Rabu, 04/02/2026 18:47 WIB

Sering Begadang Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung





Sebuah penelitian mengaitkan pola aktivitas larut malam dengan kesehatan jantung yang lebih buruk pada usia paruh baya hingga lanjut

Ilustrasi lelaki begadang (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Bagi sebagian orang, begadang hingga larut malam menjadi waktu paling produktif. Tak sedikit memilih suasana sepi untuk bekerja larut, makan malam, dan tidur jauh setelah orang lain beristirahat.

Ritme ini sering dianggap wajar, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup modern. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan aktif di malam hari bisa membawa konsekuensi kesehatan, terutama bagi jantung.

Sebuah penelitian mengaitkan pola aktivitas larut malam dengan kesehatan jantung yang lebih buruk pada usia paruh baya hingga lanjut, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (4/2).

Menariknya, hubungan ini tampak paling jelas pada perempuan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bukan hanya kegiatan yang dilakukan seseorang dalam sehari yang penting, tetapi juga waktu aktivitas itu berlangsung.

Para peneliti meneliti kelompok orang yang cenderung sering begadang, dan baru mencapai energi puncak di sore atau malam hari. Dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kecenderungan tidur larut, kelompok begadang menunjukkan skor kesehatan jantung yang lebih rendah secara keseluruhan.

Perbedaan ini tidak muncul hanya karena satu faktor tunggal, melainkan gabungan kebiasaan yang sering berjalan bersama. Mereka yang tidur larut malam memiliki pola makan kurang sehat, tidur yang tidak teratur atau kurang berkualitas, serta tingkat merokok yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kombinasi ini perlahan meningkatkan beban pada sistem kardiovaskular.

Studi ini menggunakan data lebih dari 300.000 orang dewasa dengan rata-rata usia sekitar 57 tahun. Seluruh peserta berasal dari UK Biobank, salah satu basis data kesehatan terbesar di dunia. Mereka melaporkan preferensi alami tidur dan bangun, yang dikenal sebagai chronotype atau tipe ritme biologis.

Sekitar 8 persen peserta mengidentifikasi diri sebagai tipe malam sejati, sementara 24 persen adalah tipe pagi. Sisanya berada di tengah-tengah tanpa kecenderungan yang terlalu kuat. Untuk menilai kesehatan jantung, peneliti menggunakan kerangka Life’s Essential 8, standar yang mengukur faktor-faktor utama kesehatan kardiovaskular.

Delapan komponen tersebut meliputi pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, kualitas tidur, berat badan, kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah. Dengan indikator ini, peneliti dapat melihat gambaran lengkap kesehatan jantung, bukan hanya risiko penyakit tertentu.

Hasilnya cukup mencolok. Dibandingkan kelompok `intermediate`, tipe malam atau night owl 79 persen lebih mungkin memiliki skor kesehatan kardiovaskular yang tergolong buruk.

Selain itu, mereka juga memiliki risiko 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke selama masa pemantauan median sekitar 14 tahun.

Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara tipe malam dan skor kesehatan jantung yang rendah lebih kuat pada perempuan dibandingkan laki-laki. Sebaliknya, orang yang cenderung menjadi tipe pagi justru memiliki prevalensi skor buruk yang 5 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memiliki preferensi jelas.

Penjelasan ilmiah di balik temuan ini berkaitan dengan konsep circadian misalignment, yaitu ketidaksesuaian antara jam biologis internal tubuh dan siklus alami terang-gelap atau jadwal sosial sehari-hari.

Ritme sirkadian mengatur banyak fungsi penting tubuh, mulai dari hormon, metabolisme, hingga tekanan darah. Ketika ritme ini terganggu oleh pola hidup yang tidak sesuai, menjaga rutinitas sehat bisa menjadi lebih sulit, meskipun seseorang merasa nyaman dengan gaya hidup malam.

Studi ini dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association.

KEYWORD :

risiko penyakit jantung kebiasaan begadang malam ritme sirkadian tubuh




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :