Minggu, 01/02/2026 16:34 WIB

Astronom Pecahkan Teka-Teki Proses sebelum Bintang Meledak





Penelitian baru untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi gelombang radio dari jenis supernova langka, yang menyimpan jejak aktivitas bintang sebelum mati

Ilustrasi bintang meledak (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Bintang bermassa besar selalu menghasilkan pemandangan menakjubkan saat mati. Ketika bahan bakarnya habis, bintang runtuh lalu meledak dalam peristiwa supernova yang cahayanya bisa mengalahkan terang sebuah galaksi.

Selama ini, para astronom mengamati ledakan bintang melalui cahaya tampak. Metode itu efektif untuk menangkap momen ledakan, tetapi menyisakan teka-teki mengenai momentum yang sebenarnya terjadi pada bintang sebelum meledak.

Dikutip dari Earth pada Minggu (2/1), sebuah penelitian baru untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi gelombang radio dari jenis supernova langka, yang menyimpan jejak aktivitas bintang di tahun-tahun terakhir hidupnya.

Ledakan ini termasuk kategori supernova Tipe Ibn, peristiwa langka ketika bintang melepaskan material kaya helium dalam jumlah besar sesaat sebelum meledak. Material tersebut tidak langsung menjauh, melainkan mengelilingi bintang dalam jarak dekat.

Saat ledakan terjadi, gelombang kejut supernova menghantam gas di sekitarnya. Tabrakan inilah yang memicu munculnya sinyal radio lemah, yang kemudian dapat ditangkap oleh teleskop radio di Bumi.

Berbeda dengan cahaya tampak, sinyal radio mampu mengungkap interaksi tersembunyi antara ledakan dan gas di sekitarnya. Inilah yang membuat pengamatan radio menjadi kunci untuk memahami fase akhir kehidupan bintang.

Penelitian ini menggunakan teleskop radio Very Large Array (VLA) milik National Science Foundation di New Mexico. Para peneliti memantau emisi radio supernova tersebut selama sekitar 18 bulan.

Dari sinyal radio itu, tim menemukan bukti bahwa gas di sekitar bintang dilepaskan hanya beberapa tahun sebelum ledakan terjadi. Informasi ini sebelumnya tidak pernah terlihat dengan metode pengamatan lain.

Penulis utama studi, Raphael Baer-Way dari University of Virginia, menyebut pengamatan ini seperti mesin waktu. Menurut dia, gelombang radio memungkinkan ilmuwan melihat satu dekade terakhir kehidupan bintang, terutama lima tahun terakhir saat kehilangan massa berlangsung sangat intens.

Biasanya, supernova baru terdeteksi ketika ledakan sudah terjadi. Pada saat itu, tanda-tanda awal keruntuhan bintang telah menghilang, sehingga banyak petunjuk penting terlewatkan.

Keunikan temuan ini terletak pada ketepatan waktu. Sinyal radio dari supernova Tipe Ibn sangat lemah dan cepat menghilang. Jika pengamatan terlambat, seluruh informasi tentang fase akhir bintang akan lenyap.

Gas yang dilepaskan bintang sebelum meledak bertindak seperti arsip kosmik. Ketika dihantam gelombang kejut, gas tersebut memancarkan sinyal radio yang membawa rekam jejak kondisi bintang di masa-masa terakhirnya.

Analisis pola kehilangan massa menunjukkan bahwa bintang tersebut kemungkinan tidak sendirian. Data radio mengarah pada sistem bintang ganda, ketika bintang pendamping menarik materi secara gravitasi.

Interaksi dengan bintang pendamping dapat mempercepat peluruhan massa, membuat bintang utama semakin tidak stabil menjelang akhir hidupnya. Proses ini diyakini berperan besar dalam memicu ledakan supernova.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters.

KEYWORD :

ledakan bintang supernova langka gelombang radio




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :