Rabu, 04/02/2026 19:14 WIB

Unik, Kuda Ternyata Mampu Mencium Rasa Takut Manusia Lewat Bau





Penelitian menunjukkan kuda yang terpapar bau ketakutan manusia menunjukkan respons stres yang lebih kuat. Dalam tes payung, mereka lebih mudah terkejut

Ilustrasi kuda sebagai hewan peliharaan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pernahkah Anda merasa hewan bisa mengerti perasaan manusia bahkan tanpa kata-kata? Sejak dulu, banyak pemilik hewan percaya bahwa peliharaan mereka dapat menangkap emosi dengan cepat, seolah-olah ada ikatan tak terlihat yang membuat hewan peka terhadap suasana hati manusia.

Keyakinan ini diperkuat dengan penelitian terbaru yang dilakukan INRAE (Institut Nasional Penelitian Pertanian, Pangan, dan Lingkungan Prancis). Dikatakan, emosi manusia, terutama rasa takut, dapat ditransfer ke hewan hanya melalui bau.

Dikutip dari Earth pada Rabu (4/2), studi ini mengungkap bahwa aroma tubuh manusia membawa sinyal kimia yang cukup kuat untuk memengaruhi perilaku hewan secara nyata, bahkan tanpa adanya interaksi verbal atau gerakan apapun.

Dalam dunia hewan, penciuman adalah salah satu indera paling dominan. Banyak spesies mengandalkan bau untuk memahami lingkungan, mengenali individu lain, dan berkomunikasi.

Selama ini, penelitian tentang penciuman lebih sering berfokus pada komunikasi dalam satu spesies, misalnya dalam konteks kawin atau penandaan wilayah. Namun, bagaimana bau bekerja sebagai jembatan emosi antarspesies masih jarang diteliti.

Tim etolog dari beberapa lembaga kemudian tertarik pada hubungan manusia dan kuda. Kuda dikenal memiliki kedekatan sosial dengan manusia, terutama dalam aktivitas sehari-hari seperti perawatan dan pelatihan. Kuda juga sering terlihat merespons perubahan emosi manusia.

Para peneliti kemudian merancang eksperimen yang sangat terkontrol dengan fokus pada dua emosi yang berlawanan, yaitu rasa takut dan rasa gembira. Mereka ingin memastikan bahwa reaksi kuda benar-benar dipicu oleh aroma, bukan oleh ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh manusia.

Penelitian ini melibatkan 30 relawan manusia. Setiap orang diminta menonton video selama 20 menit yang dirancang untuk memunculkan emosi kuat. Sebagian relawan menonton adegan menegangkan yang memicu rasa takut, sementara yang lain menonton tayangan yang membangkitkan kegembiraan.

Selama proses itu, para peneliti menempatkan kapas khusus di bawah ketiak relawan untuk menyerap keringat. Keringat manusia ternyata mengandung senyawa kimia yang terkait dengan kondisi emosional.

Dengan cara ini, tim berhasil mengumpulkan sampel bau yang diasosiasikan dengan ketakutan maupun kegembiraan. Mereka juga menyiapkan kapas tanpa bau manusia sebagai kelompok kontrol.

Sampel bau tersebut kemudian diberikan kepada 43 ekor kuda. Para kuda dibagi dalam tiga kondisi. Pertama, kelompok yang mencium bau ketakutan manusia. Kedua, kelompok yang mencium bau kegembiraan. Ketiga, kelompok yang tidak mencium bau apapun.

Setelah itu, para peneliti mengamati reaksi kuda dalam berbagai situasi untuk melihat apakah aroma saja cukup memicu perubahan perilaku.

Pengujian dilakukan dalam empat skenario. Dua di antaranya melibatkan interaksi dengan manusia. Dalam satu tes, seorang peneliti merawat kuda dengan menyisir tubuhnya. Dalam tes lain, peneliti berdiri di area tertentu untuk melihat apakah kuda akan mendekat secara sukarela.

Dua tes berikutnya mengukur respons ketakutan. Dalam satu percobaan, peneliti tiba-tiba membuka payung di dekat kuda, sebuah situasi yang biasanya mengejutkan. Dalam tes lainnya, sebuah benda asing ditempatkan di sekitar kuda untuk melihat bagaimana hewan itu bereaksi terhadap hal yang tidak familiar.

Sepanjang pengujian, perilaku kuda dicatat secara detail. Tidak hanya itu, peneliti juga mengukur detak jantung dan kadar kortisol dari air liur. Kortisol adalah hormon stres yang sering meningkat ketika seseorang atau hewan merasa takut atau tertekan. Dengan kombinasi data perilaku dan fisiologis, peneliti bisa melihat dampak aroma secara lebih mendalam.

Hasilnya, kuda yang terpapar bau ketakutan manusia menunjukkan respons stres yang lebih kuat. Dalam tes payung, mereka lebih mudah terkejut dan menunjukkan reaksi kaget yang lebih intens. Mereka juga cenderung menatap lebih lama pada benda asing, tanda kewaspadaan dan ketegangan.

Detak jantung mereka meningkat, menandakan respons fisiologis terhadap stres. Selain itu, kuda-kuda ini lebih menghindari kontak dekat dengan manusia. Saat disisir, mereka menunjukkan interaksi fisik yang lebih sedikit dan lebih jarang mendekat kepada peneliti dibandingkan kelompok lain.

Sebaliknya, kuda yang mencium bau kegembiraan manusia tidak menunjukkan reaksi serupa. Kelompok kontrol yang tidak mencium bau apapun juga tetap lebih tenang. Perbedaan ini menunjukkan bahwa efek tersebut bukan sekadar karena bau manusia secara umum, melainkan secara spesifik terkait dengan aroma ketakutan.

Peneliti menilai temuan ini sebagai bentuk emotional contagion atau penularan emosi. Dalam mekanisme ini, satu individu dapat mengadopsi keadaan emosional individu lain. Dalam kasus ini, kuda tampaknya ikut merasakan ketakutan manusia melalui sinyal kimia dalam keringat.

Fenomena semacam ini sebelumnya sudah diamati pada anjing, tetapi penelitian ini menjadi bukti kuat pertama pada kuda. Para ilmuwan menduga proses domestikasi dan sejarah panjang hidup berdampingan dengan manusia mungkin membuat kuda semakin sensitif terhadap sinyal emosional manusia, termasuk melalui bau.

“Ini adalah komunikasi kimia dari emosi, dan itu melintasi batas antarspesies,” kata Léa Lansade, direktur riset INRAE sekaligus salah satu penulis studi tersebut.

Studi ini membuka pemahaman baru tentang emosi hewan dan menunjukkan bahwa kondisi emosional manusia bisa memengaruhi perilaku hewan lebih besar daripada yang selama ini diasumsikan.

Temuan ini juga relevan bagi praktik perawatan, pelatihan, dan kesejahteraan hewan, karena emosi manusia ternyata dapat tercium dan berdampak langsung.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS One.

KEYWORD :

kuda mencium ketakutan emosi manusia lewat bau penularan emosi hewan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :