Rabu, 04/02/2026 08:06 WIB

Bintik Matahari Raksasa Mengarah ke Bumi, Aurora Muncul Pekan Ini





Wilayah bintik matahari tersebut, yang dikenal sebagai region 4366, memicu lonjakan aktivitas Matahari sejak awal Februari dengan puluhan semburan api Matahari

Sebuah bintik matahari raksasa yang menjadi salah satu paling aktif dalam beberapa tahun terakhir kini menghadap ke arah Bumi setelah melepaskan puluhan letupan energi Matahari (Foto: NASA via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah bintik matahari raksasa yang menjadi salah satu paling aktif dalam beberapa tahun terakhir kini menghadap ke arah Bumi setelah melepaskan puluhan letupan energi Matahari. Aktivitas ekstrem ini meningkatkan peluang munculnya aurora di wilayah lintang yang lebih rendah dari biasanya dalam beberapa hari ke depan.

Wilayah bintik matahari tersebut, yang dikenal sebagai region 4366, memicu lonjakan aktivitas Matahari sejak awal Februari dengan puluhan semburan api Matahari (solar flare) hanya dalam kurun 24 jam. Letupan-letupan ini menandai salah satu periode paling intens sejak Matahari memasuki fase aktifnya.

Dikutip dari Live Science, menurut Space Weather Prediction Center (SWPC) milik NOAA, peningkatan aktivitas geomagnetik berpotensi terjadi sekitar 5 Februari, meski dampaknya masih terus dipantau. Jika kondisi mendukung, cahaya aurora dapat terlihat lebih jauh ke selatan dari wilayah yang biasanya mengalaminya.

Region 4366 muncul secara tiba-tiba dan tumbuh cepat hingga mencapai sekitar setengah ukuran bintik Matahari pemicu Peristiwa Carrington tahun 1859, badai Matahari paling merusak yang pernah tercatat. Pertumbuhan cepat ini membuat wilayah tersebut sangat tidak stabil secara magnetik.

Dalam periode singkat antara 1–2 Februari, bintik Matahari ini memicu lebih dari 20 semburan kelas menengah hingga kuat, termasuk empat flare kelas X, kategori tertinggi dalam skala letupan Matahari. Aktivitas ini memuncak saat terjadi flare X8.1, yang menjadi letupan Matahari terkuat sejak Oktober 2024.

Letupan kuat tersebut juga memicu gangguan radio parsial di wilayah Pasifik Selatan serta melontarkan lontaran massa korona (CME) ke arah Bumi. Meski diperkirakan akan meleset, para ilmuwan tidak menutup kemungkinan terjadinya hantaman tidak langsung terhadap medan magnet Bumi.

Jika CME tersebut menyentuh magnetosfer Bumi, partikel bermuatan akan mengalir ke wilayah kutub dan memicu aurora yang lebih terang dan luas. Fenomena ini merupakan hasil interaksi langsung antara partikel Matahari dan medan magnet planet kita.

Bintik Matahari sendiri merupakan area gelap di permukaan Matahari yang menyimpan energi magnetik besar dan tidak stabil. Ketika medan magnet di wilayah ini terpelintir dan terlepas, energi dilepaskan dalam bentuk flare dan CME.

Aktivitas Matahari saat ini meningkat karena Matahari tengah berada dalam fase puncak siklus 11 tahunan, atau solar maximum, ketika kutub magnetiknya bertukar posisi. NASA telah mengonfirmasi bahwa fase ini berlangsung sejak 2024 dan diperkirakan tetap aktif hingga 2026.

Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya badai Matahari besar seperti yang terjadi pada Mei 2024, ketika aurora terlihat hingga wilayah selatan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, badai Matahari kuat juga berpotensi mengganggu sistem komunikasi, GPS, dan satelit.

Hingga kini, bintik Matahari region 4366 telah melampaui kekuatan letupan Matahari terbesar sepanjang 2025. Meski demikian, para ilmuwan masih mengamati apakah wilayah ini akan terus aktif atau mulai melemah dalam beberapa hari ke depan. (*)

KEYWORD :

Bintik Matahari Fenomena Aurora Energi Matahari Badai Matahari




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :