Senin, 02/02/2026 00:41 WIB

Gambaran Gravitasi Bumi dalam Al-Quran dan Jejak Ilmuwan Muslim





Salah satu ayat Al-Qur`an yang sering dikaitkan dengan konsep gravitasi terdapat dalam Surah Al-Mursalat ayat 25–26

Ilustrasi - Pemikiran Ilmuwan Muslim Al-Khazini tentang gravitasi Bumi (Foto: Laduni)

Jakarta, Jurnas.com - Perbincangan mengenai gravitasi Bumi tidak hanya hadir dalam ranah sains modern, tetapi juga mendapat perhatian dalam khazanah keilmuan Islam. Sejumlah ayat Al-Qur’an dan pemikiran ilmuwan Muslim klasik kerap dipahami sebagai isyarat tentang gaya tarik yang menjaga Bumi tetap stabil dan layak dihuni.

Salah satu ayat Al-Qur`an yang sering dikaitkan dengan konsep gravitasi terdapat dalam Surah Al-Mursalat ayat 25–26, ketika Allah menyebut Bumi sebagai kifātan, tempat berkumpul bagi yang hidup dan yang mati. Sejumlah ulama kontemporer menafsirkan istilah ini sebagai gambaran sifat Bumi yang menarik dan menghimpun segala sesuatu di atasnya.

Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, misalnya, ia menjelaskan bahwa manusia hidup di atas Bumi dan kembali ke dalamnya setelah wafat. Sebagian mufasir kontemporer menafsirkan kondisi ini sebagai petunjuk adanya gaya tarik yang memungkinkan kehidupan tetap berpijak di permukaan planet.

"...Sebagian ahli tafsir kontemporer berkata: Maksud dari ayat ini adalah gravitasi bumi, maka maknanya adalah: Bukankah kami yang menjadikan gravitasi bumi bagi kalian agar kalian dapat hidup di atasnya (di atas bumi), kemudian kalian mati tergeletak di dalam kubur menjadi mayat-mayat," kata Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi seperti dikutip Tafsirweb.

"Kemudian Allah berkata: Kami jadikan di bumi gunung-gunung yang tertancap di kedalaman bumi dan puncaknya menjulang tinggi, (semua itu) sebagai pasak bagi bumi agar kalian tidak bergoncang. Dan kami alirkan air tawar yang mengalir yang mudah untuk diminum bagi siapapun yang meminumnya," bunyi lanjutan dalam tafsir itu.

Pendekatan kebahasaan memperkuat penafsiran tersebut. Nadiah Thayyarah, dalam Sains dalam Al-Qur’an, dikutip Republika, menjelaskan bahwa kata kifātan berasal dari akar kata yang bermakna menarik, menghimpun, dan mengikat, yang menggambarkan sifat Bumi dalam menahan segala sesuatu di atasnya.

Dalam perspektif fisika, sifat menarik ini sejalan dengan konsep gravitasi yang menentukan berat suatu benda. Perbedaan berat manusia di Bumi dan di Bulan menjadi contoh bahwa berat merupakan hasil gaya tarik menuju pusat massa.

Tanpa gravitasi, air tidak akan menetap di permukaan dan atmosfer akan terlepas ke angkasa. Kondisi stabil ini disinggung dalam Al-Qur`an Surah An-Naml ayat 61 yang menyebut Bumi sebagai tempat berdiam yang kokoh.

Gagasan tentang gravitasi tidak berhenti pada inspirasi dari teks wahyu. Pada abad ke-12, Al-Khazini mengembangkan teori tentang berat, massa, dan jarak dalam karyanya Mizan al-Hikmah.

Ilmuwan Muslim yang memiliki nama lengkap Abu al-Fath Abd al-Rahman Mansur al-Khazini ini menyimpulkan bahwa kekuatan gravitasi berubah sesuai jarak antara dua benda. Pemikiran ini muncul jauh sebelum Isaac Newton merumuskan hukum gravitasi secara matematis pada abad ke-17.

Meski tidak menuliskan persamaan fisika seperti Newton, Al-Khazini telah mengidentifikasi variabel utama dalam fenomena gravitasi. Karena itu, sebagian sejarawan sains menyebutnya sebagai pencetus awal teori gravitasi.

Dengan demikian, Al-Qur’an dan tradisi ilmiah Islam nampaknya tidak menjelaskan gravitasi sebagai rumus semata, melainkan sebagai prinsip keseimbangan ciptaan. Pemahaman ini di antaranya menunjukkan bahwa sains modern dan warisan Islam saling berkelindan dalam membaca hukum alam.

 

KEYWORD :

Gravitasi Bumi Ayat Al-Quran Ilmuwan Muslim Pemikiran Al-Khazini Teori Gravitasi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :