Ilustrasi - berprasangka buruk pada orang lain (Foto: AI)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam kehidupan sosial, prasangka sering muncul tanpa disadari. Penilaian yang terbentuk sebelum mengetahui fakta kerap memengaruhi sikap dan perilaku seseorang terhadap orang lain.
Islam memandang prasangka buruk sebagai penyakit hati yang dapat merusak hubungan sosial, bahkan menggerogoti kualitas keimanan seorang Muslim.
Prasangka buruk atau su`uzan biasanya lahir dari minimnya informasi dan dorongan hawa nafsu. Ketika seseorang lebih mengedepankan asumsi daripada klarifikasi, maka kesalahpahaman mudah berkembang menjadi fitnah, kebencian, dan permusuhan.
Karena itulah, Islam menempatkan larangan berprasangka buruk sebagai bagian penting dari etika bermasyarakat.
Allah SWT secara tegas memperingatkan kaum beriman agar menjauhi prasangka yang tidak berdasar. Dalam Al-Qur`an disebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa prasangka tidak selalu benar dan bahkan dapat bernilai dosa ketika didasarkan pada dugaan semata. Islam tidak melarang sikap waspada, tetapi menentang penilaian yang tidak disertai bukti dan niat yang baik.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahaya prasangka buruk dalam kehidupan umat. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa prasangka sering kali lebih menyesatkan daripada kebohongan yang diucapkan secara lisan. Ia tumbuh dalam hati, lalu memengaruhi pikiran dan tindakan tanpa disadari.
Larangan berprasangka buruk memiliki hikmah besar dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Dengan mengedepankan husnuzan atau prasangka baik, seseorang akan lebih mudah memaafkan, menahan emosi, serta menghindari konflik yang tidak perlu. Sikap ini juga memperkuat persaudaraan dan kepercayaan antarsesama.
Dalam konteks kehidupan modern, terutama di era media sosial, larangan berprasangka buruk menjadi semakin relevan. Informasi yang beredar cepat dan tidak selalu akurat sering memancing penilaian sepihak.
Islam mengajarkan agar seorang Muslim bersikap tabayyun, meneliti kebenaran informasi sebelum mengambil sikap atau menyebarkannya.
Pada akhirnya, menjauhi prasangka buruk bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga latihan spiritual. Dengan membersihkan hati dari su’uzan, seorang Muslim menjaga kejernihan iman dan ketenangan batin.
Islam mengajarkan bahwa prasangka baik adalah jalan menuju kedamaian, sementara prasangka buruk hanya akan melahirkan penyesalan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman prasangka buruk Rasulullah SAW kitab Al-Qur`an






















