Ilustrasi burung purba yang hidup di era dinosaurus (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Terbang bukanlah aktivitas mudah bagi makhluk hidup. Jika seekor hewan ingin bertahan di udara, maka harus mampu mendapatkan makanan dengan cepat, mengolahnya secara efisien, lalu menelannya tanpa membuang banyak waktu maupun energi.
Karena itulah, sebuah studi baru tentang Archaeopteryx menjadi sangat menarik. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa ciri paruh burung modern ternyata sudah muncul sekitar 150 juta tahun lalu.
Tim peneliti menemukan bahwa Archaeopteryx bukan hanya memiliki bulu dan sayap sebagai ciri awal burung. Fosil ini juga tampaknya memiliki struktur mulut yang sudah disesuaikan untuk pola makan yang efisien, sangat mirip dengan burung-burung masa kini.
Penelitian ini berpusat pada spesimen yang dikenal sebagai Chicago Archaeopteryx, yang kini tersimpan di Field Museum. Saat fosil tersebut tiba, kondisinya belum sepenuhnya siap untuk diteliti karena beberapa bagian masih tertutup batu kapur. Tim preparator menghabiskan lebih dari satu tahun untuk membersihkan batuan itu secara hati-hati.
“Alasan satu-satunya mengapa struktur di mulut Archaeopteryx ini bisa ditemukan adalah karena preparator kami bekerja dengan sangat teliti,” kata penulis utama studi, Jingmai O’Connor, kurator fosil reptil di Field Museum dikutip dari Earth pada Rabu (4/2).
Para ahli juga menggunakan sinar ultraviolet selama proses persiapan fosil. Dalam beberapa kasus, jaringan lunak dapat bersinar di bawah UV, sehingga membantu peneliti melihat fitur rapuh sebelum tidak sengaja merusaknya.
“Tim menggunakan UV pada tahap-tahap tertentu untuk memastikan mereka tidak menghancurkan jaringan lunak,” ujar O’Connor. Dia menambahkan bahwa beberapa jaringan dan fragmen tulang yang ditemukan sangat kecil, sehingga mudah terlewat jika tidak dicari secara aktif.
Pada satu titik, para preparator melihat titik-titik kecil bercahaya di bagian tengkorak. Bentuknya aneh dan tidak langsung dikenali.
Ternyata titik-titik tersebut cocok dengan struktur yang dimiliki burung modern, yakni papila oral. Ini bukan gigi sungguhan, melainkan tonjolan kecil berdaging di langit-langit mulut yang membantu mendorong makanan ke belakang serta menjauhkannya dari saluran pernapasan.
Jika interpretasi tim benar, ini menjadi temuan besar karena merupakan laporan pertama papila oral pada Archaeopteryx, bahkan juga pertama kalinya struktur tersebut dikenali dalam fosil manapun. Detail anatomi sekecil ini bisa mengubah cara ilmuwan memahami ciri khas burung-burung awal.
Selain itu, para peneliti menemukan serpihan tulang kecil yang mereka tafsirkan sebagai bagian dari sistem tulang lidah. Manusia tidak memiliki tulang lidah, tetapi sebagian besar burung memilikinya.
Tulang ini memberikan tempat melekat yang lebih baik bagi otot lidah, sehingga lidah menjadi lebih fleksibel dan mampu membantu memanipulasi makanan.
“Tulang kecil sekali ini termasuk salah satu tulang terkecil di tubuh, dan ini menunjukkan bahwa Archaeopteryx memiliki lidah yang sangat bergerak, seperti banyak burung modern,” kata O’Connor.
Lidah yang bergerak adalah fitur yang sering luput dari perhatian. Burung melakukan banyak gerakan halus di dalam mulut, mulai dari menggeser, menahan, dan memposisikan ulang makanan, agar bisa menelan dengan cepat dan efisien.
Pemindaian CT juga mengungkap saluran-saluran kecil di ujung paruh yang tampak seperti jejak saraf. Banyak burung modern memiliki organ ujung paruh, bagian paruh yang kaya saraf dan sangat sensitif.
Organ ini membantu burung mendeteksi makanan atau tekstur, terutama saat mematuk, menusuk, atau mencari makan di tanah.
Jika digabungkan, papila langit-langit, tulang lidah, dan ujung paruh sensitif, muncul gambaran bahwa burung awal ini sudah bergerak menuju gaya makan yang sangat efisien, sebuah kebutuhan penting bagi makhluk yang harus memenuhi tuntutan energi besar dari terbang.
Penemuan ini juga penting karena Archaeopteryx hidup berdampingan dengan dinosaurus berbulu lain yang dekat dengan garis evolusi burung, tetapi kemungkinan belum benar-benar mampu terbang.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal The Innovation.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
mulut Archaeopteryx burung pertama Bumi evolusi makan burung
























