 sesi olahraga secara total dikaitkan dengan perbaikan gejala depresi yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa konsistensi dan keteraturan lebih penting daripada memaksakan latihan ekstrem.
Menariknya, tidak ada satu jenis olahraga tertentu yang terbukti paling unggul dibandingkan yang lain. Berbagai bentuk aktivitas, baik aerobik maupun latihan kekuatan, dapat memberikan manfaat. Namun, kombinasi antara latihan aerobik dan latihan resistensi tampak lebih efektif dibandingkan hanya aerobik saja.
Para ahli menekankan bahwa langkah terbaik adalah memulai dari hal kecil. Bahkan berjalan kaki setiap hari dapat menjadi awal yang baik untuk membantu memperbaiki suasana hati, terutama bagi orang yang baru mencoba membangun rutinitas.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah dukungan sosial. Menjaga kebiasaan olahraga sering kali lebih mudah jika dilakukan bersama orang lain. Memiliki teman latihan atau komunitas olahraga dapat membantu seseorang lebih konsisten dan termotivasi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
olahraga untuk depresi terapi depresi alami manfaat aktivitas fisik





















