Ilustrasi roti dalam kemasan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat olahan seperti roti dalam kemasan selama bertahun-tahun, berkaitan dengan peningkatan risiko demensia di usia lanjut.
Penelitian tersebut menemukan bahwa risiko demensia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk perlahan seiring Waktu, sebagaimana dikutip dari Earth pada Minggu (1/2).
Pola makan tinggi karbohidrat olahan, seperti produk tepung halus dan makanan ultra-proses, tampak membedakan kelompok dengan risiko demensia lebih tinggi dibanding mereka yang lebih sering mengonsumsi karbohidrat utuh dan minim proses.
Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Universitat Rovira i Virgili (URV) di Spanyol, yang menelusuri hubungan antara kualitas karbohidrat dalam pola makan dengan diagnosis demensia di kemudian hari.
Ahli nutrisi Mònica Bulló memimpin analisis yang secara khusus mengaitkan karakteristik karbohidrat dengan kesehatan otak jangka panjang.
Para peneliti menekankan bahwa yang dinilai bukan sekadar jumlah karbohidrat, melainkan bagaimana karbohidrat tersebut memengaruhi kadar gula darah. Untuk itu, mereka menggunakan dua ukuran utama, yakni indeks glikemik (glycemic index/GI) dan beban glikemik (glycemic load/GL).
Indeks glikemik menunjukkan seberapa cepat suatu makanan meningkatkan kadar glukosa darah pada skala 0 hingga 100. Sementara itu, beban glikemik menggabungkan indeks glikemik dengan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi, sehingga mencerminkan dampak gula darah dari satu porsi makanan.
Karbohidrat yang sangat diproses cenderung memiliki indeks glikemik tinggi karena cepat dicerna dan segera meningkatkan kadar gula darah. Jika lonjakan gula ini terjadi berulang kali selama bertahun-tahun, tubuh dipaksa memproduksi insulin secara terus-menerus dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut dapat memicu resistensi insulin, yakni keadaan ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Dalam jangka panjang, gangguan metabolik ini dapat meningkatkan peradangan dan merusak pembuluh darah, termasuk yang menyuplai otak dengan oksigen dan nutrisi.
Untuk menguji hubungan ini secara nyata, peneliti menggunakan data dari UK Biobank yang mencakup 202.302 orang dewasa di Inggris. Pola makan peserta dicatat, lalu dihitung nilai GI dan GL masing-masing individu, kemudian dibandingkan dengan catatan kesehatan selama masa tindak lanjut.
Selama sekitar 13 tahun pengamatan, tercatat 2.362 kasus demensia. Analisis menunjukkan bahwa hubungan antara indeks glikemik dan demensia membentuk pola melengkung, bukan garis lurus. Risiko terendah terlihat pada kelompok dengan GI rendah hingga sedang.
Peserta dengan pola makan rendah hingga sedang GI tercatat memiliki risiko Alzheimer sekitar 16 persen lebih rendah. Sebaliknya, mereka yang mengonsumsi makanan dengan GI tinggi menunjukkan peningkatan risiko sekitar 14 persen. Meski terlihat kecil secara individu, dampaknya bisa besar pada skala populasi.
Beban glikemik juga berperan penting. Pola makan dengan GL tinggi, yang mencerminkan porsi besar karbohidrat, dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa porsi makan sama pentingnya dengan jenis karbohidrat itu sendiri.
Makanan yang dicerna lebih lambat, seperti buah utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, umumnya memiliki GI lebih rendah karena kandungan serat dan struktur alaminya masih terjaga. Bulló menyebut bahwa pola makan berbasis makanan ini berpotensi menurunkan risiko penurunan kognitif dan berbagai bentuk demensia.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Faktor gaya hidup lain, seperti aktivitas fisik dan kebiasaan kesehatan, juga dapat memengaruhi hasil.
Namun, temuan ini memperkuat pesan bahwa kualitas karbohidrat dan cara tubuh memproses gula darah memainkan peran penting dalam kesehatan otak. Mengurangi karbohidrat olahan, memperhatikan porsi, serta memilih makanan berserat tinggi dapat menjadi langkah sederhana untuk melindungi fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Epidemiology.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
karbohidrat olahan roti kemasan risiko demensia indeks glikemik















