Ilustrasi gunung berapi yang sedang tidur (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Gunung api yang sepintas tampak tenang dan lama tidak meletus ternyata belum tentu benar-benar `tidur`. Ilmuwan menemukan bahwa banyak gunung berapi dorman masih menyimpan cadangan magma dalam jumlah besar di bawah permukaan bumi, bahkan bertahan selama bertahun-tahun setelah erupsi terakhir.
Temuan ini mengubah anggapan lama bahwa magma akan habis atau mendingin sepenuhnya ketika aktivitas gunung api mereda. Faktanya, magma dapat tetap tersimpan di kerak bumi tanpa menimbulkan tanda-tanda jelas di permukaan.
Studi ini dilakukan oleh Guanning Pang, PhD, dari Cornell University, bekerja sama dengan United States Geological Survey (USGS). Tim peneliti memanfaatkan jaringan sensor gempa yang sudah terpasang di sekitar pegunungan Cascade Range di Amerika Serikat bagian barat laut, dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).
Pegunungan Cascade dikenal sebagai wilayah dengan risiko vulkanik tinggi. Dari negara bagian Washington hingga California utara, sejumlah gunung api berada dekat dengan permukiman penduduk dan telah masuk kategori ancaman sangat tinggi menurut pemetaan terbaru USGS.
Wilayah ini terbentuk di zona subduksi, tempat satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lain dan memicu pembentukan magma. Risiko tidak hanya datang dari letusan, tetapi juga dari hujan abu dan aliran lumpur cepat yang bisa terjadi saat salju dan es mencair.
Untuk mendeteksi magma tersembunyi, para ilmuwan memanfaatkan gelombang seismik dari gempa bumi jauh. Ketika gelombang ini melewati batuan yang mengandung magma, kecepatannya melambat karena batuan yang sebagian meleleh lebih lunak dibandingkan batuan padat.
Dalam penelitian ini, perlambatan gelombang seismik menjadi petunjuk kuat adanya cadangan magma, meskipun di permukaan tidak terlihat aktivitas vulkanik baru. Metode ini memungkinkan pemetaan “isi perut” gunung api tanpa pengeboran.
Hasil analisis menunjukkan bahwa magma tersimpan pada kedalaman sekitar 5 hingga 15 kilometer di bawah puncak gunung. Ukuran reservoir magma ini cukup besar, mencapai beberapa kilometer lebar, sehingga masih berpengaruh terhadap tekanan dan pergerakan gas di dalam gunung.
Dari delapan gunung api yang diteliti, enam menunjukkan tanda jelas adanya magma. Dua lainnya belum bisa dipastikan karena jumlah sensor pemantau yang terbatas, sehingga ketiadaan sinyal belum tentu berarti ketiadaan magma.
Menariknya, tidak semua magma berada tepat di bawah kawah. Gunung St. Helens, misalnya, memiliki cadangan magma yang bergeser beberapa kilometer dari puncaknya. Pola ini menunjukkan bahwa magma mengikuti jalur lemah di kerak bumi, bukan selalu naik lurus ke atas.
Peneliti juga memperkirakan kandungan lelehan magma di dalam batuan, yang disebut fraksi leleh. Angkanya berkisar antara 13 hingga 32 persen, cukup tinggi untuk disebut aktif, tetapi belum cukup cair untuk langsung memicu letusan.
Kondisi ini dikenal sebagai magma mush, yaitu campuran kristal padat dan cairan magma yang bergerak lambat. Artinya, gunung api bisa menyimpan magma besar tanpa langsung menunjukkan tanda akan meletus.
Pang menekankan bahwa keberadaan magma tidak otomatis berarti letusan akan segera terjadi. "Magma tampaknya memang ada di bawah gunung api sepanjang masa hidupnya, bukan hanya saat aktif," kata Pang.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Geoscience.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
gunung api dorman cadangan magma risiko letusan


























