Ilustrasi kelelawar terbang (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Dokter di Bangladesh baru-baru ini menghadapi situasi yang membingungkan. Sejumlah pasien datang dengan gejala yang sangat mirip infeksi virus Nipah, penyakit berbahaya yang dikenal berasal dari kelelawar.
Tetapi, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa penyebabnya bukan Nipah, melainkan virus lain yang selama ini luput dari perhatian.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa pasien-pasien tersebut terinfeksi Pteropine orthoreovirus (PRV), virus yang juga berasal dari kelelawar buah, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).
Temuan ini menambah daftar panjang virus zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, dan menunjukkan bahwa ancaman dari kelelawar lebih beragam dari yang selama ini diperkirakan.
PRV ditemukan dalam sampel usap tenggorokan yang sebelumnya disimpan dari lima pasien. Awalnya, para dokter menduga Nipah karena gejalanya sangat khas, seperti demam, gangguan pernapasan, muntah, kelelahan, kebingungan, hingga gangguan saraf. Setelah Nipah disingkirkan lewat tes standar, analisis genetik lanjutan justru mengungkap keberadaan PRV.
Para ilmuwan tidak hanya menemukan materi genetik virus tersebut, tetapi juga berhasil menumbuhkan virus hidup dari beberapa sampel. Dikatakan bahwa PRV benar-benar menginfeksi pasien, bukan sekadar sisa virus yang tidak aktif.
Menariknya, kelima pasien diketahui mengonsumsi nira kurma mentah sebelum jatuh sakit. Di Bangladesh, nira kurma merupakan minuman tradisional musiman. Namun, kelelawar buah sering hinggap di wadah penampungan nira, meninggalkan air liur atau kotoran yang bisa menjadi jalur langsung penularan virus ke manusia.
Kelelawar buah dikenal sebagai inang alami berbagai virus berbahaya tanpa menunjukkan gejala sakit. Virus rabies, Nipah, Hendra, Marburg, hingga virus yang berkerabat dengan SARS semuanya memiliki kaitan dengan populasi kelelawar.
PRV termasuk dalam keluarga Orthoreovirus, yang pertama kali dikenali lewat virus serupa di Australia pada akhir 1960-an. Virus ini memiliki materi genetik yang terbagi dalam sepuluh segmen terpisah.
Adapun struktur tersebut memungkinkan pertukaran gen antarvirus ketika dua strain menginfeksi satu inang yang sama, sebuah proses yang disebut reassortment.
Proses ini dapat mengubah tingkat penularan atau keparahan penyakit, apalagi mengingat kelelawar mampu terbang jauh dan menyebarkan virus lintas wilayah.
Menurut Dr. Nischay Mishra dari Columbia University, temuan ini menunjukkan bahwa risiko mengonsumsi nira kurma mentah tidak hanya terbatas pada virus Nipah. Dia menekankan pentingnya sistem pengawasan penyakit yang lebih luas agar virus baru tidak terus lolos dari deteksi.
Catatan rumah sakit menunjukkan bahwa seluruh pasien mengalami penyakit berat. Empat orang didiagnosis menderita ensefalitis atau peradangan otak, sementara satu anak mengalami kejang akibat demam. Gejalanya meliputi kebingungan, gangguan pernapasan, kesulitan berjalan, dan penurunan kesadaran.
Hasil pemantauan lanjutan menunjukkan kondisi yang beragam. Beberapa pasien pulih sepenuhnya, tetapi sebagian lainnya mengalami sisa keluhan seperti lemah berkepanjangan, gangguan kognitif, atau masalah pernapasan. Satu pasien bahkan meninggal dunia setelah kondisi sarafnya memburuk.
Padahal, laporan PRV sebelumnya di negara seperti Malaysia dan Indonesia umumnya hanya menyebabkan infeksi saluran napas ringan. Perbedaan tingkat keparahan di Bangladesh menimbulkan kekhawatiran bahwa infeksi PRV serius diduga sudah terjadi di masyarakat tanpa pernah teridentifikasi.
Penemuan virus ini dimungkinkan berkat teknologi viral capture sequencing, metode canggih yang mampu mendeteksi ribuan jenis virus sekaligus dalam satu pemeriksaan. Peneliti tidak menemukan patogen lain dalam sampel, sehingga memperkuat dugaan bahwa PRV adalah penyebab utama penyakit tersebut.
Studi lanjutan juga menemukan virus PRV yang sangat mirip pada kelelawar buah di sekitar lokasi pasien, khususnya di wilayah Daerah Aliran Sungai Padma.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
virus kelelawar manusia penyakit zoonosis baru nira kurma mentah





















