Jum'at, 30/01/2026 20:42 WIB

Awas! Konsumsi Daging Sapi Tingkatkan Risiko Kanker Usus





Ilmuwan peraih Nobel Kedokeran, Harald zur Hausen, memperingatkan adanya peningkatan risiko kanker usus dari kebiasaan mengonsumsi daging sapi.

Ilustrasi olahan daging sapi (Foto: Fimela)

Jakarta, Jurnas.com - Ilmuwan peraih Nobel Kedokeran, Harald zur Hausen, memperingatkan adanya peningkatan risiko kanker usus dari kebiasaan mengonsumsi daging sapi.

Dikutip dari Earth pada Jumat (30/1), ilmuwan asal Jerman itu menyoroti perbedaan mencolok tingkat kanker usus di berbagai negara yang tampak mengikuti pola konsumsi daging sapi.

Negara dengan konsumsi daging sapi tinggi menunjukkan angka kanker usus yang jauh lebih besar dibanding negara yang jarang mengonsumsi daging tersebut, meskipun faktor kesehatan lain tentu ikut berperan.

Menurut dia, pola ini cukup konsisten untuk dianggap sebagai sinyal risiko, meski belum dapat menjelaskan satu mekanisme tunggal. Dia menekankan bahwa perbedaan tersebut layak diteliti lebih dalam sebelum menarik kesimpulan biologis yang lebih luas.

Dalam perbandingan lintas negara, Jepang dan Korea Selatan disebut memiliki tingkat kanker usus besar yang tinggi, sementara India berada di posisi rendah, sejalan dengan minimnya konsumsi daging sapi di negara tersebut.

"Konsumsi daging sapi jelas merupakan faktor risiko signifikan untuk kanker usus besar," kata Zur Hausen.

Meski demikian, dia juga mengakui bahwa perbandingan semacam ini tidak dapat sepenuhnya memisahkan pengaruh daging sapi dari faktor lain seperti kebiasaan skrining kanker, konsumsi alkohol, merokok, atau variasi pola makan secara keseluruhan. Namun, konsistensi pola tetap menimbulkan tanda tanya besar.

Kanker usus besar umumnya bermula dari pertumbuhan kecil di lapisan usus yang terus memperbarui sel-selnya setiap beberapa hari. Ketika lapisan ini mengalami iritasi berulang, tubuh meningkatkan proses perbaikan jaringan, yang berarti lebih banyak pembelahan sel dan peluang terjadinya kesalahan DNA.

Dalam jangka panjang, kesalahan kecil yang terus menumpuk dapat merusak sistem pengendali pertumbuhan sel, memungkinkan sel abnormal berkembang tanpa kendali. Karena proses ini berlangsung perlahan selama bertahun-tahun, pola makan jangka panjang menjadi faktor yang masuk akal untuk berkontribusi.

Kontroversi seputar daging sapi muncul karena risikonya bukan berasal dari satu kali konsumsi, melainkan dari paparan berulang. Porsi besar menghasilkan lebih banyak residu pencernaan, dan sebagian di antaranya dapat diubah oleh usus menjadi senyawa reaktif yang mengiritasi jaringan di sekitarnya.

Paparan berulang semacam ini mendorong tubuh terus-menerus melakukan perbaikan jaringan, meningkatkan kemungkinan terjadinya penyimpangan sel. Gambaran ini cukup luas sehingga memicu perdebatan ilmiah mengenai komponen mana dari daging yang paling berperan dalam risiko tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 telah menyatakan daging olahan bersifat karsinogenik, sementara daging merah diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogenik. Analisis WHO memperkirakan konsumsi sekitar 50 gram daging olahan per hari berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal sebesar 18 persen.

Dalam laporan yang sama, WHO juga mencatat peningkatan risiko sekitar 17 persen untuk setiap konsumsi harian sekitar 100 gram daging merah, meski menekankan adanya ketidakpastian ilmiah. Metode memasak bersuhu tinggi juga disebut dapat membentuk senyawa karsinogenik, walau bukti spesifiknya masih terbatas.

World Cancer Research Fund kemudian merekomendasikan pembatasan konsumsi daging merah matang hingga sekitar 350–500 gram per minggu dan menghindari daging olahan sebisa mungkin.

Salah satu fokusnya adalah senyawa heme, zat besi yang memberi warna merah pada daging, yang dapat memicu reaksi kimia berbahaya selama pencernaan.

Dalam argumennya, Zur Hausen mengajukan hipotesis tentang bovine meat and milk factors (BMMFs), yaitu lingkaran kecil DNA yang ditemukan pada produk ternak. Dia menduga agen ini dapat memicu peradangan kronis pada jaringan usus, menciptakan lingkungan yang merusak stabilitas DNA.

Sebuah studi menemukan protein terkait BMMF di dalam sel imun jaringan usus, terutama di area dekat tumor. Temuan ini mendukung hipotesis adanya peran peradangan persisten, meski belum cukup kuat untuk dianggap sebagai bukti kausal yang pasti.

Kekhawatiran tersebut juga meluas ke susu, karena berpotensi membawa agen biologis serupa. Zur Hausen bahkan mengingatkan kemungkinan paparan sejak dini, meski dia menegaskan bahwa panduan WHO tetap merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama karena manfaat kesehatannya yang terbukti.

KEYWORD :

kanker usus besar daging sapi kanker risiko daging merah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :