Misi rover di Mars dijalankan NASA (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Perencanaan perjalanan rover di Mars selama ini dikenal sebagai proses yang lambat dan sangat hati-hati, layaknya permainan catur yang dimainkan dari jarak jutaan kilometer di Bumi.
Setiap langkah harus diperhitungkan dengan detail karena medan Mars penuh risiko, dan rover tidak bisa dikendalikan secara langsung seperti kendaraan biasa.
Namun dalam sebuah uji coba terbaru, NASA melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya, sistem kecerdasan buatan (AI) diberi tugas untuk memilih rute perjalanan.
Hasilnya, rover Perseverance berhasil menjalankan perjalanan di Mars berdasarkan waypoint yang dirancang oleh AI, bukan oleh perencana manusia, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (4/2).
Demonstrasi ini berlangsung pada 8 dan 10 Desember, dipimpin oleh tim dari NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) di California Selatan. Dalam uji coba tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan AI generatif berbasis visi untuk menentukan waypoint, yaitu titik-titik tujuan berikutnya yang menjadi panduan rover agar dapat bergerak aman melewati medan berbahaya.
Rencana perjalanan itu tidak langsung dikirim begitu saja. Para ahli terlebih dahulu mengujinya dalam simulasi sebelum akhirnya diunggah ke Mars. NASA menekankan bahwa ini bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan langkah penting dalam cara manusia menjelajahi dunia lain.
"Demonstrasi ini menunjukkan sejauh mana kemampuan kita telah berkembang dan memperluas cara kita mengeksplorasi planet lain," kata Administrator NASA Jared Isaacman.
Dia menambahkan bahwa teknologi otonom seperti ini dapat membantu misi bekerja lebih efisien, merespons medan sulit, dan meningkatkan hasil ilmiah seiring bertambahnya jarak eksplorasi dari Bumi.
Dalam uji coba ini, para insinyur memanfaatkan sistem generatif yang sering disebut sebagai vision-language model. Secara sederhana, AI ini mampu melihat gambar dan data yang sama seperti yang digunakan perencana manusia, lalu mengusulkan titik-titik waypoint yang memungkinkan rover melintasi medan kasar tanpa terjebak bahaya.
Pekerjaan ini dikoordinasikan dari Rover Operations Center milik JPL. NASA juga bekerja sama dengan perusahaan AI Anthropic, menggunakan model Claude untuk membantu tugas pemilihan waypoint tersebut.
Meski demikian, tujuan utamanya bukan untuk membiarkan algoritma bergerak bebas tanpa kontrol, melainkan untuk menguji apakah AI dapat menangani tugas spesifik yang sangat krusial dengan tingkat keandalan tinggi.
Mars memang terlalu jauh untuk memungkinkan manusia mengemudi rover secara langsung dengan joystick. Sinyal radio membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai Mars, sehingga kontrol waktu nyata tidak mungkin dilakukan.
Karena itu, tim rover harus merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, mempelajari lanskap, lalu membagi perjalanan menjadi segmen pendek agar rover selalu memiliki langkah aman berikutnya.
Biasanya, rute rover dibangun dari waypoint yang jaraknya relatif dekat, sering kali sekitar 100 meter atau kurang. Alasannya, medan Mars dapat berubah dengan cepat.
Area yang tampak datar dari orbit bisa saja menyimpan pasir halus yang menjebak roda, batu besar yang mengancam badan rover, atau kemiringan yang dapat membuat kendaraan terguling.
Setelah rute disusun, perintah dikirim melalui NASA Deep Space Network, dan rover menjalankannya secara mandiri di permukaan Mars. Dalam dua perjalanan uji coba pada sols 1.707 dan 1.709, tim misi menyerahkan perencanaan waypoint kepada AI.
Sistem tersebut menganalisis gambar orbital resolusi tinggi dari kamera HiRISE di Mars Reconnaissance Orbiter, ditambah informasi kemiringan permukaan dari model elevasi digital.
Dengan data itu, AI mengidentifikasi fitur penting bagi keselamatan rover, seperti batuan dasar, singkapan, ladang bongkahan batu, serta pola pasir bergelombang.
Dari analisis tersebut, AI menghasilkan rute berkelanjutan lengkap dengan waypoint yang harus diikuti rover. Pada 8 Desember, Perseverance menempuh jarak 689 kaki berdasarkan rencana AI. Dua hari kemudian, rover melaju lagi sejauh 807 kaki.
Dalam skala rover Mars, jarak ini bukan perjalanan lintas benua, tetapi cukup panjang untuk menjadi uji operasional serius.
Sebelum perintah dikirim ke Mars, tim insinyur menjalankan rute buatan AI melalui digital twin JPL, yaitu replika virtual rover yang digunakan untuk memastikan rencana perjalanan sesuai dengan batasan perangkat keras dan perangkat lunak.
Pemeriksaan ini tidak dilakukan secara sederhana. Proses verifikasi mengevaluasi lebih dari 500.000 variabel telemetri, pada dasarnya menguji rencana tersebut terhadap daftar panjang kemungkinan masalah yang bisa terjadi. Setelah rute dinyatakan aman, barulah perintah dikirim ke Perseverance.
Otomatisasi semacam ini menjadi sangat menarik karena rover memiliki waktu terbatas, sementara Mars adalah planet yang sangat luas. Jika beban kerja manusia untuk perencanaan perjalanan rutin dapat dikurangi, rover bisa melaju lebih jauh, lebih sering, dan tim dapat memusatkan perhatian pada keputusan ilmiah yang benar-benar membutuhkan penilaian manusia.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
AI rover Mars Perseverance NASA Eksplorasi planet otonom

























