Ilustrasi - Bulan Syaban (Foto: NU Banyumas)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Syaban dikenal sebagai salah satu waktu penting dalam kalender Islam karena pada bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Pemahaman ini bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan kebiasaan beliau memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah, di bulan Syaban.
Dalam riwayat An-Nasa’i dan Imam Ahmad, Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa beliau berpuasa lebih banyak di bulan Syaban dibanding bulan lain, kecuali Ramadan. Nabi menjawab bahwa Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadan, sementara pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat, sehingga beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, meski demikian, para ulama menegaskan bahwa pengangkatan amal tidak hanya terjadi pada bulan Syaban. Riwayat-riwayat sahih menunjukkan bahwa pelaporan amal manusia berlangsung dalam beberapa waktu dengan skala yang berbeda-beda, tanpa adanya pertentangan dalil di dalamnya.
Selain pengangkatan tahunan di bulan Syaban, amal perbuatan manusia juga dilaporkan setiap pekan, tepatnya pada hari Senin dan Kamis. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hari-hari tersebut amal diperlihatkan kepada Allah, dan ampunan diberikan kepada hamba yang tidak menyekutukan-Nya serta tidak menyimpan permusuhan.
Lebih dari itu, amal manusia juga diangkat setiap hari, yakni pada pagi dan petang. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menerangkan bahwa amal malam diangkat sebelum amal siang, dan amal siang diangkat sebelum amal malam, sebagai bentuk ketelitian Allah dalam mencatat perbuatan hamba-Nya.
Tak hanya harian dan mingguan, terdapat pula riwayat yang menyebutkan pengangkatan amal pada pertengahan hari. Rasulullah SAW disebutkan rutin menunaikan shalat sunnah setelah tergelincir matahari seraya menyatakan bahwa saat itu pintu-pintu langit dibuka dan beliau berharap amal saleh diangkat pada waktu tersebut.
Para ulama, termasuk Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki dalam Madza fi Sya‘ban, menegaskan bahwa seluruh riwayat ini saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Pengangkatan amal di bulan Syaban memiliki cakupan yang lebih luas dan bersifat tahunan, sementara pengangkatan harian dan mingguan berfungsi sebagai evaluasi berkelanjutan.
Pemahaman ini menegaskan bahwa bulan Syaban memiliki keistimewaan tersendiri sebagai momentum muhasabah sebelum Ramadan. Karena itu, Rasulullah SAW mencontohkan peningkatan ibadah di bulan ini, khususnya puasa sunnah, agar catatan amal tahunan diangkat dalam kondisi terbaik.
Dengan demikian, amal manusia tidak hanya diangkat pada bulan Syaban. Islam justru mendorong umatnya untuk menjaga kualitas ibadah setiap waktu, sembari menjadikan Syaban sebagai puncak persiapan spiritual menuju bulan suci Ramadan. (*)
Wallahu`alam
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Amal Manusia Pengangkatan Amal Bulan Syaban Nisfu Syaban





















