Rabu, 04/02/2026 09:58 WIB

Tabrakan Asteroid dengan Bulan Bisa Picu Kilatan Terang Terlihat dari Bumi





Sebuah asteroid seukuran bangunan, berpotensi menabrak Bulan, dan dampaknya diperkirakan menghasilkan kilatan cahaya terang yang dapat terlihat dari bumi

Ilustrasi - Sebuah asteroid seukuran bangunan, berpotensi menabrak Bulan, dan dampaknya diperkirakan menghasilkan kilatan cahaya terang yang dapat terlihat dari bumi (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah asteroid seukuran bangunan, 2024 YR4, berpotensi menabrak Bulan pada Desember 2032, dan dampaknya diperkirakan menghasilkan kilatan cahaya terang yang dapat terlihat dari Bumi. Temuan ini diungkap dalam sebuah studi terbaru yang mengkaji kemungkinan dampak asteroid kecil terhadap sistem Bumi–Bulan.

Ketertarikan ilmuwan muncul karena peristiwa ini dinilai sebagai eksperimen alami yang langka, yakni tumbukan benda langit yang dapat diprediksi dan kaya nilai ilmiah. Para peneliti kemudian memetakan seluruh skenario yang mungkin terjadi jika tabrakan benar-benar berlangsung.

Untuk itu, tim peneliti membuat 10.000 simulasi komputer yang memodelkan lintasan asteroid bersama planet, Matahari, dan Bulan. Simulasi lanjutan juga dilakukan untuk menggambarkan proses tumbukan dan pergerakan puing selama beberapa menit setelah benturan.

Dikutip dari Live Science, hasil simulasi menunjukkan asteroid kemungkinan akan menghantam Bulan di jalur sepanjang sekitar 3.000 kilometer, tepat di utara kawah Tycho. Dari Bumi belahan utara, lokasi ini berada di bagian bawah Bulan, sementara posisinya terbalik jika diamati dari belahan selatan.

Yang paling mencolok, tumbukan tersebut diperkirakan menghasilkan kilatan seterang planet Venus, dengan tingkat kecerlangan antara magnitudo −2,5 hingga −3. Cahaya ini bisa bertahan selama beberapa menit, meski setidaknya akan terlihat jelas selama sekitar 10 detik.

Jika terjadi, waktu tumbukan diperkirakan sekitar 15.19 UTC, sehingga kilatan dapat disaksikan di wilayah tempat Bulan sudah terbit, seperti Asia Timur, Oseania, Hawaii, dan Amerika Utara bagian barat. Namun, visibilitasnya sangat bergantung pada lokasi tumbukan di permukaan Bulan.

Pada hari yang diprediksi, sekitar 70 persen permukaan Bulan akan diterangi Matahari, sehingga kilatan hanya dapat dilihat dengan mata telanjang jika asteroid menghantam sisi Bulan yang gelap. Peluang skenario ini diperkirakan hanya 2,85 persen, meski teleskop amatir tetap dapat mendeteksi peristiwa tersebut.

Selain kilatan utama, tumbukan diperkirakan akan melemparkan jutaan batuan Bulan yang kemudian jatuh kembali ke permukaan, memicu ribuan kilatan sekunder. Meski lebih redup, fenomena ini akan menjadi tontonan langka bagi pengamat profesional.

Studi tersebut juga memprediksi hingga 100 juta kilogram material Bulan dapat terlempar ke arah Bumi, memicu badai meteor ekstrem dalam rentang dua hingga 100 hari setelah tumbukan. Meski peluang tabrakan masih belum pasti, para ilmuwan menilai peristiwa ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam pemahaman manusia tentang dampak asteroid. (*)

KEYWORD :

Tabrakan Asteroid Material Bulan Dampak Asterodi Kilatan Terang Bumi Belahan Utara




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :