Ilustrasi - Media Sosial (Foto: Pexels/Bastian Riccardi)
Jakarta, Jurnas.com - Di era media sosial, lisan manusia tidak lagi hanya bekerja melalui ucapan, tetapi juga melalui jari. Setiap tulisan, komentar, unggahan, dan pesan singkat pada hakikatnya adalah cerminan dari lisan yang berbicara dalam bentuk baru.
Karena itu, adab menjaga lisan dalam Islam menjadi semakin relevan, bahkan lebih mendesak untuk dipahami dan diamalkan.
Islam memandang lisan sebagai amanah besar. Dari lisan, kebaikan dapat tersebar luas, namun dari lisan pula kerusakan sosial sering bermula.
Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan dakwah kerap berubah menjadi ruang fitnah, ujaran kebencian, dan saling mencela. Padahal, setiap kata yang keluar, baik di dunia nyata maupun digital, tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT.
Allah SWT dengan tegas mengingatkan agar setiap perkataan dijaga dengan penuh tanggung jawab. Dalam Al-Qur`an disebutkan:
Manfaat Puasa Menurut Al-Qur`an dan Sunnah
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Macam-macam Sihir dalam Islam
Ayat ini menegaskan bahwa setiap kata, termasuk yang ditulis di media sosial, tercatat dan akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada istilah “sekadar bercanda” jika ucapan tersebut melukai orang lain atau menyebarkan keburukan.
Rasulullah SAW juga memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menjaga lisannya. Dalam sebuah hadis yang masyhur, beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana namun mendalam: jika perkataan tidak membawa kebaikan, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia. Prinsip ini sangat relevan diterapkan sebelum menekan tombol “kirim” atau “unggah” di media sosial.
Islam juga melarang keras perbuatan ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain, meskipun hal tersebut benar adanya. Allah SWT menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat mengerikan:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa menyebarkan aib, gosip, atau rumor di media sosial, meski tanpa menyebutkan nama secara langsung, tetap termasuk perbuatan tercela di sisi Allah.
Menjaga lisan di era digital berarti menahan diri dari komentar emosional, tidak mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta menghindari ujaran yang memecah belah persaudaraan.
Seorang Muslim dituntut untuk menjadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan sumber dosa yang terus mengalir.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Adab Menjaga Lisan Media Sosial Rasulullah SAW Kitab Al-Qur`an





















