Sabtu, 31/01/2026 18:39 WIB

Kerangka Manusia Purba Ungkap Jejak Sifilis 5.500 Tahun Lalu





Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, bakteri patogen di balik sifilis dan penyakit serupa

Ilustrasi bakteri pemicu sifilis (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, bakteri patogen di balik sifilis dan penyakit serupa, telah menginfeksi manusia jauh lebih lama daripada perkiraan.

Para ilmuwan berhasil merekonstruksi genom bakteri tersebut dari sisa-sisa manusia berusia sekitar 5.500 tahun yang ditemukan di wilayah Kolombia, sebagaimana dikutip dari Earth pada Sabtu (31/1).

Penemuan ini mendorong mundur catatan genetik terkonfirmasi tentang Treponema pallidum lebih dari 3.000 tahun. Lebih jauh lagi, hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk bakteri treponema di benua Amerika pada masa lalu kemungkinan jauh lebih beragam dibandingkan varian yang masih beredar di dunia modern saat ini.

Sampel kerangka tersebut ditemukan di sebuah ceruk batu di kawasan Sabana de Bogotá, tidak jauh dari wilayah Bogotá modern. Studi ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science dan langsung menarik perhatian karena menyentuh salah satu perdebatan panjang dalam sejarah penyakit manusia, yakni sejak kapan dan di mana penyakit-penyakit treponemal pertama kali muncul.

Kesimpulannya, infeksi ini bukanlah pendatang baru dalam sejarah manusia. Penyakit yang satu keluarga dengan sifilis ternyata sudah ada jauh lebih awal, meskipun selama ini bukti genetik yang kuat belum mampu menunjukkannya secara meyakinkan.

Menurut ahli genetika Lars Fehren-Schmitz dari University of California, Santa Cruz (UCSC), temuan ini menegaskan nilai penting paleogenomik dalam memahami evolusi spesies patogen. Dia menyebut bahwa pendekatan ini membuka jendela baru untuk menilai risiko kesehatan, baik bagi komunitas manusia di masa lalu maupun masa kini.

Saat ini, Treponema pallidum dikenal sebagai penyebab tiga bentuk penyakit yang sangat mirip secara genetik, yaitu sifilis, yaws, dan bejel, yang masing-masing disebabkan oleh subspesies berbeda. Selain itu ada pula pinta, penyakit kulit yang biasanya dikaitkan dengan Treponema carateum, kerabat dekat yang kerap diposisikan di pinggiran keluarga treponema.

Masalahnya, bakteri-bakteri ini hampir identik secara genetik. Perbedaan DNA di antara mereka sangat kecil, meskipun gejala klinisnya bisa sangat berbeda. Kondisi ini membuat identifikasi penyakit kuno menjadi sangat sulit, terutama karena tanda-tanda pada tulang tidak selalu muncul atau terawetkan dengan baik.

Di sinilah peran DNA kuno menjadi krusial. Analisis genetik mampu mengungkap hubungan evolusioner yang tidak bisa ditangkap oleh bukti kerangka semata. Ketika genom bakteri dari Kolombia kuno ini dibandingkan dengan strain modern, hasilnya tidak cocok sepenuhnya dengan tiga kelompok treponema yang dikenal saat ini.

Bakteri tersebut jelas termasuk Treponema pallidum, tetapi tampaknya berasal dari garis keturunan yang bercabang lebih awal. Bakteri ini berkerabat dengan strain modern, namun bukan bagian dari kelompok yang biasa dibahas dalam literatur medis masa kini. Hal ini mengisyaratkan adanya cabang evolusi yang mungkin telah punah atau belum terpetakan.

Salah satu kemungkinan yang diajukan adalah kaitannya dengan pinta, anggota keluarga treponema yang masih minim pemahaman ilmiah. Anna-Sapfo Malaspinas dari SIB Swiss Institute of Bioinformatics menyatakan bahwa temuan ini bisa saja mewakili bentuk kuno patogen penyebab pinta, yang diketahui endemik di wilayah Amerika Tengah hingga Selatan dan terutama menyerang kulit.

Namun, para peneliti menekankan bahwa hipotesis tersebut belum dapat dipastikan. Yang membuat temuan ini menarik justru karena genom tersebut tidak dapat dimasukkan secara rapi ke dalam kategori modern yang sudah ada, menandakan bahwa keragaman treponema di masa lalu mungkin jauh lebih luas.

Melalui pendekatan evolusi molekuler, tim peneliti memperkirakan bahwa garis keturunan kuno ini berpisah dari kelompok T. pallidum lainnya sekitar 13.700 tahun lalu. Angka ini tidak merujuk pada usia kerangka, melainkan pada waktu divergensi evolusioner bakteri tersebut.

Sebagai perbandingan, tiga subspesies modern T. pallidum diperkirakan baru mulai berpisah sekitar 6.000 tahun lalu. Jika digabungkan, estimasi ini menggambarkan sejarah panjang patogen treponema yang berevolusi secara bertahap, dengan benua Amerika memainkan peran penting sejak tahap awal.

Meski demikian, temuan ini belum mengakhiri perdebatan lama mengenai asal-usul geografis penyakit-penyakit treponemal. Elizabeth Nelson, antropolog molekuler dari UCSC, menegaskan bahwa bukti genetik saat ini belum cukup untuk menentukan di mana sindrom penyakit tersebut pertama kali muncul.

Namun ia menekankan bahwa penelitian ini menunjukkan adanya sejarah evolusi panjang bakteri treponema yang sudah berkembang dan beragam di Amerika ribuan tahun lebih awal daripada yang sebelumnya dapat dibuktikan. Bahkan, asosiasi antara T. pallidum dan manusia mungkin sudah terjadi sejak lebih dari 10.000 tahun lalu, pada akhir zaman Pleistosen.

Menariknya, bakteri ini ditemukan secara tidak disengaja. Awalnya, pengurutan DNA dilakukan untuk mempelajari populasi manusia purba. Dataset yang dihasilkan sangat besar, mencapai sekitar 1,5 miliar fragmen DNA, jauh melampaui kebanyakan proyek DNA kuno.

Dalam proses penyaringan rutin, dua tim peneliti secara terpisah menemukan jejak T. pallidum. Karena kedalaman data sangat tinggi, mereka dapat merekonstruksi genom patogen tersebut tanpa teknik pengayaan khusus yang biasanya diperlukan dalam penelitian mikroba kuno.

Lebih mengejutkan lagi, kerangka tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda jelas penyakit treponemal, dan sampel diambil dari tulang kering, bukan gigi yang biasanya lebih disukai.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science.

KEYWORD :

penyakit treponema kuno DNA manusia purba evolusi sifilis




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :