Selasa, 03/02/2026 17:35 WIB

Waspadai Risiko Gula Darah dan Lemak di Balik Tren Diet Keto





Diet ketogenik atau diet keto selama ini dikenal luas sebagai strategi penurunan berat badan yang efektif karena menekan asupan karbohidrat

Ilustrasi diet keto (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Diet ketogenik atau diet keto selama ini dikenal luas sebagai strategi penurunan berat badan yang efektif karena menekan asupan karbohidrat hingga sangat rendah dan menggantinya dengan lemak dalam jumlah besar.

Namun, penelitian terbaru pada hewan menunjukkan bahwa manfaat tersebut bisa datang dengan risiko kesehatan yang tidak langsung. Studi ini mengungkap bahwa meskipun berat badan bisa terkendali, kerusakan metabolik justru dapat berkembang secara perlahan di balik layar.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menggunakan model tikus untuk melihat dampak diet keto dalam jangka Panjang, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (3/2).

Selama lebih dari sembilan bulan, tikus-tikus tersebut dipertahankan pada pola makan tinggi lemak dan hampir tanpa karbohidrat, lalu diuji kembali dengan pemberian karbohidrat. Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan berat badan tidak selalu mencerminkan kondisi metabolisme yang sehat.

Dr. Molly Gallop, yang melakukan penelitian ini saat menjalani program postdoktoral, menjelaskan bahwa pendekatan jangka panjang ini penting untuk memahami bagaimana diet ekstrem membentuk ulang fungsi organ dari waktu ke waktu.

Tim peneliti di University of Utah Health secara sengaja memperpanjang durasi studi agar dapat menangkap kerusakan metabolik yang berkembang secara perlahan dan sering kali luput dari pengamatan jika hanya melihat angka timbangan.

Selama diet keto berlangsung, tikus dipaksa membakar lemak sebagai sumber energi utama sepanjang waktu. Kondisi ini dikenal sebagai ketosis, yaitu saat tubuh menggunakan keton sebagai bahan bakar pengganti glukosa.

Dalam jangka pendek, keadaan ini memang mampu menurunkan kadar gula darah, yang menjadi salah satu alasan diet keto banyak dipromosikan.

Secara historis, diet ketogenik pertama kali digunakan dalam dunia medis untuk membantu mengendalikan epilepsi, khususnya pada anak-anak.

Namun, seiring popularitasnya sebagai metode penurunan berat badan, muncul rekomendasi baru yang menekankan pentingnya pengawasan ketat dan pembatasan durasi, mengingat potensi risiko metabolik yang dapat muncul jika diterapkan terlalu lama.

Menariknya, tikus yang menjalani diet keto memang mengalami kenaikan berat badan yang jauh lebih rendah dibandingkan tikus dengan pola makan tinggi lemak ala Barat.

Akan tetapi, sebagian besar berat badan yang bertambah berasal dari jaringan lemak, bukan massa otot. Perubahan komposisi tubuh ini menunjukkan bahwa angka berat badan saja tidak cukup untuk menilai kesehatan secara keseluruhan.

Dalam eksperimen ini, komposisi diet keto yang digunakan sangat ekstrem, dengan sekitar 90 persen kalori berasal dari lemak dan hampir nol karbohidrat. Pola makan seperti ini memang menekan kenaikan berat badan, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko gangguan pada kimia darah, terutama yang berkaitan dengan lemak.

Meski terlihat lebih ramping, darah tikus-tikus tersebut justru mengandung kadar lemak yang tinggi, suatu kondisi yang dikenal sebagai hiperlipidemia. Kadar trigliserida, yaitu bentuk utama lemak dalam darah, meningkat sejak awal dan tetap tinggi selama periode diet yang panjang. Kondisi ini berbahaya karena lemak dalam darah harus disimpan atau diproses oleh organ tubuh tertentu.

"Jika Anda menjalani diet yang sangat tinggi lemak, lipid itu harus pergi ke suatu tempat,” ujar Dr. Amandine Chaix, profesor nutrisi dan fisiologi integratif yang terlibat dalam penelitian ini.

Temuan ini menunjukkan bahwa masalah metabolik dapat muncul bahkan sebelum perubahan berat badan terlihat secara signifikan.

Selain darah, organ hati juga menjadi tempat penumpukan lemak berlebih, terutama pada tikus jantan. Akumulasi ini menyebabkan penyakit hati berlemak dan gangguan fungsi hati yang dapat mengacaukan pengolahan lemak dalam tubuh.

Menariknya, tikus betina relatif terlindungi dari penumpukan lemak di hati, perbedaan yang hingga kini belum dapat dijelaskan sepenuhnya oleh para peneliti.

Perbedaan respons antara jantan dan betina ini mengisyaratkan bahwa faktor hormon atau enzim hati mungkin berperan dalam menentukan risiko. Hal tersebut sekaligus menegaskan bahwa hasil penelitian pada hewan tidak bisa diterjemahkan secara sederhana ke manusia tanpa mempertimbangkan variasi biologis yang kompleks.

Masalah metabolik yang tersembunyi ini baru benar-benar terlihat ketika tikus-tikus tersebut kembali diberi karbohidrat. Setelah dua hingga tiga bulan menjalani diet keto, kadar gula darah dan insulin mereka memang rendah, yang sekilas tampak menguntungkan.

Namun, pemberian karbohidrat dalam jumlah kecil justru memicu intoleransi glukosa, dengan kadar gula darah yang tetap tinggi lebih lama dari normal. Kondisi tersebut terjadi karena pankreas melepaskan insulin dalam jumlah yang terlalu sedikit.

"Gula darah mereka naik sangat tinggi dan bertahan lama, dan itu cukup berbahaya," kata Chaix.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sel beta pankreas masih mampu merespons insulin, tetapi mengalami gangguan dalam waktu pelepasannya. Gambaran mikroskop elektron memperlihatkan adanya stres pada aparatus Golgi, struktur sel yang bertanggung jawab mengemas protein, sehingga pelepasan insulin menjadi lebih lambat.

Kabar baiknya, kerusakan ini tidak sepenuhnya permanen. Ketika diet keto dihentikan dan tikus jantan dialihkan ke pola makan rendah lemak selama empat minggu, kemampuan tubuh untuk mengendalikan gula darah kembali normal.

Namun, penurunan berat badan yang sebelumnya dicapai tidak bertahan lama setelah tikus kembali ke pola makan ala Barat. Siklus naik-turun ini menjadi relevan bagi manusia, mengingat banyak orang yang menjalani diet keto secara tidak konsisten, lalu kembali mengonsumsi karbohidrat dalam kehidupan sehari-hari.

KEYWORD :

diet keto risiko manfaat diet keto kesehatan metabolik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :