Jum'at, 30/01/2026 14:34 WIB

Bagaimana Ulat Mendengar Predator meski Tidak Punya Telinga?





Ulat yang sama sekali tidak memiliki telinga, ternyata mampu mendeteksi suara di sekitarnya dan menggunakan kemampuan itu untuk mengenali ancaman predator.

Ilustrasi ulat mendengar suara predator (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini, kemampuan mendengar identic dengan keberadaan telinga. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.

Sekelompok ilmuwan menemukan bahwa ulat, serangga kecil yang sama sekali tidak memiliki telinga, ternyata mampu mendeteksi suara di sekitarnya dan menggunakan kemampuan itu untuk mengenali ancaman predator.

Dikutip dari Earth pada Jumat (30/1), kisahnya bermula di Binghamton University, Amerika Serikat. Carol Miles, profesor madya Ilmu Biologi, menyadari perilaku aneh saat bekerja di laboratorium yang berisi ulat.

Setiap kali dia berbicara atau mengeluarkan suara tiba-tiba, ulat-ulat tersebut bereaksi dengan meloncat atau bergerak mendadak, mirip refleks kaget pada manusia.

"Setiap kali saya berkata ‘boo’, mereka langsung meloncat," ujar Profesor Miles.

Awalnya, reaksi itu hanya dia simpan sebagai catatan kecil dalam ingatannya. Bertahun-tahun kemudian, rasa ingin tahu itu kembali muncul dan mendorongnya untuk benar-benar meneliti kemungkinan ulat dapat mendengar, dan kemampuan yang digunakan.

Untuk menjawab pertanyaan itu, Carol Miles menggandeng Ronald Miles, profesor teknik mesin di universitas yang sama. Ronald Miles memiliki pengalaman panjang dalam meneliti lalat dan laba-laba mendeteksi suara. Bahkan, riset sebelumnya telah mengantarkannya pada pengembangan dan paten mikrofon baru yang terinspirasi dari mekanisme biologis.

Menurut Ronald Miles, teknologi pendeteksi suara terus berkembang, tetapi masih membutuhkan pendekatan baru. Salah satu cara terbaik adalah mempelajari bagaimana makhluk hidup mendeteksi suara secara alami. Kolaborasi antara biologi dan teknik inilah yang menjadi fondasi kuat penelitian tentang kemampuan mendengar pada ulat.

Eksperimen dilakukan di ruang anekoik milik Binghamton University, salah satu ruangan paling sunyi di dunia. Ruangan ini dirancang untuk menyerap suara dan mencegah gema, sehingga peneliti dapat mengontrol suara dengan sangat presisi tanpa gangguan dari luar.

Di ruangan ini, peneliti dapat memisahkan suara yang merambat melalui udara dari getaran yang merambat melalui permukaan, seperti batang tanaman. Pemisahan ini penting karena ulat biasanya hidup di tanaman, sehingga getaran bisa saja menjadi sumber sinyal, bukan suara udara.

Tim peneliti menguji ulat spesies tobacco hornworm pada suara dengan frekuensi rendah sekitar 150 hertz dan frekuensi tinggi hingga 2000 hertz. Selain itu juga diuji respons ulat terhadap getaran yang disalurkan melalui permukaan tempat ulat berpijak.

Hasilnya sangat jelas. Ulat bereaksi 10 hingga 100 kali lebih kuat terhadap suara yang merambat melalui udara dibandingkan dengan getaran dari permukaan. Temuan ini membuktikan bahwa ulat tidak sekadar merasakan getaran fisik, tetapi benar-benar mendeteksi suara di udara.

Peneliti kemudian berusaha memahami mekanisme pendengaran itu bekerja. Tanpa telinga, tentu ada struktur lain yang berperan. Fokus penelitian pun mengarah pada rambut-rambut halus yang menutupi tubuh ulat, terutama di bagian perut dan dada.

Untuk mengujinya, para ilmuwan dengan hati-hati menghilangkan rambut-rambut halus tersebut. Setelah rambut dihilangkan, kemampuan ulat untuk merespons suara menurun drastis. Hal ini menunjukkan bahwa rambut-rambut kecil tersebut berfungsi sebagai sensor suara yang merespons gerakan udara.

Rambut halus ini bergerak mengikuti gelombang suara di udara, mirip antena biologis. Mekanisme serupa juga ditemukan pada beberapa serangga lain, tetapi temuan ini memperkuat bukti bahwa ulat benar-benar mendengar melalui rambut tubuhnya, bukan melalui organ telinga seperti pada vertebrata.

Peneliti juga menemukan bahwa ulat paling responsif terhadap frekuensi suara tertentu. Menariknya, frekuensi tersebut mirip dengan frekuensi kepakan sayap tawon predator, yaitu sekitar 100 hingga 200 hertz. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mendengar ulat kemungkinan berevolusi sebagai sistem peringatan dini terhadap predator.

Ketika mendeteksi suara yang menyerupai kepakan sayap tawon, ulat akan bersiap dengan respons seperti membeku, bergerak cepat, atau meloncat. Respons ini dapat meningkatkan peluang bertahan hidup sebelum predator benar-benar menyerang.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Acoustical Society of America.

KEYWORD :

ulat bisa mendengar pendengaran serangga deteksi suara predator




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :