Ilustrasi makanan cepat saji yang mengandung pengawet (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Sebanyak 17 jenis pengawet yang umum digunakan pada produk makanan di supermarket dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, meski zat tersebut bertujuan menghambat pembusukan, menekan pertumbuhan bakteri, serta menjaga tampilan dan rasa makanan tetap stabil.
Dikutip dari Earth pada Sabtu (3/1), penelitian ini dipimpin oleh tim ilmuwan dari kohort NutriNet-Santé di Prancis, dengan dukungan berbagai institusi termasuk Université de Paris dan Institut Kanker Nasional Prancis.
Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal medis BMJ dan menambah daftar bukti yang menyoroti dampak jangka panjang makanan ultra-proses terhadap kesehatan.
Para peneliti menekankan bahwa temuan ini belum bersifat final. Risiko yang teridentifikasi tergolong moderat, dan masih diperlukan penelitian lanjutan. Meski begitu, data yang dihasilkan cukup kuat untuk memicu evaluasi ulang terhadap beberapa bahan tambahan pangan yang banyak digunakan.
Studi ini melibatkan 105.260 partisipan berusia 15 tahun ke atas, dengan usia rata-rata 42 tahun. Sekitar 79 persen peserta adalah perempuan, dan seluruhnya tidak memiliki riwayat kanker saat pertama kali bergabung dalam penelitian.
Selama bertahun-tahun, para peserta diminta mencatat konsumsi makanan mereka melalui laporan makanan 24 jam yang sangat rinci, termasuk merek produk. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melacak paparan bahan pengawet secara presisi, sesuatu yang jarang dicapai dalam studi nutrisi berskala besar.
Kondisi kesehatan peserta kemudian dipantau melalui rekam medis dan basis data kesehatan nasional hingga akhir 2023. Kombinasi pemantauan jangka panjang dan data konsumsi detail ini memungkinkan peneliti mengaitkan asupan pengawet tertentu dengan pola munculnya kanker di kemudian hari.
Penelitian ini memfokuskan analisis pada 17 jenis pengawet makanan yang umum digunakan, termasuk kalium sorbat, natrium nitrit, kalium nitrat, sulfit, asetat, asam sitrat, lesitin, dan eritrobat. Zat-zat ini tersebar luas dalam makanan sehari-hari seperti roti, saus, daging olahan, minuman, kue, hingga makanan siap saji.
Para peneliti mengelompokkan pengawet tersebut ke dalam dua kategori besar, yakni senyawa yang menghambat pertumbuhan mikroba dan zat antioksidan yang mencegah kerusakan akibat oksidasi selama penyimpanan.
Selama periode pengamatan, tercatat 4.226 kasus kanker baru. Kanker payudara menjadi yang paling sering muncul, disusul kanker prostat dan kanker kolorektal. Jenis kanker lain juga ditemukan dan secara kolektif mencakup lebih dari separuh total kasus, mencerminkan gambaran kanker yang beragam di kehidupan nyata.
Ketika seluruh pengawet dianalisis secara gabungan, peneliti tidak menemukan peningkatan risiko kanker yang signifikan. Artinya, konsumsi makanan berpengawet secara umum tidak secara otomatis berkaitan dengan kanker.
Namun, gambaran berubah ketika setiap pengawet dianalisis secara terpisah. Sebagian besar tetap tidak menunjukkan hubungan yang berarti, tetapi beberapa jenis pengawet tertentu tampak berkorelasi dengan peningkatan risiko kanker.
Asupan kalium sorbat dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker secara keseluruhan dan kanker payudara. Sulfit dan kalium metabisulfit juga menunjukkan hubungan dengan peningkatan risiko kanker total. Natrium nitrit berkaitan kuat dengan kanker prostat, sementara kalium nitrat dikaitkan dengan kanker secara umum dan kanker payudara.
Di kelompok pengawet antioksidan, eritrobat menonjol karena berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker total dan kanker payudara. Sebaliknya, banyak antioksidan lain tidak menunjukkan dampak serupa.
Sejumlah studi laboratorium memberi petunjuk tentang kemungkinan mekanisme biologis di balik temuan ini. Beberapa pengawet diketahui dapat memicu stres oksidatif, peradangan kronis, atau mengubah perilaku pertumbuhan sel, kondisi yang dapat mendukung perkembangan kanker dalam jangka panjang.
Nitrit dan nitrat, misalnya, dapat berubah menjadi senyawa N-nitroso di dalam tubuh, yang oleh badan kanker internasional diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen. Pembentukan senyawa ini cenderung lebih tinggi pada produk berbasis daging, sementara konsumsi buah dan sayur kaya vitamin C dapat menguranginya.
Para peneliti menegaskan bahwa studi observasional seperti ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Meski demikian, durasi penelitian yang panjang, pencatatan diet berulang, dan detail data yang tinggi memperkuat keandalan pola yang diamati.
Penulis studi menyatakan bahwa temuan ini dapat menjadi dasar bagi lembaga kesehatan untuk meninjau ulang keamanan bahan tambahan pangan, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat pengawetan makanan dan potensi risiko kesehatan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pengawet makanan risiko kanker makanan olahan





















