Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi bersama Ajik Krisna mengunjungi berkunjung ke Padepokan Kabuyutan Muara Beres, Padepokan Bambu Indonesia di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (Foto: Humas Kementrans)
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mendorong pengusaha Bali Ajik Krisna untuk mengembangkan Bali sebagai pusat bambu dunia, seiring besarnya potensi bambu sebagai komoditas ekonomi, budaya, dan lingkungan. Dorongan tersebut diwujudkan dengan memperkenalkan Ajik kepada Haji Jatnika Nanggamihardja, ahli bambu berskala internasional.
Ajik Krisna, yang memiliki nama asli Gusti Ngurah Anom, mengaku ingin belajar lebih dalam mengenai bambu dan manfaatnya. Hal itu disampaikan saat berkunjung ke Padepokan Kabuyutan Muara Beres, Padepokan Bambu Indonesia di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1).
Dalam kunjungan tersebut, Aki Jatnika selaku pemilik padepokan memaparkan berbagai varietas bambu yang dikoleksi di kawasan itu. Padepokan yang berada di tepi Sungai Ciliwung tersebut tercatat memiliki 161 varietas bambu dari berbagai daerah.
Ketertarikan Ajik Krisna terhadap bambu berkaitan dengan rencananya mengembangkan lahan seluas 30 hektare di Bali Utara menjadi kampung wisata UMKM berbasis bambu. Kawasan itu dirancang mencakup hutan bambu, pusat riset, museum bambu, sentra kuliner, serta perkampungan pengrajin bambu.
Wamentrans Viva Yoga mengatakan banyak manfaat dari menanam pohon bambu. “Berbagai produk bisa dihasilkan dari olahan bambu”, ujarnya. Dirinya menyebut Kementerian Transmigrasi juga memiliki program untuk membudidayakan pohon bambu di kawasan transmigrasi.
Membudidayakan tanaman yang menjalar ke atas ini dikatakan memiliki banyak kelebihan, selain hasil panennya bisa diolah dalam berbagai bentuk dan sebagai penopang kebutuhan manusia, pohon ini juga bisa ditanam di berbagai tempat.
“Di lahan transmigrasi yang beragam tekstur tanahnya, bisa dibudidayakan pohon bambu. Di desa banyak orang menanam pohon bambu di belakang rumah,” ujar Wamentrans.
Hasil olahan bambu menurutnya sekarang tidak hanya berupa kursi, meja, cinderamata, atau alat tradisional lainnya namun juga bisa berupa berbagai jenis pakaian dan aksesorisnya. Hal demikian diketahui setelah dirinya beberapa waktu yang lalu menerima Kedatangan delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG).
Diungkap dalam pertemuan, PPIG mempresentasikan investasi pengembangan bambu varietas reed (‘reed bamboo’). Bambu jenis ini bisa diolah menjadi ‘fiber bamboo’ (serat bambu).
Hasil olahan yang dihasilkan bisa dimanfaatkan menjadi berbagai bahan tekstil dan pakaian dan aksesorisnya seperti kaos, jaket, kaos kaki, penutup kepala, dan jenis baju lainnya. Dengan bahan serat bambu, pakaian yang diproduksi banyak memiliki kelebihan dibanding dengan bahan yang lain.
Bambu varietas ini yang sudah dikembangkan di China dan Malaysia itu juga bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak, sapi. Sebagai tanaman yang rimbun, reed bamboo menjadi tanaman yang bisa mereduksi karbon dioksida. Dari sinilah varietas ini bisa menjadi komoditas pasar karbon dan bisa dijual dengan nilai yang tinggi.
“Kementerian Transmigrasi ingin mengembangkan berbagai varietas pohon bambu di kawasan transmigrasi. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohonnya juga mampu menjaga dan melestarikan alam,” ujarnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Wakil Mentrans Viva Yoga Mauludi Ajik Krisna Pengusaha Bali Pusat Bambu




















