Senin, 02/02/2026 06:22 WIB

Belajar dari Kisah Taubat Seorang Pendosa yang Tertulis dalam Hadis Nabi





Kisah taubat ini menjadi pesan kuat bahwa Islam tidak pernah menutup pintu harapan.

Kisah seorang pendosa yang taubat dan diabadikan dalam hadis Nabi Muhammad SAW (Foto: Ilustrasi AI)

Jakarta, Jurnas.com - Islam adalah agama yang membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin kembali kepada Allah SWT.

Salah satu kisah paling menyentuh tentang rahmat dan ampunan Allah adalah cerita seorang pendosa besar yang taubatnya diabadikan langsung dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Kisah ini sering dijadikan rujukan para ulama untuk menegaskan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama seorang hamba benar-benar bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang laki-laki dari umat terdahulu yang telah membunuh seratus orang, namun tetap diberi jalan taubat oleh Allah SWT.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

أَنَّ رَجُلًا قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا

(Suatu ketika ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Ia lalu bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Ia bertanya, “Aku telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih ada taubat bagiku?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.”) (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itu kembali melakukan pembunuhan hingga genap seratus orang. Namun pencariannya belum berhenti. Ia kembali bertanya dan akhirnya dipertemukan dengan seorang alim yang benar-benar berilmu. Kepada ulama tersebut, ia mengakui seluruh dosanya dan kembali bertanya apakah pintu taubat masih terbuka baginya.

Sang alim menjawab dengan penuh kebijaksanaan bahwa pintu taubat Allah tidak pernah tertutup. Ia bahkan memerintahkan lelaki tersebut untuk meninggalkan lingkungan buruk dan berpindah ke negeri yang penduduknya saleh, agar taubatnya benar-benar terjaga.

Dalam lanjutan hadis disebutkan:

فَقَالَ لَهُ: وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ

“Siapa yang dapat menghalangimu dari taubat? Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam perjalanan menuju negeri tersebut, lelaki itu meninggal dunia. Para malaikat pun berselisih tentang nasibnya. Atas perintah Allah SWT, jarak antara dua negeri diukur, dan ternyata ia lebih dekat ke negeri orang-orang saleh.

Dengan rahmat Allah, ia pun diampuni dan dimasukkan ke dalam golongan orang yang mendapatkan ampunan.

Kisah ini sejalan dengan firman Allah SWT yang menegaskan keluasan rahmat-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

KEYWORD :

Info Keislaman Seorang Pendosa Melakukan Taubat Rasulullah SAW




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :