Ilustrasi berpelukan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Berpelukan tidak hanya menjadi ekspresi untuk menunjukkan kasih sayang. Dalam studi baru, orang dewasa yang rutin berpelukan setiap hari cenderung memiliki tingkat depresi, kecemasan, dan pikiran bunuh diri yang lebih rendah.
Penelitian ini menarik karena memperlakukan sentuhan fisik sebagai faktor yang dapat diukur secara ilmiah dalam kesejahteraan emosional, bukan sekadar latar belakang kehidupan sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi pelukan berkaitan erat dengan kondisi kesehatan mental seseorang.
Dikutip dari Earth pada Jumat (30/1), studi tersebut dilakukan di Jerman dengan melibatkan ribuan responden dewasa. Pola kesehatan mental yang muncul ternyata sangat sejalan dengan seberapa sering seseorang melaporkan berpelukan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini dipimpin oleh Andre Hajek dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf (UKE).
Hasil paling kuat terlihat pada kelompok yang berpelukan dengan satu hingga tiga orang setiap hari. Di luar rentang tersebut, manfaatnya justru menurun, menandakan bahwa semakin banyak pelukan tidak selalu berarti semakin besar perlindungan bagi kesehatan mental.
Dalam survei yang melibatkan 3.270 orang dewasa berusia 18 hingga 74 tahun, peneliti membandingkan kebiasaan berpelukan harian dengan hasil skrining kesehatan mental.
Sekitar seperempat responden mengaku tidak berpelukan dengan siapapun setiap hari, sementara 38 persen berpelukan dengan satu orang, dan 31 persen dengan dua hingga tiga orang.
Kelompok yang berpelukan dengan satu orang per hari menunjukkan risiko depresi yang lebih rendah, dengan rasio odds sebesar 0,65 dibandingkan mereka yang tidak berpelukan sama sekali. Pola serupa juga terlihat pada kecemasan dan pikiran bunuh diri, masing-masing dengan rasio odds 0,73 dan 0,66.
Manfaat terkuat muncul pada responden yang berpelukan dengan dua atau tiga orang setiap hari. Sementara itu, mereka yang berpelukan dengan empat orang atau lebih hanya menunjukkan kaitan yang konsisten dengan depresi, tetapi tidak dengan kecemasan atau pikiran bunuh diri. Perlu dicatat, kelompok terakhir ini hanya mencakup sekitar enam persen responden.
Untuk menilai kondisi mental, peneliti menggunakan instrumen skrining standar. Gejala depresi diukur dengan Patient Health Questionnaire-9, kecemasan dengan Generalized Anxiety Disorder-7, serta satu pertanyaan khusus untuk menangkap adanya pikiran bunuh diri dalam dua minggu terakhir.
Secara biologis, sentuhan fisik diketahui dapat memberi sinyal rasa aman ke otak melalui tekanan dan kehangatan. Sejumlah studi laboratorium sebelumnya menunjukkan bahwa pelukan dapat menurunkan kadar kortisol, hormon stres utama dalam tubuh, yang berperan dalam respons jantung dan sistem kekebalan.
Penurunan kortisol biasanya mencerminkan kondisi internal yang lebih tenang. Meski tidak membuktikan bahwa pelukan mencegah penyakit, mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa sentuhan fisik sering menghadirkan rasa lega dan aman dalam waktu singkat.
Dalam studi terbaru ini, manfaat paling jelas muncul pada pelukan dengan lingkaran sosial yang kecil dan stabil. Hal ini diduga mencerminkan hubungan yang lebih dekat dan konsisten, di mana pelukan datang dari orang-orang yang berbagi kehidupan sehari-hari dan memberikan dukungan emosional nyata.
Sebaliknya, pelukan yang terlalu sering bisa memiliki makna berbeda. Andre Hajek mencatat bahwa dalam beberapa konteks, pelukan mungkin lebih bersifat formal atau bagian dari tuntutan sosial dan pekerjaan, bukan ekspresi kedekatan emosional. Dalam situasi seperti itu, nilai emosional pelukan bisa berkurang.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan penting. Karena bersifat potong lintang, studi ini tidak dapat memastikan sebab-akibat. Bisa saja orang yang mengalami depresi atau kecemasan cenderung menghindari kontak fisik, sehingga jumlah pelukan berkurang sebagai akibat, bukan penyebab.
Selain itu, survei tidak menangkap konteks pelukan, seperti siapa yang memulai atau apakah pelukan tersebut diinginkan. Faktor tersembunyi seperti kondisi kesehatan, situasi tempat tinggal, atau norma budaya juga dapat memengaruhi hasil.
Para peneliti menekankan bahwa pelukan bukanlah pengganti terapi, obat-obatan, atau bantuan profesional ketika masalah kesehatan mental sudah berat. Namun, temuan ini mengingatkan bahwa koneksi sehari-hari, termasuk sentuhan fisik yang disepakati, berperan dalam menjaga keseimbangan emosional.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Public Health (Berl.).
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
manfaat pelukan harian kesehatan mental dewasa sentuhan dan stres





















