Senin, 02/02/2026 19:16 WIB

H-3 Perjanjian Nuklir Berakhir, Eks Presiden Rusia: Kiamat Makin Dekat





Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, menyebut perjanjian nuklir yang ada saat ini akan segera berakhir dan belum ada tanda-tanda pembaruan.

Wakil Ketua Dewan Keamanan sekaligus mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa dunia patut merasa khawatir apabila perjanjian pengendalian senjata nuklir New START berakhir tanpa adanya pengganti.

Menurut dia, kondisi tersebut akan membuat kekuatan nuklir terbesar di dunia tidak lagi memiliki batasan senjata, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak awal 1970-an.

Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Amerika Serikat saat itu Barack Obama dan Dmitry Medvedev, yang menjabat Presiden Rusia pada periode 2008–2012.

Kesepakatan tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan masing-masing negara hingga 1.550 unit. Perjanjian ini dijadwalkan berakhir pada 5 Februari.

Medvedev mengatakan bahwa hingga kini mereka belum menerima tanggapan resmi dari Washington atas usulan Presiden Vladimir Putin untuk mempertahankan batasan jumlah rudal dan hulu ledak, yang berlaku selama satu tahun tambahan.

"Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini langsung berarti bencana dan perang nuklir akan dimulai, tetapi hal ini tetap harus mengkhawatirkan semua orang," ujar Medvedev dikutip dari Reuters pada Senin (2/2).

"Jam (kiamat) terus berdetak dan jelas waktunya semakin dipercepat," dia menambahkan.

Medvedev, yang dikenal sebagai tokoh garis keras, mencerminkan pandangan kelompok hardliner di dalam elite Rusia. Pada Januari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan bahwa ia akan membiarkan perjanjian tersebut berakhir.

"Jika itu berakhir, maka biarlah berakhir. Kami akan membuat perjanjian yang lebih baik," ujar Trump kepada New York Times kala itu.

Medvedev menilai perjanjian pengendalian senjata memiliki peran penting, bukan hanya untuk membatasi jumlah hulu ledak, tetapi juga sebagai sarana untuk memverifikasi niat masing-masing pihak serta menjaga unsur kepercayaan di antara negara-negara pemilik senjata nuklir utama.

Dia menambahkan bahwa hampir sepanjang hidupnya selalu ada perjanjian pengendalian senjata atau setidaknya pembahasan mengenai hal tersebut antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, atau kemudian Rusia.

"Ketika ada kesepakatan, itu berarti masih ada kepercayaan. Namun ketika tidak ada kesepakatan, itu berarti kepercayaan telah habis," Medvedev menambahkan.

Pada 2023, Presiden Vladimir Putin menangguhkan partisipasi Moskow dalam perjanjian New START sebagai respons atas dukungan Amerika Serikat terhadap Ukraina dalam perang dengan Rusia.

KEYWORD :

perjanjian New START senjata nuklir Rusia AS perjanjian nuklir Medvedev Rusia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :