Teknologi kesadaran disuntikkan ke dalam otak (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini melaju sangat cepat. Mesin kini bisa menulis, berbincang, mengemudi, hingga mengambil keputusan yang tampak cerdas.
Sayangnya di balik kemajuan tersebut, para ilmuwan mengingatkan bahwa pemahaman tentang kesadaran manusia saat ini justru masih tertinggal jauh.
Kesadaran bukan sekadar kemampuan berpikir atau bertindak, melainkan pengalaman subjektif, mulai dari merasa sadar, merasakan emosi, nyeri, warna, dan memiliki rasa diri.
Hingga kini, sains belum memiliki penjelasan yang disepakati tentang bagaimana kesadaran muncul dan apa syarat sebuah sistem bisa disebut benar-benar sadar.
Kesenjangan inilah yang dianggap berbahaya. Ketika AI dan teknologi saraf berkembang lebih cepat daripada pemahaman tentang kesadaran, muncul risiko etis besar.
Manusia bisa saja secara tidak sengaja menciptakan sistem yang memiliki bentuk kesadaran, atau gagal mengenali makhluk yang sebenarnya memiliki pengalaman subjektif.
Peringatan ini disampaikan dalam sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang menyoroti bahwa ilmu kesadaran belum siap menghadapi dampak kemajuan AI dan neuroteknologi. Menurut para penulis, ketidakseimbangan ini bisa menimbulkan konsekuensi serius bagi masyarakat.
"Ilmu kesadaran kini bukan lagi sekadar bahan diskusi filsafat," ujar Profesor Axel Cleeremans dari Université Libre de Bruxelles, Belgia dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).
"Pemahaman tentang kesadaran sangat mendesak karena teknologi berkembang begitu cepat, dan dampaknya menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia," dia menambahkan.
Selama ini, penelitian memang telah mengaitkan kesadaran dengan aktivitas otak. Pemindaian otak menunjukkan pola tertentu saat seseorang mengalami sesuatu secara sadar. Namun para ilmuwan masih berbeda pendapat tentang bagian otak mana yang paling penting dan mekanisme apa yang sebenarnya melahirkan pengalaman tersebut.
Kesadaran juga memiliki banyak bentuk. Ada kesadaran dasar, seperti terjaga atau tertidur. Ada pula kesadaran isi, seperti melihat warna, mendengar suara, atau merasakan emosi. Selain itu, terdapat kesadaran diri, yakni kemampuan mengenali identitas pribadi dan merasa memiliki tubuh sendiri.
Salah satu perdebatan utama adalah perbedaan antara fungsi dan pengalaman. Komputer bisa menjalankan tugas kompleks tanpa merasakan apapun. Sementara manusia tidak hanya memproses informasi, tetapi juga mengalami makna, emosi, dan sensasi.
Untuk menjelaskan hal ini, para ilmuwan mengembangkan berbagai teori. Teori global workspace menyatakan bahwa kesadaran muncul ketika informasi dibagikan secara luas ke banyak bagian otak. Teori lain, seperti higher-order theory, menekankan bahwa pengalaman menjadi sadar ketika otak menyadari keadaan mentalnya sendiri.
Ada pula teori informasi terintegrasi yang memandang kesadaran sebagai hasil dari seberapa kuat dan terpadu informasi dalam sebuah sistem. Pendekatan ini bahkan telah menginspirasi alat untuk mendeteksi kesadaran tersembunyi pada pasien koma atau gangguan kesadaran berat.
Penulis studi ini menekankan pentingnya pengembangan alat uji kesadaran yang lebih andal. Alat tersebut tidak hanya berguna dalam dunia medis, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan etis besar, seperti kapan kesadaran mulai muncul dan makhluk mana yang benar-benar mampu merasakan penderitaan.
Profesor Anil Seth dari University of Sussex menilai bahwa kemajuan ilmu kesadaran akan mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri, hewan lain, dan kecerdasan buatan. Menurutnya, pertanyaan tentang kesadaran memang sudah lama ada, tetapi urgensinya kini berada pada titik tertinggi.
Di era AI, persoalan ini juga menyentuh ranah hukum dan etika. Sistem AI yang tampak seolah-olah sadar dapat memengaruhi emosi, kepercayaan, dan keputusan manusia, meskipun mesin tersebut mungkin tidak memiliki pengalaman subjektif sama sekali.
Karena itu, para peneliti menyerukan kerja sama lintas disiplin antara neuroscience, psikologi, filsafat, hukum, dan riset AI. Tanpa pemahaman yang lebih baik tentang kesadaran, manusia berisiko melangkah terlalu jauh dengan teknologi yang belum sepenuhnya dipahami.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Science.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kesadaran manusia perkembangan AI etika kecerdasan buatan























