Bulu babi di pinggir laut (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Kematian massal bulu babi di beberapa negara menimbulkan kekhawatiran ilmuwan. Bahkan, di sejumlah tempat makhluk laut yang dulunya menutupi bebatuan tersebut kini benar-benar menghilang, bukan sekadar berkurang jumlahnya.
Dikutip dari Earth pada Jumat (30/1), secara ekologis, bulu babi laut memegang peran penting meski jarang diperhatikan. Mereka berfungsi sebagai penggembala alga alami di dasar laut.
Dengan memakan alga yang tumbuh di bebatuan dan terumbu, bulu babi menjaga agar alga tidak mendominasi dan menutup cahaya matahari yang dibutuhkan organisme lain.
Ketika bulu babi laut menghilang, alga dapat tumbuh dengan sangat cepat dan tak terkendali. Kondisi ini membuat karang kesulitan bertahan hidup dan merusak habitat ikan. Dampaknya merambat ke seluruh rantai makanan laut, menjadikan hilangnya bulu babi sebagai pemicu perubahan ekosistem yang luas.
Kepulauan Canary di lepas pantai barat laut Afrika kini menjadi contoh paling mengkhawatirkan dari krisis ini. Data terbaru menunjukkan bahwa kawasan tersebut mungkin sedang menyaksikan sesuatu yang jarang terdokumentasi secara langsung, yakni kepunahan lokal bulu babi laut.
Masalah serupa sebenarnya pernah terjadi sebelumnya. Pada awal 1980-an, kawasan Karibia mengalami kematian massal bulu babi laut yang menyebabkan kerusakan terumbu karang jangka panjang. Hingga kini, banyak terumbu di wilayah tersebut tidak pernah pulih sepenuhnya.
Yang membuat kasus Kepulauan Canary berbeda bukan hanya hilangnya bulu babi dewasa, tetapi juga ketiadaan individu muda. Tidak ditemukannya generasi baru menandakan bahwa proses pemulihan alami hampir mustahil terjadi dalam waktu dekat.
Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Omri Bronstein dari Tel Aviv University bersama tim internasional dari Spanyol dan Kepulauan Canary. Fokus utama mereka adalah genus Diadema, bulu babi hitam berduri panjang yang umum dijumpai di perairan berbatu dan terumbu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Diadema di Kepulauan Canary tidak lagi mampu menghasilkan keturunan. Temuan ini sangat krusial karena menandakan populasi tersebut telah melewati ambang kritis, bukan sekadar mengalami penurunan sementara.
Tim peneliti menggabungkan berbagai sumber data, mulai dari laporan sains warga, survei bawah laut, citra satelit, hingga sampel langsung dari dasar laut. Gabungan data ini mengungkap adanya peristiwa kematian massal yang terjadi pada pertengahan 2022 dan luput dari perhatian global saat itu.
Profesor Bronstein menjelaskan bahwa pada 1983–1984, kematian massal Diadema di Karibia telah mengubah ekosistem laut secara drastis. Hilangnya pemakan alga utama menyebabkan ledakan alga yang menutupi terumbu dan memicu kerusakan ekologis yang parah dan sulit dipulihkan.
Peristiwa serupa kembali terjadi di Karibia pada 2022, dan untuk pertama kalinya patogen penyebab penyakit mematikan tersebut berhasil diidentifikasi. Penyakit ini kemudian menyebar ke Laut Merah pada 2023, dan pada 2024 terdeteksi di Samudra Hindia bagian barat, dekat Pulau Reunion.
Kematian massal di Kepulauan Canary diduga menjadi mata rantai penting yang menghubungkan wabah lintas samudra ini. Artinya, penyakit tersebut mampu menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada yang sebelumnya diperkirakan para ilmuwan.
Secara biologis, bulu babi laut bergantung pada jumlah besar untuk bereproduksi. Mereka melepaskan sperma dan telur ke air laut, lalu pembuahan terjadi secara acak. Larva yang terbentuk melayang sebagai plankton selama beberapa hari hingga minggu sebelum menetap di dasar laut dan tumbuh menjadi individu muda, proses yang dikenal sebagai rekrutmen.
Dalam studi ini, para peneliti menemukan bahwa tidak ada regenerasi bulu babi baru di beberapa pulau Canary. Hal ini menunjukkan bahwa kematian bulu babi dewasa begitu luas hingga populasi tidak lagi mampu menghasilkan generasi penerus.
Tanpa regenerasi, hanya tinggal menghitung waktu. Bulu babi dewasa yang tersisa akan menua dan mati, sementara tidak ada individu muda yang menggantikan. Situasi ini membuat kepunahan lokal semakin dekat.
Jika pola serupa terjadi di wilayah lain seperti pesisir Laut Merah atau Teluk Eilat, dampaknya bisa sangat luas. Alga yang mendominasi akan sulit dikendalikan, dan kerusakan ekosistem laut bisa berlangsung sangat lama.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Frontiers.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kematian bulu babi ekosistem laut terganggu wabah laut global
















