Matahari terbenam di atas Gaza, dilihat dari sisi perbatasan Israel antara Gaza dan Israel. REUTERS
Jakarta, Jurnas.com - Matahari, bintang di pusat Tata Surya, berotasi pada porosnya, namun tidak berputar sebagai satu kesatuan seperti planet padat. Hal ini terjadi karena Matahari tersusun dari plasma panas yang memungkinkan setiap bagian bergerak dengan kecepatan berbeda.
Karena sifat tersebut, waktu yang dibutuhkan Matahari untuk menyelesaikan satu putaran tidak bersifat tunggal dan bergantung pada lokasi pengukuran. Bagian ekuator berotasi lebih cepat dibandingkan wilayah yang mendekati kutub.
Dikutip dari Live Sicience, pengamatan menunjukkan ekuator Matahari menyelesaikan satu rotasi terhadap bintang jauh dalam sekitar 25 hari, sementara wilayah kutub membutuhkan waktu lebih dari 34 hari. Perbedaan ini dikenal sebagai rotasi diferensial dan terutama terjadi di lapisan luar Matahari yang bersifat dinamis.
Sementara itu, lapisan yang lebih dalam seperti zona radiatif menunjukkan rotasi yang lebih seragam dengan periode sekitar 26 hari. Namun, kecepatan rotasi inti Matahari hingga kini masih belum dapat diukur secara pasti.
Pemahaman tentang rotasi Matahari berawal dari pengamatan bintik matahari yang bergerak melintasi permukaannya, yang telah dilakukan sejak abad ke-17. Metode ini kemudian dikembangkan dan menjadi dasar pengukuran rotasi Matahari sebelum teknologi modern tersedia.
Saat ini, para ilmuwan menggunakan teknik seperti helioseismologi dan pengukuran pergeseran Doppler untuk mempelajari rotasi internal Matahari. Pendekatan ini memungkinkan pemetaan gerakan plasma dari permukaan hingga ke lapisan dalam.
Rotasi diferensial Matahari memiliki peran penting dalam pembentukan medan magnet dan aktivitas Matahari, termasuk suar dan lontaran massa korona. Fenomena tersebut dapat memicu badai geomagnetik yang berdampak pada satelit, komunikasi, dan sistem navigasi di Bumi.
Karena itu, rotasi Matahari bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan kunci untuk memahami perilaku bintang yang paling berpengaruh bagi kehidupan di planet kita. Penelitian tentangnya terus dikembangkan seiring meningkatnya kebutuhan memprediksi cuaca antariksa secara akurat. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Rotasi Matahari Poros Matahari Tata Surya























