Kamis, 29/01/2026 18:15 WIB

Studi: Obesitas dan Hipertensi Penyebab Langsung Demensia





Obesitas dan hipertensi secara diam-diam membentuk kesehatan otak selama bertahun-tahun sebelum gejala gangguan ingatan muncul.

Ilustrasi demensia pada wanita lansia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Ingatan memegang peran penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kemampuan belajar, merencanakan sesuatu, hingga mengambil keputusan.

Kesehatan otak sering dikaitkan dengan faktor usia, tetapi semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kondisi otak di usia lanjut sangat dipengaruhi oleh pilihan dan kondisi kesehatan yang terbentuk jauh sebelumnya.

Dikutip dari Earth pada Kamis (29/1), penelitian menunjukkan bahwa berat badan dan tekanan darah dapat secara diam-diam membentuk kesehatan otak selama bertahun-tahun sebelum gejala gangguan ingatan muncul.

Temuan ini menyoroti bahwa risiko demensia tidak muncul tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan seiring proses metabolik dan vaskular dalam tubuh.

Para ilmuwan menemukan bukti kuat bahwa obesitas dan tekanan darah tinggi bukan sekadar faktor risiko, melainkan penyebab langsung demensia, terutama jenis demensia yang berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah di otak.

Artinya, kondisi fisik ini berperan aktif dalam memicu proses penyakit, bukan hanya beriringan secara kebetulan.

Demensia sendiri merupakan istilah umum untuk sekumpulan gangguan yang secara bertahap merusak sel-sel otak. Penyakit Alzheimer adalah bentuk yang paling dikenal, tetapi demensia vaskular juga menyumbang porsi besar kasus, terutama pada populasi dengan riwayat masalah kardiovaskular.

Pada demensia vaskular, aliran darah ke jaringan otak terganggu. Pasokan oksigen dan nutrisi yang tidak memadai membuat sel-sel otak melemah dan mengalami kerusakan permanen. Seiring waktu, kerusakan ini menumpuk dan mulai memengaruhi fungsi kognitif secara nyata.

Dampaknya muncul dalam bentuk penurunan daya ingat, kesulitan berpikir jernih, gangguan bahasa, hingga ketidakmampuan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mengelola keuangan atau mengikuti percakapan.

Pada tahap lanjut, penderita kehilangan kemandirian, sementara hingga kini belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan demensia, sehingga pencegahan menjadi sangat krusial.

Hubungan antara obesitas dan demensia sebenarnya sudah lama diteliti, namun hasilnya sering tidak konsisten. Sebagian studi menemukan kaitan yang kuat, sementara penelitian lain menunjukkan hasil yang lemah atau tidak signifikan.

Salah satu penyebab kebingungan ini adalah fakta bahwa berat badan sering menurun pada fase awal demensia, sehingga sulit membedakan mana sebab dan mana akibat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan berbasis genetika. Berbeda dengan faktor gaya hidup, sifat genetik bersifat tetap sejak lahir sehingga dapat digunakan untuk menguji hubungan sebab-akibat secara lebih akurat, tanpa bias akibat perubahan perilaku atau kondisi sosial.

Dalam studi ini, para ilmuwan menerapkan metode yang dikenal sebagai Mendelian randomization. Teknik ini memanfaatkan variasi gen yang terkait dengan indeks massa tubuh (BMI) sebagai eksperimen alami, karena gen diwariskan secara acak dari orang tua ke anak, menyerupai prinsip uji klinis acak.

Hasil analisis data populasi besar dari Denmark dan Inggris menunjukkan bahwa individu dengan predisposisi genetik terhadap BMI tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami demensia terkait pembuluh darah. Hubungan tersebut bersifat linier, artinya semakin tinggi BMI, semakin besar pula risiko demensia yang muncul di kemudian hari.

Peneliti juga menemukan bahwa tekanan darah memainkan peran kunci dalam hubungan ini. Berat badan berlebih cenderung meningkatkan tekanan darah, dan tekanan darah tinggi secara langsung merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk jaringan pembuluh darah halus di otak.

Kerusakan ini dapat memicu stroke kecil yang sering tidak disadari, serta area mikrokerusakan yang perlahan menumpuk. Dalam jangka panjang, jaringan otak menyusut dan kehilangan fungsinya. Studi ini menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolik menjelaskan sebagian besar risiko demensia yang terkait dengan obesitas.

Faktor metabolik lain seperti kolesterol, kadar gula darah, dan peradangan memang turut berkontribusi, tetapi pengaruhnya jauh lebih lemah dibandingkan tekanan darah. Dengan kata lain, tekanan darah muncul sebagai penghubung terkuat antara obesitas dan kerusakan otak.

Waktu intervensi juga menjadi sorotan penting. Uji coba obat penurun berat badan pada pasien Alzheimer tahap awal tidak menunjukkan manfaat yang jelas, kemungkinan karena kerusakan otak sudah terlalu jauh. Temuan ini mengindikasikan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan jauh sebelum gejala kognitif muncul.

Masa dewasa awal dan usia paruh baya dianggap sebagai periode kritis. Mengendalikan berat badan dan tekanan darah pada fase ini berpotensi melindungi kesehatan otak puluhan tahun kemudian. Strategi pencegahan menjadi jauh lebih efektif jika diterapkan sebelum proses degeneratif dimulai.

Selain itu, berbagai penelitian mendukung peran aktivitas fisik sebagai faktor pelindung. Olahraga teratur membantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki aliran darah ke otak, dan menjaga fungsi sel saraf.

Program gaya hidup yang menggabungkan pola makan sehat, aktivitas fisik, latihan kognitif, serta pemantauan tekanan darah terbukti membantu menjaga ketajaman mental lebih lama.

Keseluruhan temuan ini menegaskan bahwa obesitas dan tekanan darah tinggi bukan sekadar sinyal peringatan, melainkan target nyata untuk pencegahan demensia. Menjaga kesehatan metabolik sejak dini bukan hanya soal jantung atau penampilan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan otak.

Studi ini dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Endocrinology.

KEYWORD :

obesitas dan demensia tekanan darah tinggi kesehatan otak jangka panjang penyebab demensia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :