Selasa, 03/02/2026 21:32 WIB

Ilmuwan Duga Bakteri Usus Mampu Bikin Manusia Berumur Panjang





Sekelompok ilmuwan meneliti bakteri yang hidup di dalam usus manusia, yang dikaitkan dengan proses penuaan dan kesehatan jangka panjang.

Bakteri usus diduga berperan penting dalam memperpanjang umur manusia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sekelompok ilmuwan meneliti bakteri yang hidup di dalam usus manusia, yang dikaitkan dengan proses penuaan dan kesehatan jangka panjang. Hasilnya, bakteri usus dapat memengaruhi metabolisme, peradangan, dan risiko penyakit sepanjang hidup.

Bahkan, sinyal kimia yang sangat ringan ternyata mampu mendorong bakteri usus menghasilkan senyawa yang berkaitan dengan umur panjang tanpa merusak keseimbangan mikrobioma, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).

Pendekatan ini berbeda dari cara lama. Alih-alih membunuh bakteri atau memaksa perubahan besar, para peneliti menemukan cara membiarkan bakteri merespons secara alami, mengaktifkan jalur bermanfaat yang biasanya mati di dalam tubuh bersuhu hangat.

Usus manusia merupakan rumah bagi komunitas bakteri yang sangat kompleks. Mikroba ini terus berinteraksi dengan makanan, hormon, dan sistem kekebalan tubuh, serta menghasilkan berbagai senyawa kimia yang memengaruhi kesehatan secara luas.

Salah satu senyawa yang menarik perhatian ilmuwan adalah asam kolanat (colanic acid). Senyawa ini membentuk lapisan pelindung pada bakteri tertentu dan juga berdampak langsung pada tubuh inang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa asam kolanat dapat memperpanjang usia cacing dan lalat buah.

Masalahnya, pada suhu tubuh mamalia, gen bakteri yang menghasilkan asam kolanat biasanya berhenti bekerja. Tim peneliti dari Howard Hughes Medical Institute (HHMI) kemudian mencari cara aman untuk mengaktifkan kembali produksi senyawa ini tanpa merusak ekosistem bakteri usus.

Solusinya datang dari senyawa bernama sefaloridin. Dalam dosis tinggi, zat ini dikenal sebagai antibiotik. Namun dalam dosis sangat rendah, sefaloridin tidak membunuh bakteri, melainkan bertindak sebagai sinyal kimia yang mengubah perilaku metabolik mereka.

Bakteri yang terpapar sefaloridin dosis rendah meningkatkan produksi asam kolanat secara signifikan. Cacing yang memakan bakteri tersebut hidup lebih lama, sementara pertumbuhan bakteri tetap normal dan tidak menunjukkan tanda stres atau keracunan.

Menariknya, sefaloridin mampu membuka kunci gen bakteri penghasil asam kolanat meski berada pada suhu tubuh. Senyawa ini bekerja melalui jalur sinyal internal bakteri, bukan dengan memicu respons stres seperti antibiotik pada umumnya.

Peneliti kemudian menguji metode ini pada tikus. Sefaloridin diberikan melalui air minum dan sebagian besar tetap berada di dalam saluran pencernaan karena penyerapannya sangat rendah ke aliran darah, sehingga risiko efek samping sistemik menjadi kecil.

Hasilnya cukup menjanjikan. Produksi asam kolanat meningkat di usus tikus, sementara perubahan metabolik terkait penuaan melambat. Tikus jantan tidak mengalami lonjakan kolesterol jahat yang tajam, sedangkan tikus betina menunjukkan kenaikan insulin yang lebih ringan seiring bertambahnya usia.

Yang penting, keanekaragaman bakteri usus tetap stabil. Tidak ada tanda gangguan mikrobioma, sesuatu yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik konvensional. Bakteri baik tetap hidup dan berfungsi normal.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan bisa ditingkatkan dengan cara mengarahkan bakteri usus, alih-alih melawannya. Pendekatan ini membuka arah baru dalam pengembangan obat, dengan fokus pada kerja sama antara manusia dan mikroba.

Asam kolanat baru salah satu contoh. Masih banyak jalur kimia dalam bakteri usus yang belum aktif dan berpotensi mendukung kesehatan jangka panjang. Di masa depan, pengobatan mungkin lebih berfokus pada mengoptimalkan potensi mikrobioma untuk membantu manusia hidup lebih lama dan lebih sehat.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS Biology.

KEYWORD :

bakteri usus umur panjang mikrobioma usus




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :