Senin, 02/02/2026 16:24 WIB

Waspada, Infeksi Pernapasan Bisa Berujung Penyakit Alzheimer





Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan bahwa bakteri penyebab pneumonia ringan dan infeksi pernapasan umum dikaitkan dengan proses yang berujung Alzheimer

Ilustrasi penyakit Alzheimer (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Penyakit Alzheimer terus meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, hingga kini pemicu awal kerusakan otak masih belum sepenuhnya dipahami. Ketidakpastian ini membuat upaya pencegahan dan pengobatan berjalan lambat.

Penelitian terbaru kini mengarah pada faktor yang tak terduga. Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan bahwa bakteri penyebab pneumonia ringan dan infeksi pernapasan umm dikaitkan dengan proses biologis yang berujung pada Alzheimer.

Dalam sebuah tinjauan ilmiah tahun 2024, peneliti dari Cedars-Sinai Medical Center menelaah hubungan antara Chlamydia pneumoniae dan Alzheimer, sebagaimana dikutip dari Earth pada Senin (2/2).

Di Amerika Serikat, sekitar 7,2 juta lansia hidup dengan demensia Alzheimer pada 2025, menjadikan temuan ini relevan secara luas.

Chlamydia pneumoniae adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Keunikan bakteri ini terletak pada kemampuannya bertahan lama di dalam sel, beralih antara bentuk aktif dan bentuk laten untuk menghindari sistem imun maupun antibiotik.

Ketahanan tersebut penting dalam konteks penuaan. Infeksi yang berulang atau tidak sepenuhnya sembuh dapat memicu peradangan kronis, kondisi yang diketahui berbahaya bagi jaringan otak.

Agar berdampak pada Alzheimer, bakteri harus memengaruhi otak. Para ilmuwan meneliti dua jalur utama, yakni melalui aliran darah atau melalui rongga hidung yang terhubung langsung dengan sistem saraf. Sel imun yang terinfeksi bahkan diduga mampu menembus sawar darah-otak.

Petunjuk terkuat datang dari analisis jaringan otak pasien Alzheimer setelah meninggal. Sejumlah studi menemukan materi genetik Chlamydia pneumoniae di area otak yang juga dipenuhi plak amiloid, ciri khas Alzheimer. Namun, tidak semua penelitian berhasil menemukan bakteri ini, sehingga hubungannya masih bersifat korelatif.

Eksperimen pada hewan memberikan dukungan tambahan. Tikus yang terinfeksi bakteri ini melalui hidung menunjukkan pembentukan plak amiloid di otak, meskipun model hewan belum sepenuhnya mencerminkan proses penuaan manusia atau gangguan kognitif jangka panjang.

Menariknya, protein amiloid beta yang selama ini dianggap limbah otak kini dipandang sebagai bagian dari respons imun. Dalam kondisi infeksi berulang, otak dapat terus memproduksi amiloid beta, yang lama-kelamaan menumpuk dan sulit dibersihkan.

Selain itu, peradangan kronis dapat merusak neuron secara tidak langsung. Sinyal imun yang terus aktif memicu sel imun otak menghasilkan zat beracun dan menurunkan kemampuan membersihkan plak.

Faktor genetik juga berperan. Varian gen APOE4, yang dikenal meningkatkan risiko Alzheimer, diduga memengaruhi cara sel merespons infeksi dan peradangan, sehingga memperberat dampaknya di otak.

Para peneliti menekankan bahwa bukti saat ini belum cukup untuk menyimpulkan penyebab Alzheimer. Antibiotik tidak dianjurkan sebagai pencegahan Alzheimer, karena risikonya lebih besar dibanding manfaat yang belum terbukti.

Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Neuroscience.

KEYWORD :

infeksi pernapasan Alzheimer Chlamydia pneumoniae otak penyebab Alzheimer terbaru




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :