Jum'at, 30/01/2026 09:01 WIB

Konsep Mukjizat dalam Islam yang Sering Disalahpahami





Istilah mukjizat kerap digunakan secara longgar dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi - mukjizat Nabi Musa AS (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Istilah mukjizat kerap digunakan secara longgar dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang menyebut peristiwa kebetulan, kemampuan supranatural, hingga kesaktian seseorang sebagai mukjizat.

Padahal, dalam ajaran Islam, konsep mukjizat memiliki makna yang sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan kejadian luar biasa pada umumnya. Kesalahpahaman ini penting diluruskan agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam akidah.

Secara bahasa, mukjizat berasal dari kata a‘jaza yang berarti melemahkan atau membuat tidak mampu. Secara istilah, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang Allah SWT tampakkan melalui seorang nabi atau rasul sebagai bukti kebenaran risalahnya, sekaligus untuk melemahkan tantangan orang-orang yang mengingkarinya. Mukjizat tidak lahir dari kemampuan manusia, melainkan murni kehendak Allah.

Al-Qur`an menegaskan bahwa mukjizat hanya diberikan kepada para nabi dan rasul. Dalam Surah Al-Isra ayat 90–93, Allah SWT mengabadikan permintaan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad SAW agar mendatangkan mukjizat sesuai keinginan mereka, lalu Allah menegaskan bahwa mukjizat bukan berada di tangan manusia. Firman Allah SWT:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّى هَلْ كُنتُ إِلَّا بَشَرًا رَّسُولًا

“Katakanlah, Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Al-Isra: 93)

Ayat ini menegaskan bahwa mukjizat tidak dapat diminta atau diatur sesuka hati, karena sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap karamah wali sebagai mukjizat. Dalam Islam, karamah memang diakui sebagai kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh, namun karamah berbeda dengan mukjizat.

Mukjizat hanya khusus bagi nabi dan rasul, sementara karamah tidak bertujuan menantang atau membuktikan kenabian, melainkan sebagai bentuk kemuliaan dari Allah bagi hamba-Nya yang bertakwa.

Kesalahan lain yang kerap muncul adalah menyamakan ilmu sihir, kesaktian, atau kemampuan paranormal dengan mukjizat. Padahal, Islam dengan tegas membedakan antara mukjizat dan sihir.

Mukjizat bersumber dari Allah dan tidak dapat dipelajari, sedangkan sihir berasal dari persekutuan dengan setan dan jin. Al-Qur`an secara tegas mengecam praktik sihir, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 102:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُوا۟ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحْرَ

“Dan Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Ayat ini menegaskan bahwa sihir bukanlah bentuk keistimewaan ilahi, melainkan penyimpangan yang justru dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kekafiran.

Mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW juga sering disalahpahami. Sebagian orang mengira mukjizat Nabi hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa fisik seperti Isra Mikraj atau terbelahnya bulan. Padahal, para ulama sepakat bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an. Keagungan bahasa, kandungan makna, serta konsistensi ajarannya sepanjang zaman menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin berasal dari manusia. Allah SWT berfirman:

قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ

“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya.” (QS. Al-Isra: 88)

Ayat ini menunjukkan bahwa mukjizat Al-Qur’an bersifat abadi dan dapat dirasakan oleh setiap generasi, berbeda dengan mukjizat fisik yang hanya disaksikan oleh umat pada masa tertentu.

Dengan memahami konsep mukjizat secara benar, umat Islam diharapkan tidak mudah terjebak pada klaim-klaim kesaktian atau fenomena gaib yang tidak memiliki dasar syariat.

Mukjizat bukanlah alat hiburan, bukan pula simbol kesaktian manusia, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang menguatkan kebenaran risalah para nabi. Pemahaman yang lurus tentang mukjizat akan menjaga akidah tetap kokoh dan terhindar dari praktik-praktik yang menyesatkan.

KEYWORD :

Info Keislaman Konsep Mukjizat kitab Al-Qur`an Ajaran Islam




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :