Ilustrasi inti Bumi (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Bagian terdalam Bumi ternyata tidak diam. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa inti dalam Bumi terus bergerak dan bahkan berubah bentuk, dengan pola yang jauh lebih rumit dibandingkan dugaan ilmuwan sebelumnya.
Inti dalam Bumi berada ribuan kilometer di bawah permukaan dan tidak bisa diamati secara langsung. Untuk mempelajarinya, para ilmuwan mengandalkan sinyal gempa bumi yang merambat menembus seluruh lapisan planet.
Dikutip dari Earth pada Selasa (3/2), perubahan kecil pada gelombang gempa dapat memberi petunjuk tentang apa yang terjadi di pusat Bumi.
Perubahan ini penting karena inti Bumi berperan dalam pembentukan medan magnet dan dapat memengaruhi panjang hari di Bumi, meskipun dampaknya sangat kecil bagi kehidupan sehari-hari.
Untuk melacak pergerakan inti, para peneliti memanfaatkan gempa berulang, yaitu gempa yang terjadi di lokasi hampir sama dan menghasilkan getaran yang sangat mirip, meskipun terjadi terpaut waktu bertahun-tahun. Dengan membandingkan rekaman lama dan baru, ilmuwan dapat mendeteksi perubahan halus yang terakumulasi seiring waktu.
Studi ini dipimpin oleh Dr. John E. Vidale, ahli seismologi dari University of Southern California (USC), yang telah lama meneliti perubahan struktur jauh di bawah permukaan Bumi.
Di bagian terdalam planet, inti dalam yang padat tersusun dari besi dan nikel, dan dikelilingi oleh inti luar yang cair. Inti luar inilah yang membantu menghasilkan medan magnet Bumi. Selama ini, ilmuwan mengamati bahwa inti dalam berotasi dengan kecepatan berbeda dibandingkan mantel dan kerak Bumi.
Namun karena inti dalam berada sangat dekat dengan titik leleh, permukaannya bisa berubah ketika didorong oleh aliran logam cair di sekitarnya. Artinya, perubahan sinyal gempa bisa disebabkan oleh rotasi inti, perubahan bentuk permukaannya, atau kombinasi keduanya.
Untuk membedakan hal tersebut, tim peneliti menganalisis 168 pasangan gempa berulang dari 128 peristiwa gempa di wilayah Kepulauan South Sandwich, yang tercatat antara tahun 1991 hingga 2024.
Saat membandingkan rekaman selama puluhan tahun, Vidale menemukan satu pola aneh. Data dari satu lokasi pengamatan di Amerika Utara tidak lagi cocok dengan pola sebelumnya, sementara lokasi lain tetap konsisten.
Rekaman dari Fairbanks, Alaska, mengikuti pola rotasi inti yang diharapkan. Sebaliknya, data dari Yellowknife, Kanada, berubah antara tahun 2004 hingga 2008. Jalur gelombang dari Kanada melintasi bagian tepi inti dalam, sehingga perubahan kecil di permukaan inti dapat mengubah sinyal gempa.
Temuan ini menunjukkan bahwa permukaan inti dalam Bumi mengalami perubahan struktur, bukan hanya sekadar berputar. Dengan membandingkan jalur gelombang yang menembus inti dan yang tidak, tim menyimpulkan bahwa perubahan tersebut terjadi di batas antara inti dalam yang padat dan inti luar yang cair.
Di wilayah ini, suhu dan tekanan sangat tinggi sehingga besi berada dekat kondisi meleleh. Dalam keadaan tersebut, material inti dapat berubah bentuk secara perlahan, bukan retak. Aliran logam cair di inti luar diduga menarik dan mendorong permukaan inti dalam, menyebabkan perubahan lokal.
Perubahan paling jelas terlihat pada bagian akhir sinyal gempa, saat gelombang menyebar dan memantul dari struktur kecil. Bagian ini sangat sensitif terhadap perubahan kecil di permukaan inti.
Meski demikian, keterbatasan data gempa berulang membuat ilmuwan belum bisa memastikan apakah perubahan ini terjadi secara cepat atau perlahan. Penelitian lanjutan dengan data tambahan diperlukan untuk memetakan siklus perubahan inti secara lebih lengkap.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
inti bumi gelombang gempa struktur bumi























