Minggu, 01/02/2026 21:22 WIB

Ringkasan Fikih Puasa, Panduan Singkat Menjelang Ramadan





Puasa Ramadan hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang balig, berakal, mampu, dan tidak memiliki halangan syar’i.

Ilustrasi fikih puasa (Foto: Pexels/Thridman)

Jakarta, Jurnas.com - Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat.

Menjelang datangnya bulan suci, memahami dasar-dasar fikih puasa menjadi penting agar ibadah yang dijalankan sah secara hukum dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Secara fikih, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai dengan niat karena Allah SWT.

Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang merusak pahala puasa.

Hukum dan Dasar Puasa

Puasa Ramadan hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang balig, berakal, mampu, dan tidak memiliki halangan syar’i. Kewajiban ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (QS. Al-Baqarah: 183)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa

Syarat wajib puasa meliputi Islam, balig, berakal, dan mampu berpuasa. Adapun syarat sah puasa mencakup niat, Islam, dan suci dari haid serta nifas bagi perempuan. Tanpa terpenuhinya syarat sah, puasa dinilai tidak sah meskipun seseorang menahan lapar dan haus.

Niat Puasa

Niat puasa Ramadan wajib dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Niat cukup di dalam hati, tidak disyaratkan dilafalkan. Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadan harus dilakukan setiap malam, sedangkan mazhab lain membolehkan niat satu kali untuk satu bulan dengan syarat tidak terputus oleh uzur.

Rukun Puasa

Rukun puasa ada dua, yaitu niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Apabila salah satu rukun ini tidak terpenuhi, maka puasa tidak sah.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Beberapa hal yang membatalkan puasa antara lain makan dan minum dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, muntah dengan sengaja, haid dan nifas, serta keluar mani dengan sengaja. Adapun hal-hal yang dilakukan karena lupa atau tidak sengaja tidak membatalkan puasa.

Orang yang Mendapat Keringanan

Islam memberikan keringanan bagi orang yang tidak mampu berpuasa, seperti orang sakit, musafir, ibu hamil dan menyusui dengan kondisi tertentu, serta orang lanjut usia. Keringanan tersebut bisa berupa qadha puasa di hari lain atau fidyah, sesuai dengan kondisi masing-masing.

Sunnah-Sunnah Puasa

Beberapa amalan sunnah dalam puasa antara lain menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan serta perilaku. Amalan sunnah ini bertujuan menyempurnakan pahala puasa.

Hal yang Mengurangi Pahala Puasa

Puasa tidak hanya bisa batal, tetapi juga bisa kehilangan pahala. Berbohong, ghibah, berkata kotor, marah berlebihan, dan perbuatan maksiat lainnya dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai puasa, meskipun secara fikih puasa tetap sah.

KEYWORD :

Hukum Fikih Fikih Puasa Puasa Ramadan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :