Ilustrasi Alzheimer pada pria lanjut usia (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Penyakit Alzheimer sering digambarkan sebagai proses pelan yang menghapus ingatan sedikit demi sedikit. Mulai lupa nama orang terdekat, arah jalan terasa asing, dan kemampuan mengingat seolah memudar.
Penelitian baru menunjukkan bahwa kerusakan penting pada Alzheimer bukan terjadi pada saat otak sedang bekerja untuk mengingat, melainkan ketika otak sedang tenang dan tidak melakukan aktivitas besar.
Studi ini mengarah pada satu masalah yang muncul ketika otak berada dalam kondisi istirahat. Padahal, momen inilah yang biasanya dipakai otak untuk memutar ulang pengalaman baru dan menyimpannya menjadi memori jangka panjang.
Ketika proses pemutaran ulang ini terganggu, ingatan tidak menempel sebagaimana mestinya. Akibatnya, muncul kesulitan mengingat yang mirip dengan gejala awal Alzheimer, mudah terlupa sesuatu yang baru terjadi.
Otak sebenarnya tidak pernah benar-benar mati saat tubuh berhenti sejenak. Dalam waktu istirahat singkat, melamun, atau tidur, sel-sel otak justru aktif mengulang kembali kejadian yang baru dialami. Proses ini membantu mengubah pengalaman jangka pendek menjadi ingatan yang lebih menetap.
Lewat mekanisme ini, seseorang bisa mengingat tempat memarkir kendaraan, jalan yang dilewati, atau cara cara pulang ke rumah. Namun jika proses ini gagal, otak tetap memproses informasi, hanya saja hasilnya tidak bertahan lama.
Masalahnya baru terlihat belakangan. Rute terasa asing, keputusan yang sama diulang, dan seseorang seperti kehilangan pegangan arah. Otak tetap bekerja, tetapi pesan yang seharusnya tersimpan tidak bertahan.
Untuk memahami gangguan ini, para ilmuwan meneliti tikus yang dikondisikan mengembangkan plak amyloid, yaitu endapan protein yang juga menjadi ciri khas Alzheimer pada manusia. Plak ini diketahui merusak jaringan otak.
“Alzheimer disebabkan oleh penumpukan protein berbahaya dan plak di otak, yang memicu gejala seperti hilangnya ingatan dan gangguan navigasi,” kata salah satu penulis studi, Dr. Sarah Shipley dari University College London dikutip dari Earth pada Rabu (4/2).
Para peneliti juga meneliti kondisi fungsi sel-sel otak berubah seiring perkembangan penyakit, untuk mengetahui munculnya gejala-gejala ini. Hasilnya, pemutaran ulang ini terganggu pada tikus yang memiliki plak amyloid seperti Alzheimer. Gangguan tersebut sangat sejalan dengan buruknya performa tikus dalam tugas-tugas memori.
Penelitian ini berfokus pada hippocampus, bagian kecil tetapi sangat penting dalam otak yang berperan besar dalam pembelajaran dan ingatan. Di dalam hippocampus terdapat place cells, sel saraf yang aktif dalam pola tertentu sesuai lokasi yang sedang dilewati hewan.
Ketika seekor tikus bergerak melalui suatu ruang, sel-sel ini menyala dalam urutan yang sangat presisi. Setelah itu, ketika tikus beristirahat, urutan yang sama biasanya diputar kembali, membantu mengunci pengalaman tersebut menjadi memori.
Untuk menangkap proses ini, tikus diminta berlari melalui labirin sederhana, sementara elektroda kecil merekam aktivitas sekitar 100 place cells secara bersamaan. Setelah eksplorasi selesai, tikus beristirahat dan peneliti mengamati apa yang terjadi di dalam otaknya.
Pada tikus sehat, replay berlangsung sesuai pola normal. Tetapi pada tikus dengan plak amyloid, replay tetap terjadi dengan frekuensi yang sama, hanya saja urutannya salah. Sinyal-sinyal otak menjadi kacau dan tidak lagi membentuk pola yang benar.
Aktivitas yang tidak teratur ini berdampak jangka panjang. Place cells tidak lagi stabil dari waktu ke waktu. Setelah beristirahat, sel-sel ini lebih kecil kemungkinannya merepresentasikan lokasi yang sama seperti sebelumnya. Istirahat yang seharusnya memperkuat memori justru melemahkannya.
Perilaku tikus pun sesuai dengan data otak. Tikus yang terdampak berjalan di labirin tanpa ingatan yang jelas, kembali melewati jalur yang sama, dan kesulitan melacak ke mana mereka sudah pergi.
Temuan ini memberi petunjuk penting tentang gejala awal Alzheimer. Hilangnya ingatan tidak terjadi sekaligus, melainkan dimulai dari kegagalan kecil yang menumpuk. Kesulitan membentuk memori yang stabil merupakan salah satu tanda paling awal.
Para ilmuwan kini menyelidiki kemungkinan pemutaran memori dapat dimanipulasi melalui neurotransmitter asetilkolin, zat kimia otak yang juga menjadi target obat-obatan Alzheimer saat ini.
Studi lengkapnya dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
gejala awal Alzheimer otak saat istirahat proses konsolidasi memori






















