Ilustrasi - Pemikiran Al-Khazini tentang gravitasi (Foto: Laduni)
Jakarta, Jurnas.com - Nama gravitasi selama ini identik dengan Isaac Newton, namun sejarah mencatat bahwa fondasi awal pemikiran tentang gaya tarik bumi telah muncul jauh sebelum abad ke-17. Salah satu tokoh kuncinya adalah Al-Khazini, ilmuwan Muslim abad ke-12 yang kontribusinya berpengaruh hingga ke sains modern.
Pria bernama lengkap Abu Fath Abd al-Rahman Mansour al-Khazini tersebut, tidak lahir dari lingkungan akademik mapan, karena sebelum menekuni ilmu pengetahuan ia sempat bekerja sebagai pegawai di sebuah kerajaan. Namun, kecerdasan intelektualnya menarik perhatian sang majikan, hingga ia diberi kesempatan belajar secara serius.
Dikutip dari berbagai sumber, Al-Khazini kemudian berguru kepada Omar Khayyam, ilmuwan dan penyair besar, serta mendalami matematika, filsafat, astronomi, dan sastra. Pemikirannya juga dipengaruhi tokoh-tokoh besar seperti Aristoteles, Archimedes, Ibnu Haitham, dan Al-Biruni.
Dari latar belakang itu, Al-Khazini berkembang menjadi ilmuwan brilian dengan pengaruh luas, bahkan hingga ke Barat. Ia melahirkan berbagai gagasan penting, mulai dari metode eksperimental dalam mekanika hingga konsep massa, berat, energi potensial, dan jarak gravitasi.
Pemikirannya terdokumentasi dalam karya monumental Mizan al-Hikmah yang ditulis pada 1121 M. Kitab ini membahas prinsip keseimbangan hidrostatis, mekanika, dan hidrostatika, serta menjadi rujukan penting dalam fisika Islam.
Selain itu, melalui az-Zij as-Sanjari, Al-Khazini mengulas astronomi dengan membahas posisi 46 bintang dan merancang jam air 24 jam untuk keperluan pengamatan langit. Karya ini menunjukkan keterkaitan erat antara kajian fisika dan kosmologi pada masanya.
Dalam kajian gravitasinya, Al-Khazini berpandangan bahwa kekuatan tarik suatu benda berubah sesuai jarak antara benda yang jatuh dan benda yang menariknya. Temuan ini menandai pemahaman awal bahwa gravitasi tidak bersifat konstan, melainkan dipengaruhi jarak.
Meski tidak merumuskan persamaan matematika seperti Newton, Al-Khazini telah mengidentifikasi variabel-variabel utama dalam gravitasi bumi. Newton kemudian menyempurnakan konsep tersebut pada abad ke-17 melalui formulasi matematis yang dikenal luas hingga kini.
Meski sangat akurat, hukum Newton memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan fenomena ekstrem di alam semesta. Dari sinilah Albert Einstein memperkenalkan Teori Relativitas Umum pada 1915, yang memandang gravitasi bukan hanya sebagai gaya tarik, melainkan akibat kelengkungan ruang dan waktu oleh massa dan energi.
Teori Einstein membuka pemahaman baru tentang alam semesta, menjelaskan pembelokan cahaya, gelombang gravitasi, hingga lubang hitam. Meski begitu, hukum Newton tetap relevan untuk kebutuhan praktis, sementara relativitas digunakan pada skala kosmik.
Sementara itu, kontribusi Al-Khazini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan bertumpu pada warisan panjang peradaban sebelumnya. Dalam konteks ini, sains dan agama dalam Islam tidak dipertentangkan, tetapi saling menguatkan dalam membaca alam semesta.
Dengan mengenal Al-Khazini, dapat diketahui bahwa gravitasi bukan sekadar hukum fisika, melainkan juga bagian dari tradisi intelektual Islam yang kaya dan visioner. Warisan ini sekaligus menegaskan bahwa ilmuwan Muslim memiliki peran penting dalam fondasi sains global.
Rangkaian pemikiran Al-Khazini, Newton, dan Einstein menunjukkan bahwa gravitasi dipahami melalui perjalanan panjang yang saling melengkapi. Dari peradaban Islam hingga fisika modern,menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara bertahap, lintas zaman, dan lintas budaya. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gravitasi Bumi Ilmuwan Muslim Pemikiran Al-Khazini Teori Gravitasi






















