Ilustrasi pohon kurma (Foto: Unsplash/So Very)
Jakarta, Jurnas.com - Pada suatu pagi di Madinah, Rasulullah SAW berdiri seperti biasa di masjid sederhana yang lantainya masih beralas tanah. Jamaah duduk rapat di hadapannya, menunggu setiap kata yang keluar dari lisan beliau.
Saat itu, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma. Tidak ada mimbar, tidak ada ketinggian. Hanya suara yang jernih dan hati yang khusyuk.
Seiring waktu, jumlah kaum Muslimin semakin banyak. Mereka yang duduk di bagian belakang mulai kesulitan melihat dan mendengar Rasulullah SAW. Para sahabat pun mengusulkan agar dibuatkan tempat yang sedikit lebih tinggi agar pesan beliau dapat tersampaikan dengan jelas.
Rasulullah SAW menyetujui usulan itu. Maka dibuatlah sebuah mimbar sederhana dari kayu, dengan beberapa anak tangga.
Hari ketika Rasulullah SAW pertama kali menaiki mimbar itu menjadi peristiwa yang tak pernah dilupakan sejarah. Saat beliau melangkah menjauh dari batang kurma yang selama ini menjadi sandaran, masjid tiba-tiba dipenuhi suara yang membuat semua orang terdiam.
Belajar Makna Sabar dari Kisah Nabi Ayyub AS
Para sahabat saling berpandangan. Sebagian menahan napas, sebagian lain menunduk. Rasulullah SAW pun turun dari mimbar dan menghampiri batang kurma itu. Dengan penuh kelembutan, beliau memeluknya. Perlahan, suara itu mereda. Masjid kembali sunyi, namun hati para sahabat justru bergemuruh.
Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa batang kurma tersebut menangis karena ditinggalkan dari zikir dan kedekatannya dengan beliau. Seandainya tidak ditenangkan, ia akan terus menangis hingga hari kiamat.
Kisah ini pun diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih dan menjadi pengingat bahwa bahkan benda mati pun merasakan kehilangan ketika terpisah dari Rasulullah SAW.
Mimbar itu sendiri kemudian menjadi bagian penting dari sejarah dakwah Islam. Dari sanalah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah, nasihat, dan pesan-pesan kehidupan.
Mimbar bukan sekadar tempat berdiri, tetapi simbol penyampaian kebenaran. Setiap anak tangganya seolah menyimpan jejak kata-kata yang menghidupkan iman dan membimbing umat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, mimbar tersebut tetap dijaga dan dimuliakan. Di Masjid Nabawi hari ini, mimbar telah mengalami perubahan bentuk seiring renovasi masjid. Namun maknanya tidak pernah berubah. Ia tetap menjadi simbol dakwah, ilmu, dan amanah yang diwariskan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Pohon Kurma Kisah Nabi Mimbar Nabi Muhammad SAW


























