Senin, 02/02/2026 19:20 WIB

Studi: Lemak Tersembunyi Terkait dengan Penuaan Otak Lebih Cepat





Penumpukan lemak yang tidak terlihat dari luar, sering kali membawa dampak serius bagi kesehatan otak.

Ilustrasi penuaan otak (Foto: Health)

Jakarta, Jurnas.com - Penumpukan lemak yang tidak terlihat dari luar, sering kali membawa dampak serius bagi kesehatan otak. Penelitian terbaru menemukan bahwa lemak tersembunyi berkaitan dengan penuaan otak yang lebih cepat serta penyusutan jaringan otak, bahkan pada orang dengan berat badan normal.

Studi ini menyoroti bahwa risiko terhadap otak dapat terbentuk secara diam-diam. Artinya, seseorang yang tidak tampak obesitas secara fisik tetap bisa menyimpan faktor risiko neurologis yang signifikan akibat distribusi lemak internal, sebagaimana dikutip dari Earth pada Senin (2/2).

Dalam analisis pemindaian tubuh dan otak beresolusi tinggi, para peneliti menemukan sinyal risiko paling kuat berasal dari lemak yang menumpuk di organ dalam, bukan lemak di bawah kulit.

Lemak pankreas dan pola yang dikenal sebagai skinny fat terbukti paling erat kaitannya dengan penyusutan area otak dan penurunan fungsi kognitif.

Tim peneliti yang dipimpin Dr. Kai Liu dari The Affiliated Hospital of Xuzhou Medical University menggunakan pemindaian MRI untuk memetakan delapan lokasi penumpukan lemak. Setelah disesuaikan dengan indeks massa tubuh (BMI), partisipan dikelompokkan ke dalam enam pola distribusi lemak yang berbeda.

Dari enam pola tersebut, dua menunjukkan risiko tertinggi terhadap otak. Pola pertama adalah dominasi lemak di pankreas, meskipun organ lain seperti hati tidak tampak berlemak. Pada kelompok ini, kadar lemak pankreas tercatat bisa mencapai sekitar 30 persen, jauh lebih tinggi dibanding kelompok lain maupun individu bertubuh ramping.

Pola kedua adalah skinny fat, kondisi ketika seseorang memiliki berat badan normal tetapi persentase lemak tubuhnya tinggi dan massa otot relatif rendah. Pola ini sering luput dari pemeriksaan rutin karena BMI terlihat normal, padahal distribusi lemak, terutama di area perut, cukup besar.

Menurut Liu, ciri utama pola ini adalah rasio berat badan terhadap massa otot yang tinggi, terutama pada pria. Rasio tersebut mencerminkan rendahnya massa otot yang berperan penting dalam metabolisme dan perlindungan kesehatan organ.

Penumpukan lemak di organ, yang dikenal sebagai lemak ektopik, bersifat lebih berbahaya karena memicu gangguan metabolisme dan resistensi insulin. Kondisi ini dapat meningkatkan peradangan sistemik dan merusak pembuluh darah kecil, termasuk yang menyuplai otak.

Dampaknya terlihat jelas pada struktur otak. Peneliti menemukan penurunan volume gray matter, jaringan otak yang berperan dalam pemrosesan informasi, serta peningkatan white matter hyperintensities, penanda kerusakan pembuluh darah kecil di otak. Temuan ini berkorelasi dengan tampilan otak yang tampak lebih `tua` dari usia sebenarnya.

Penurunan fungsi kognitif juga terdeteksi melalui tes berpikir dan memori. Peserta dengan pola lemak berisiko membutuhkan waktu respon lebih lama dan menunjukkan penurunan memori visual serta memori prospektif, terutama pada pria dengan pola skinny fat.

Catatan medis menunjukkan risiko lanjutan. Pria dengan pola skinny fat memiliki risiko depresi hingga tiga kali lipat dan risiko stroke hampir dua kali lebih tinggi. Sementara itu, perempuan dengan dominasi lemak pankreas menunjukkan peningkatan risiko stroke dan epilepsi.

Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena bersifat potret satu waktu. Hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan, dan pemantauan jangka panjang masih diperlukan untuk melihat apakah perubahan pola lemak dapat memperlambat penuaan otak.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Radiology.

KEYWORD :

lemak tersembunyi tubuh penuaan otak cepat lemak pankreas




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :