Sabtu, 31/01/2026 16:28 WIB

Studi: Reaksi Kimia Tersembunyi Diduga Picu Peradangan Asma





Para ilmuwan menemukan adanya sebuah reaksi kimia tersembunyi yang diduga berperan besar dalam memicu dan memperparah asma.

Ilustrasi asma (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan menemukan adanya sebuah reaksi kimia tersembunyi yang diduga berperan besar dalam memicu dan memperparah asma. Senyawa kimia ini pemicu peradangan meningkat tajam pada penderita asma dan naik seiring dengan tingkat keparahan gejala.

Dikutip dari Earth pada Sabtu (31/1), temuan tersebut mengarah pada proses oksidasi yang tidak terkendali di saluran napas. Reaksi kimia ini menghasilkan molekul inflamasi yang selama ini luput dari perhatian, namun tampaknya berkontribusi langsung pada penyempitan saluran udara yang membuat penderita asma sulit bernapas.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Robert G. Salomon dari Case Western Reserve University (CWRU). Timnya menelusuri jalur kimia yang tidak biasa dengan pendekatan laboratorium, yakni mensintesis kandidat senyawa terlebih dahulu, lalu mencarinya pada sampel pasien yang menjalani perawatan asma rutin.

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengaitkan langsung molekul yang ditemukan di tubuh pasien dengan proses kimia yang terjadi di tingkat sel. Hasilnya mengarah pada kelompok senyawa baru yang berbeda dari target utama terapi asma selama ini.

Selama beberapa dekade, leukotrien dianggap sebagai aktor utama dalam peradangan asma. Leukotrien adalah molekul sinyal sistem imun yang dilepaskan ketika saluran napas teriritasi oleh alergen atau infeksi, lalu memicu otot saluran napas berkontraksi dan produksi lendir meningkat.

Berdasarkan asumsi itu, obat seperti montelukast dikembangkan untuk memblokir reseptor leukotrien agar sinyal penyempitan saluran napas tidak bekerja. Pada sebagian pasien, strategi ini cukup efektif, tetapi pada banyak kasus asma berat, manfaatnya terbatas.

Penelitian terbaru ini mengungkap adanya molekul lain yang menyerupai leukotrien, namun terbentuk melalui jalur berbeda. Senyawa tersebut disebut pseudo leukotrienes, yang muncul akibat oksidasi lemak tak terkendali di membran sel, bukan melalui reaksi enzim yang teratur.

Dalam kondisi oksidasi berlebihan, oksigen dan radikal bebas menyerang lemak membran sel dan memicu reaksi berantai. Sekali proses ini dimulai, ia dapat menghasilkan banyak molekul inflamasi sekaligus, jauh lebih masif dibanding produksi leukotrien biasa.

“Kami menduga molekul yang kami sebut pseudo leukotrienes ini justru menjadi pemain dominan dalam rangkaian peradangan yang menyebabkan penyakit,” ujar Dr. Salomon. Menurutnya, reaksi kimia ini bisa menjelaskan mengapa peradangan asma sulit dikendalikan pada kasus tertentu.

Oksidasi tak terkendali sendiri dipicu oleh akumulasi radikal bebas, yaitu molekul tidak stabil yang merusak jaringan dengan mencuri elektron dari molekul lain. Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem antioksidan untuk menetralkannya, tetapi pada asma berat, perlindungan ini bisa terkuras akibat peradangan berulang.

Ketika pertahanan antioksidan melemah, kerusakan lemak dan protein di saluran napas meningkat dan justru memperkuat sinyal peradangan. Inilah yang membuat kondisi asma dapat memburuk secara progresif meski pemicu awalnya sudah berlalu.

Bukti kuat muncul dari analisis urin pasien. Tim peneliti menemukan kadar pseudo leukotrienes empat hingga lima kali lebih tinggi pada penderita asma berat dibandingkan individu sehat. Kadar tersebut meningkat seiring tingkat keparahan penyakit, menjadikannya kandidat biomarker yang menjanjikan.

Jika temuan ini dikonfirmasi pada kelompok pasien yang lebih besar, tes urin sederhana berpotensi digunakan untuk memantau kondisi asma tanpa prosedur invasif pada paru-paru. Hal ini dapat membantu dokter mendeteksi perburukan penyakit lebih dini.

Uji laboratorium juga menunjukkan bahwa molekul-molekul ini aktif memicu peradangan pada sel epitel saluran napas, yaitu lapisan pertama yang bersentuhan dengan alergen dan polusi. Aktivasi reseptor tertentu memicu sinyal internal yang menyebabkan pembengkakan jaringan, dan efek ini dapat dihentikan dengan pemblokir reseptor yang sesuai.

Menariknya, mekanisme serupa juga terlihat pada percobaan hewan, memperkuat dugaan bahwa proses ini bukan fenomena terbatas pada satu kelompok pasien saja. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa obat yang hanya menargetkan leukotrien sering kali tidak cukup.

Temuan ini membuka kemungkinan strategi terapi baru, yakni menghentikan reaksi oksidasi sejak awal sebelum molekul inflamasi terbentuk. Pendekatan tersebut dinilai lebih selektif karena tidak mematikan seluruh sinyal imun yang sebenarnya masih dibutuhkan tubuh.

Namun para peneliti menegaskan bahwa keseimbangan oksidasi dan antioksidan sangat sensitif. Intervensi apa pun harus diuji ketat karena perubahan sistem oksidatif dapat berdampak pada organ lain dan respons imun secara keseluruhan.

Ke depan, tim CWRU juga ingin mengetahui apakah pseudo leukotrienes berperan dalam penyakit saluran napas lain seperti bronkiolitis pada bayi, infeksi RSV, hingga penyakit paru obstruktif kronis (COPD). Bahkan, kemungkinan keterkaitannya dengan gangguan saraf akibat stres oksidatif juga mulai dipertimbangkan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Journal of Allergy and Clinical Immunology.

KEYWORD :

penyebab asma reaksi kimia asma peradangan saluran napas




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :