Selasa, 03/02/2026 18:37 WIB

Es di Arktik Menyusut, Beruang Kutub Tunjukkan Anomali





Temuan terbaru di wilayah Svalbard, yang terletak di antara Norwegia dan Kutub Utara justru menunjukkan anomali. Sebagian beruang kutub dewasa makin gemuk.

Beruang kutub di Kutub Utara (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Beruang kutub sering dijadikan indikator kesehatan di Kutub Utara atau Arktik. Ketika es laut menyusut dan mangsa sulit ditemukan, hewan tersebut cepat menunjukkan dampaknya dengan penurunan berat badan.

Sebaliknya, penemuan terbaru di wilayah Svalbard, yang terletak di antara Norwegia dan Kutub Utara justru menunjukkan anomali. Sebagian beruang kutub dewasa di sana justru semakin gemuk meski es laut terus berkurang.

Wilayah Laut Barents di sekitar Svalbard merupakan salah satu kawasan dengan pemanasan tercepat di dunia. Sejak 1980, suhu rata-rata di wilayah ini naik hingga sekitar 2 derajat Celsius per dekade.

Dalam kondisi seperti itu, beruang kutub yang bergantung pada es laut biasanya mengalami kesulitan berburu dan penurunan populasi.

Tapi, sensus 2004 memperkirakan populasi beruang kutub Svalbard sekitar 2.650 ekor, dan jumlah tersebut relatif stabil selama bertahun-tahun berikutnya.

Hal ini terjadi meskipun es laut terus menyusut, membuat para peneliti bertanya-tanya cara beruang-beruang ini bisa bertahan, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).

Untuk menjawabnya, tim dari Norwegian Polar Institute yang dipimpin Jon Aars menganalisis kondisi tubuh beruang kutub selama hampir tiga dekade. Mereka meneliti 1.188 catatan pengukuran tubuh dari 770 beruang kutub dewasa yang dikumpulkan antara 1992 hingga 2019.

Peneliti menggunakan indikator yang disebut body composition index (BCI), yang mencerminkan cadangan lemak dan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Lemak sangat penting bagi beruang kutub karena menjadi sumber energi utama saat mereka tidak bisa berburu, terutama selama periode panjang tanpa es laut.

Selama periode penelitian, jumlah hari tanpa es di kawasan Laut Barents meningkat sekitar 100 hari, atau rata-rata empat hari per tahun. Secara teori, kondisi ini seharusnya mengurangi akses beruang kutub ke anjing laut, mangsa utama mereka.

Hasilnya justru berlawanan dengan dugaan. Sejak 2000, nilai BCI rata-rata beruang kutub dewasa di Svalbard meningkat. Artinya, beruang-beruang tersebut menyimpan lebih banyak lemak meskipun habitat esnya menyusut.

Salah satu penjelasan yang diajukan peneliti berkaitan dengan sumber makanan di darat. Populasi hewan seperti rusa kutub dan walrus, yang sebelumnya menurun akibat perburuan manusia, kini pulih berkat perlindungan dan pembatasan perburuan. Hewan-hewan ini menjadi alternatif sumber makanan bagi beruang kutub ketika berburu di es semakin sulit.

Selain itu, perubahan perilaku mangsa di laut juga diduga berperan. Menyusutnya es laut dapat membuat anjing laut terkonsentrasi di area es yang lebih kecil. Dalam kondisi ini, beruang kutub mungkin justru lebih mudah menemukan dan menangkap mangsa meskipun luas es secara keseluruhan berkurang.

Meski terlihat positif, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi ini belum tentu bertahan lama. Mereka menekankan bahwa beruang kutub Svalbard belum aman dari dampak pemanasan global yang berkelanjutan.

Jika es laut terus menyusut, beruang kutub harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencapai area berburu. Perjalanan yang lebih panjang, baik dengan berenang maupun berjalan, membutuhkan energi besar dan meningkatkan risiko kelelahan, cedera, bahkan kematian.

Bagi beruang kutub, keseimbangan energi menjadi kunci. Tambahan lemak dalam satu musim bisa membantu bertahan sementara, tetapi mungkin tidak cukup jika musim berikutnya menuntut perjalanan yang lebih ekstrem dan peluang berburu semakin kecil.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.

KEYWORD :

beruang kutub Arktik perubahan iklim Arktik es laut menyusut




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :